Meski Sederhana, Ini Manfaat Mengucapkan Terima Kasih

Seringkali, ucapan terima kasih dianggap sebagai hal yang sepele. Padahal, tahukah Anda, ada banyak manfaat mengucapkan terima kasih bagi diri Anda dan orang lain?

Ucapan terima kasih, bila disampaikan dengan tulus dan ikhlas, akan meningkatkan kestabilan kesehatan mental. Karena itu, sebaiknya pahami pentingnya mengucapkan terima kasih dan jangan menyepelekannya.

Apa saja manfaat mengucapkan terima kasih?

Ada beberapa manfaat mengucapkan terima kasih yang telah terbukti secara ilmiah. Beberapa manfaat tersebut berupa:

  • Meningkatkan kesehatan psikologis

Ketika Anda terbiasa untuk mengucapkan terima kasih, secara tidak langsung Anda juga sedang membiasakan diri untuk bersyukur. Rasa syukur bisa membantu untuk mengurangi emosi-emosi negatif, seperti iri hati, kebencian, amarah, dan lain sebagainya.

Hal ini telah dibuktikan melalui penelitian Robert Emmons, seorang peneliti yang banyak melakukan penelitian terhadap hubungan antara rasa syukur dengan kesejahteraan.

Karena rasa syukur bisa mengurangi emosi-emosi negatif, maka Anda pun akan lebih mudah merasa bahagia serta terhindar dari depresi.

  • Meningkatkan kualitas tidur

Seringkali, kualitas tidur yang buruk dipengaruhi juga oleh kondisi emosional yang tidak baik. Ketika Anda sering berterima kasih, kondisi emosional Anda pun menjadi lebih stabil, sehingga Anda bisa tidur dengan lebih nyenyak.

Menurut penelitian, salah satu cara meningkatkan kualitas tidur adalah dengan membuat gratitude journal atau jurnal syukur. Anda bisa menuliskan rasa syukur Anda setiap hari di jurnal tersebut.

Cara melakukannya sangat mudah. Anda hanya perlu meluangkan waktu sekitar 15 menit setiap hari untuk menuliskan apa saja hal yang Anda syukuri setiap sebelum tidur. 

  • Membangun hubungan yang lebih baik

Manfaat mengucapkan terima kasih lainnya adalah peluang untuk memperbaiki hubungan dengan orang lain. Ketika mengucapkan terima kasih, orang lain yang menerima ucapan tersebut akan merasa lebih senang. 

Karena itu, hubungan Anda dengan orang tersebut pun akan menjadi lebih baik. Bukan hanya pada orang-orang yang sudah Anda kenal, tetapi juga bisa pada orang-orang yang baru akan Anda kenal.

Penelitian telah membuktikan bahwa berterima kasih pada orang baru memberikan peluang lebih besar untuk menjalin hubungan lebih dalam bersama orang tersebut. 

  • Meningkatkan kesehatan fisik

Percaya atau tidak, bukan hanya kesehatan mental, kesehatan fisik Anda pun akan ikut terjaga dengan sering berterima kasih. Orang yang sering mengucap syukur lebih jarang mengalami rasa sakit.

Selain itu, orang yang sering bersyukur juga memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap kesehatan, jadi mereka pun menjaga kesehatan mereka. Hal ini sudah dibuktikan melalui sejumlah penelitian. 

Orang-orang yang jarang bersyukur biasanya jarang berolahraga dan tidak melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

  • Menjadi lebih bijak

Sadarkah Anda, rutin berterima kasih bisa membuat Anda menjadi lebih bijak? Ketika dihadapkan dengan situasi sulit, Anda bisa menerimanya dengan lapang dada. Hal ini juga membuat Anda menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan penting.

Tidak hanya itu, penelitian telah membuktikan bahwa manfaat mengucapkan terima kasih juga membuat tekanan darah serta level hormon pemicu stres Anda menjadi lebih rendah. 

Karena rendahnya kadar level hormon ini, Anda pun menjadi tidak mudah stres dan tetap dapat berpikir jernih di tengah situasi mendesak sekalipun.

Itulah beberapa manfaat mengucapkan terima kasih yang bisa Anda rasakan. Karena banyaknya manfaat berterima kasih bagi kesehatan, maka biasakanlah untuk lebih sering mengucap syukur dari sekarang.

Miliki Tanda-tanda Ini? Temui Dokter Psikolog

Kesehatan bukan hanya mengarah ke fisik Anda, melainkan juga ke mental. Tentunya untuk bisa menyehatkan mental yang sakit, Anda memerlukan bantuan dokter dengan spesialisasi yang tepat. Dokter psikolog adalah jawaban bagi Anda yang tengah bingung mencari bantuan untuk mengatasi berbagai masalah yang mengganggu dan membuat mental Anda tidak nyaman. 

Dokter psikolog bisa menangani berbagai macam kondisi yang mempengaruhi mental Anda. Mulai dari depresi, gangguan kecemasan, sampai perilaku dan pengembangan perilaku sosial seseorang bisa ditinjau dan diperbaiki dengan terapi yang tepat dari dokter yang satu ini. 

Namun sayangnya, banyak orang yang masih bingung dan tidak menyadari kapan waktu yang tepat untuk bisa datang ke dokter psikolog. Ujung-ujungnya, konsultasi baru dilakukan ketika kondisi mental sudah rusak parah. Karena itu, menjadi penting untuk memahami tanda-tanda yang membuat Anda mesti pergi menemui psikolog. Jika menemui gejala-gejala di bawah ini, jangan ragu lagi untuk pergi ke rumah sakit dan mendaftarkan diri untuk berkonsultasi dengan psikolog. 

  1. Lelah Terus-Menerus 

Kelelahan sebenarnya ada sebabnya. Umumnya kondisi ini terjadi ketika Anda terlalu banyak beraktivitas dan bisa segera menghilang ketika Anda telah beristirahat. Anda patut curiga apabila mengalami rasa lelah yang terus-menerus dan tidak menghilang, meskipun sudah cukup beristirahat. Bisa jadi lelah yang Anda rasakan merupakan gejala gangguan mental. Pasalnya, gangguan kecemasan awalnya ditandai dengan rasa lelah yang tidak beralasan dan tidak berkesudahan. 

  1. Gangguan Tidur

Tidak ada salahnya membuat janji untuk bertemu dan berkonsultasi dengan dokter psikolog apabila lebih dari 2 minggu ini Anda mengalami gangguan tidur. Gangguan tidur yang umum terjadi adalah insomnia. Gejala ini tidak bisa menjadi tanda Anda tengah bergulat dengan pikiran yang berat baik secara sadar ataupun tidak. Jika dibiarkan terus-menerus, insomnia bisa merusak fisik Anda karena berpotensi merusak berbagai organ vital tubuh dan membuat Anda mengalami penyakit serius. 

  1. Emosi Liar 

Meluapkan emosi ataupun perasaan sebenarnya merupakan hal normal. Namun, akan menjadi tidak normal apabila Anda tidak mampu mengendalikan luapan emosi dan perasaan Anda. Ciri-ciri dari emosi liar yang tidak mampu dikendalikan adalah Anda akan menjadi mudah marah, sedih, dan dalam seketika bisa jadi menjadi riang kembali. Berhati-hatilah, banyak gangguan mental yang memiliki gejala emosi liar ini, mulai dari depresi sampai bipolar. 

  1. Sulit Fokus 

Apakah akhir-akhir ini Anda kerap merasa mudah bingung? Apakah belakangan pekerjaan Anda menjadi berantakan karena Anda sulit berkonsentrasi dan fokus mengerjakan kewajiban Anda? Cobalah temui dokter psikolog. Pasalnya, sulit fokus dan berkonsentrasi dapat menjadi tanda adanya masalah pada mental Anda. 

  1. Perubahan Berat Badan 

Ada batas normal perubahan berat badan seseorang dalam sebulan. Dalam dunia kesehatan, batas normal perubahan badan adalah 5 persen dalam sebulan. Jika berat badan Anda naik atau turun lebih dari persentase tersebut, artinya Anda mengalami perubahan berat badan ekstrem yang bisa menunjukkan adanya gangguan secara fisik ataupun mental. Jika pengecekan fisik sudah dilakukan dan terbukti tidak ada masalah, cobalah mengecek juga kesehatan mental Anda ke dokter psikolog. Pasalnya, bisa jadi perubahan berat badan ekstrem tersebut bersumber pada mental Anda yang bermasalah. 

  1. Nyeri Tanpa Alasan 

Nyeri pada tubuh umummya disebabkan oleh peradangan yang terjadi bagian tertentu. Cobalah cek apakah ada masalah peradangan tersebut pada tubuh Anda. Apabila tidak ada, artinya nyeri yang Anda alami adalah nyeri tanpa alasan yang kerap bersumber dari gangguan mental. Temuilah psikolog yang tepat untuk mengatasi masalah mental tersebut sekaligus menghilangkan nyeri yang Anda alami. 

*** 

Jangan tunggu sampai mental Anda mengalami gangguan parah hingga kerusakan baru menemui dokter psikolog. Jika Anda atau kenalan menunjukkan tanda-tanda di atas, segeralah cari dan buat janji dengan dokter psikolog yang terpercaya.

Gangguan Skizoafektif dan Skizofrenia, Apa Bedanya?

Mungkin bagi beberapa orang gangguan mental skizofrenia tidak terlalu asing lagi. Namun, bagaimana dengan gangguan skizoafektif, apakah Anda mengetahuinya? Skizoafektif adalah suatu kondisi yang membuat Anda merasa terlepas dari kenyataan dan dapat memengaruhi suasana hati Anda. 

Lalu, apakah kedua gangguan tersebut sama? Dan, jika bukan apa yang membedakan antara skizofrenia dan skizoafektif itu sendiri? Berikut penjelasan lengkap tentang kedua gangguan mental tersebut. 

Perbedaan gangguan skizoafektif dan skizofrenia

Gangguan skizoafektif sebenarnya adalah salah satu dari empat jenis utama dari skizofrenia. Ini adalah gangguan suasana hati sekaligus gangguan pikiran. Namun, masalah mood adalah hal yang paling utama. 

  1. Gangguan skizoafektif

Adalah kondisi kesehatan mental di mana seseorang mengalami gejala psikotik skizofrenia, seperti delusi, halusinasi, pemikiran tidak teratur, atau perasaan datar, bersamaan dengan gangguan suasana hati, seperti depresi dan atau mania. 

Ada dua gangguan skizoafektif:

  • Tipe bipolar: Ditandai dengan episode mania dan depresi berat 
  • Tipe depresi: Ditandai dengan episode depresi berat tanpa mania
  1. Skizofrenia

Skizofrenia adalah kondisi kesehatan mental yang menyebabkan gejala psikotik parah yang mengganggu kemampuan berhubungan dengan orang lain, berpikir jernih, menjaga diri sendiri, menahan pekerjaan, atau bahkan bersentuhan dengan kenyataan. 

Orang dengan gangguan tersebut biasanya merasa sulit untuk berinteraksi dengan orang lain karena gejala psikotiknya. Selain gejala psikotik, seperti halusinasi dan delusi, penderita skizofrenia sering kali menunjukkan cara bicara yang tidak koheren dan berprilaku tidak teratur. 

Mereka umumnya menunjukkan pengaruh datar (tidak menunjukkan banyak emosi) dan cenderung berbicara jauh lebih sedikit daripada orang kebanyakan. Seringkali, penderita skizofrenia memiliki keluangan dalam hal perhatian, ingatan, kemampuan untuk memproses informasi baru, dan kesulitan dalam pemecahan masalah. 

Perbedaan Gejala

Perbedaan gejala yang halus dapat membantu membedakan kedua kelainan tersebut. Misalnya, orang yang menderita skizofrenia dapat menjadi depresi atau manik, tetapi gejala gangguan suasana hati ini bukan bagian yang menonjol atau terus menerus dari kondisi mereka. Perjalanan waktu, prognosis, dan pengobatan juga berbeda dalam beberapa hal kecil. 

Skizofrenia

  • Gejala dimulai pada awal usia 20-an
  • Halusinasi, delusi, pemikiran tidak teratur, pengaruh datar
  • Gejala psikotik kronis dan persisten

Gangguan skizoafektif

  • Gejala dimulai di awal usia 20-an 
  • Halusinasi, delusi, pemikiran tidak teratur, pengaruh datar bersama dengan gangguan mood (depresi atau mania)
  • Episode gejala psikotik

Suasana hati Vs gejala psikotik

Pada skizofrenia, gejala suasana hati tidak diharapkan terjadi tanpa gejala spikotik. Gejala psikotik hampir selalu ada, tetapi gejala suasana hati datang dan pergi. 

Pada gangguan skizoafektif, gejala psikotik mungkin ada atau mungkin tidak ada pada saat seseorang mengalami depresi atau mania. Konon, diagnosis gangguan skizoafektif mengharuskan gejala psikotik muncul dalam waktu yang cukup lama (setidaknya beberapa minggu) ketika seseorang tidak mengalami gejala suasana hati yang serius. 

Durasi gejala 

Gejala psikotik skizofrenia cenderung mentap, sedangkan gangguan skizoafektif cenderung datang dan pergi. Dalam perjalanan penyakitnya, kebanyakan orang yang didiagnosis dengan skizofrenia memiliki perjalanan penyakit kronis dan persisten. 

Di sisi lain, kebanyakan orang yang didiagnosis dengan gangguan skizoafketif mengalami episode gejala tetapi lebih cenderung memiliki interval bebas gejala daripada orang yang menderita skizofrenia. Namun, ini bukanlah aluran yang keras dan cepat, pada beberapa orang yang terjadi justru sebaliknya. 

Pengobatan 

Dokter sering kali mengobati skizofrenia dengan obat antipsikotopik yang membantu mengatasi delusi dan halusinasi. Ini mungkin antipsikotik lama, seperi klorpromazin (Thorazine) atau haloperidol (Haldol), atau antipsikotik yang lebih baru, seperti olanzapine (Zyprexa) atau risperidone (Risperdal). 

Sedangkan orang dengan gangguan askizoafektif sering kali memperbaiki antipsikotik juga. Tetapi dokter Anda mungkin juga akan meresepkan penstabil suasana hati, seperti lithium (Eskalith), untuk mengelola gejala suasana hati Anda. Tanpa pengobatan, baik skizofrenia atau pun gangguan skizoafektif dapat menyebabkan Anda kesulitan di sekolah, tempat kerja atau di acara sosial lainnya. gejala psikotik dari kedua gangguan tersebut serta gejala gangguan mood dari gangguan skizoafekif, mungkin membuat Anda ingin menarik diri dari kehidupan sehari-hari. Jadi, pastikan untuk tetap mendapatkan perawatan dari dokter Anda. 

Penyebab dan Gejala Orang Menderita Mental Illness

Perasaan bersalah terus-menerus, bisa menandakan mental illness.

Gangguan jiwa atau gangguan mental merupakan penyakit yang berfokus dan memengaruhi emosi, pola pikir dan perilaku penderita. Kondisi ini sama dengan penyakit fisik, bukan tidak mungkin untuk bisa disembuhkan. Keadaan yang populer disebut mental illness ini juga memiliki obat yang berfungsi sebagai penyembuh.

Khusus di Indonesia, penderita penyakit atau gangguan ini sangat identik dengan sebutan orang gila atau sakit jiwa. Biasanya orang dengan kondisi demikian sering mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain atau masyarakat sekitar. Tidak jarang orang sakit jiwa berakhir dengan pasung, padahal kondisi ini sangat mungkin bisa disembuhkan dengan diberi pengobatan.

Gejala Mental Illness

Beberapa gangguan yang umum terjadi meliputi depresi klinis atau dikenal sebagai depresi, gangguan bipolar, kecemasan, gangguan stres pasca-trauma (PTSD), gangguan obsesif kompulsif (OCD) dan psikosis. Namun, beberapa penyakit mental hanya terjadi pada jenis pasien tertentu seperti postpartum depression, selebihnya berikut ini beberapa gejala gangguan tersebut.

  • Delusi, disebut juga waham merupakan keyakinan akan sesuatu yang tidak nyata dan tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya.
  • Halusinasi, merupakan sensasi ketika seseorang melihat, mendengar dan merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak nyata.
  • Suasana hati kerap berubah-ubah dalam masa atau periode tertentu, seperti perasaan sedih yang berlangsung berminggu hingga berbulan.
  • Muncul rasa cemas dan takut secara berlebihan serta terus menerus, hingga kondisi ini mengganggu aktivitas sehari-hari seseorang.
  • Gangguan makan, merasa takut akan berat badan bertambah, cenderung memuntahkan makanan dan makan dalam jumlah banyak.
  • Terjadinya perubahan pola tidur, kaki gelisah saat tidur, mudah mengantuk dan tertidur, sulit tidur serta mengalami gangguan pernapasan.
  • Ketergantungan terhadap nikotin, alkohol dan penyalahgunaan NAPZA disertai marah berlebihan hingga mengamuk sampai melakukan tindak kekerasan.
  • Munculnya perilaku tidak wajar, seperti teriak tidak jelas, berbicara dan tertawa sendiri hingga keluar rumah dalam keadaan telanjang.

Penyebab Gangguan Mental

Kesehatan mental bisa dipengaruhi oleh peristiwa dalam kehidupan yang memberi atau meninggalkan dampak besar pada kepribadian dan perilaku seseorang tersebut. Peristiwa yang muncul bisa seperti kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan anak atau stres dalam jangka waktu yang cukup panjang, berikut ini beberapa penyebab gangguan mental yang lain.

  • Faktor generik.
  • Kelainan otak.
  • Cedera kepala.
  • Isolasi sosial atau kesepian.
  • Pengangguran atau seseorang yang kehilangan pekerjaan.
  • Kerugian sosial, kemiskinan atau terlilit hutang.
  • Mengalami diskriminasi dan stigma.
  • Kematian seseorang yang dekat dengan orang tersebut.
  • Tunawisma atau berada dalam lingkungan perumahan yang buruk.
  • Merawat anggota keluarga atau teman.

Pengobatan Gangguan Mental

Perawatan dan pengobatan yang tepat bisa membuat banyak orang dengan penyakit mental bisa sembuh dengan tidak memerlukan waktu lama. Meskipun beberapa orang tertentu membutuhkan waktu sedikit lama untuk bisa pulih, perlu diketahui siapa saja yang berisiko terkena penyakit gangguan mental ini.

Perempuan dapat berisiko tinggi terkena penyakit mental seperti depresi dan kecemasan, sementara itu laki-laki akan cenderung memiliki ketergantungan terhadap zat dan antisosial ketimbang perempuan. Mental illness juga bisa menyerang orang yang dilahirkan dengan kelainan pada otak dan anggota keluarga memiliki riwayat demikian.

Segera lakukan konsultasi dengan dokter spesialis kesehatan jiwa atau psikiater jika mengetahui seseorang atau mengalami sendiri beberapa gejala yang ada di atas. Khususnya, apabila beberapa gejala yang ada muncul secara bersamaan dan mengganggu aktivitas sehari-hari seseorang tersebut, selain itu jangan pernah abaikan orang yang terkena penyakit ini.

Benarkah Bermain TikTok Akan Menyebabkan TikTok Syndrome?

belum ada penelitian yang menyebutkan bahwa TikTok syndrome merupakan kondisi dari suatu penyakit tertentu

Belum lama ini, media sosial sempat diramaikan oleh pernyataan seorang pengguna yang mengaku mengalami TikTok syndrome. Kondisi itu diakui mulai terjadi karena kebiasaan bermain media sosial TikTok terus menerus. Sebenarnya, benarkah kebiasaan itu akan menyebabkan TikTok syndrome? 

Bukan TikTok syndrome melainkan kecanduan bermedia sosial

Secara medis, belum ada penelitian yang menyebutkan bahwa TikTok syndrome merupakan kondisi dari suatu penyakit tertentu. Akan tetapi, dorongan untuk menggunakan media sosial terus menerus, termasuk TikTok, bisa saja menyebabkan seseorang mengalami kecanduan bermedia sosial. 

Kecanduan media sosial merupakan kondisi saat seseorang memiliki dorongan yang sangat tinggi untuk terus menggunakan media sosial, bahkan sampai mengganggu kegiatan sehari-harinya. Kondisi ini akan menyebabkan gejala yang serupa dengan orang yang kecanduan zat adiktif. 

Seseorang yang mengalami kecanduan media sosial akan mengalami perubahan suasana hati secara drastis, perasaan tidak nyaman saat berhenti menggunakan media sosial, dan merasa gelisah apabila tidak bisa bermain media sosial sesuai waktu yang diinginkan. Hal ini akan memperburuk kondisi emosional serta perilaku terhadap orang-orang lain di sekitarnya. 

Oleh sebab itu, meski TikTok syndrome bukanlah penyakit yang nyata, dorongan untuk bermain TikTok secara tidak terkendali akan membuat Anda mengalami kecanduan media sosial. Apabila hal ini terjadi, sebaiknya Anda mencoba untuk melakukan diet media sosial untuk menjaga kondisi kesehatan mental dan perilaku. 

Tips melakukan diet media sosial

Bagi Anda yang sudah kecanduan menggunakan media sosial, berhenti sepenuhnya dari media sosial tentunya bukanlah hal yang mudah. Untuk memudahkan hal tersebut, berikut beberapa tips diet media sosial yang mungkin bisa diikuti.

  • Pengurangan bertahap

Salah satu cara mudah untuk berdiet media sosial adalah dengan mengurangi intensitas menggunakan media sosial secara bertahap. Langkah pertama, cobalah untuk memasang waktu selama lima belas menit untuk berhenti menggunakan teknologi sama sekali. 

Seiring berjalannya waktu, apabila Anda berhasil menahan diri selama lima belas menit, tingkatkanlah waktu pemberhentian secara berkala, misalnya menjadi tiga puluh menit, kemudian enam puluh menit, dan seterusnya. 

  • Membuat timer pada ponsel

Saat ini, sebagian besar ponsel telah dilengkapi dengan layanan timer untuk membatasi pemilik ponsel dalam mengakses internet dalam jumlah waktu tertentu. Cobalah untuk memanfaatkan fitur tersebut dengan memasang waktu bagi diri Anda sendiri agar terhindar dari penggunaan media sosial secara berlebihan.

Selain itu, hindarilah juga menggunakan ponsel sebagai alarm untuk bangun di pagi hari. Hal ini untuk menghindari dorongan membuka media sosial di pagi hari setelah Anda bangun tidur. 

  • Olahraga dan meditasi

Olahraga dan meditasi sering digunakan sebagai salah satu metode untuk mengurangi kecanduan, salah satunya kecanduan media sosial. Cobalah untuk melakukan kegiatan olahraga yang memungkinkan Anda untuk berhenti menggunakan teknologi selama beberapa waktu, misalnya lari, jogging, berenang, dan sebagainya. 

Selain itu, lakukanlah meditasi dengan mengikuti kelas-kelas khusus seperti yoga. Hindarilah melakukan meditasi menggunakan aplikasi daring pada ponsel atau media sosial.

  • Terapi

Selain melakukan upaya pribadi, Anda juga bisa mencoba untuk mengobati kecanduan Anda dengan melakukan terapi dengan ahli profesional. Selama terapi, Anda akan membicarakan tentang kecanduan yang dialami serta emosi yang ditimbulkannya. 

Selain terapi individu, Anda juga bisa bergabung dengan terapi kelompok yang mempertemukan Anda bersama dengan orang-orang lain yang memiliki kondisi serupa. 

TikTok syndrome bukanlah hal yang nyata. Meski begitu, hal ini bisa saja menjadi dampak dari kecanduan Anda bermedia sosial. Untuk itu, cobalah untuk melakukan tips di atas agar bisa terhindar dari kecanduan media sosial.