Kenali Penyebab Suhu Panas Anak Naik

Suhu panas anak yang naik pasti akan membuat Anda kelimpungan. Namun, jika Anda tetap memiliki nafsu makan tinggi dan beraktivitas seperti biasa, umumnya suhu tubuhnya akan menurun dalam 1-2 hari tanpa perlu penanganan medis dari dokter. 

Suhu anak yang normal umumnya berkisar antara 36,5-37 derajat Celsius. Lebih dari itu, anak bisa dikategorikan mengalami demam. Suhu panas anak naik kerap terjadi dan biasa disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri. Suhu tubuh menjadi lebih tinggi sebagai respons untuk melawan infeksi yang tengah terjadi dalam tubuh Anak. 

Berikut ini adalah beberapa penyakit dan penyebab lain yang membuat suhu panas anak Anda naik. Jika mengalaminya, observasi lebih dahulu dan jika terlihat cukup parah, lebih baik segera ke dokter. 

  1. Flu

Flu merupakan penyakit karena infeksi virus yang rentan membuat anak Anda mengalami kenaikan suhu tubuh. Flu sendiri wajar dialami oleh anak-anak. Gejala dari flu yang paling mudah diamati adalah batuk yang disertai dengan pilek. Anak-anak memiliki daya tahan tubuh yang masih terbatas sehingga mudah terserang flu. Dalam setahun, anak berusia 2 tahun ke bawah bisa mengalami 6-10 kali flu. Pada saat itulah, suhu panas anak sangat mungkin melonjak tinggi. 

  1. Infeksi Telinga 

Anak-anak di bawah usia 5 tahun masih berada dalam masa perkembangan organ-organ tubuh, tidak terkecuali di bagian telinga. Tidak jarang, anak Anda akan mengalami infeksi telinga sehingga suhu tubuhnya naik. Infeksi telinga merupakan kondisi saat terkumpulnya cairan di belakang gendang telinga yang dapat memberikan rasa tidak nyaman bagi penderitanya bahkan akan membuatnya kesulitan mendengar. 

  1. Imunisasi 

Imunisasi merupakan hal wajib yang patut diterima si kecil guna menghindarinya dari berbagai penyakit kronis. Proses pemasukan bakteri, virus, maupun kuman yang telah dilemahkan ke tubuh ini tidak ayal akan menghasilkan reaksi dari tubuh untuk memperkuat imunitasnya. Tidak jarang suhu panas anak akan terjadi selang beberapa jam dari waktu imunisasi. Anak akan rewel dan lebih mudah menangis karena kondisi ini, namun tidak perlu dikhawatirkan apabila ia tetap aktif makan. 

  1. Kepanasan 

Suhu tubuh anak lebih mudah berubah dibandingkan orang dewasa. Perubahan suhu ruangan yang terlalu tinggi pun bisa membuat suhu panas anak meningkat. Jika kondisi ini terjadi, cobalah untuk mengganti pakaian anak dengan yang lebih tipis. Jika kondisi suhu panas anak terjadi saat tidur, cobalah singkirkan selimut yang membelitnya. Umumnya, suhu akan segera menurun pasca Anda melakukan tindakan tersebut. 

  1. ISPA 

Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) juga rentan dialami si kecil. Umumnya, anak akan mengalami penyakit yang disebabkan oleh rhinovirus ataupun virus parainfluenza karena tertular oleh orang-orang di sekitarnya. Percikan liur ketika orang bersin atau batuk akan mudah membuat anak mengalami ISPA karena daya tahan tubuhnya yang masih terbatas. Selayaknya infeksi organisme lain, tubuh akan meresponsnya dengan membuat suhu panas anak meningkat. Jika memang terindikasi ISPA, ada baiknya Anda segera ke dokter agar si kecil mendapatkan penanganan tepat. 

  1. Infeksi Saluran Kemih 

Infeksi saluran kemih tidak hanya mengincar orang dewasa. Anak-anak pun bisa mengalami kondisi ini apabila terinfeksi bakteri E.coli. Rara-rata penyebab infeksi saluran kemih pada anak adalah tidak terjaganya kebersihan area genital. Sama seperti infeksi pada tubuh lainnya, infeksi bakteri E.coli pun akan menimbulkan gejala suhu panas anak yang meningkat. 

*** 

Beberapa penyebab suhu panas anak tinggi memang tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena akan sembuh sendiri dalam waktu kurang dari 48 jam. Namun jika lebih daripada itu, sebaiknya Anda segera membawa anak ke dokter untuk memastikan kesehatannya.

Pastikan Cara Menyapih Anak Dilakukan dengan Tepat

ASI atau Air Susu Ibu merupakan makanan utama seorang manusia saat periode awal kehidupannya. Kebiasaan menyusu itu akan terus berlanjut hingga kurang lebih dua tahun lamanya, sesuai dengan rekomendasi organisasi kesehatan dunia; WHO. Banyak ibu bertemu masalah selama periode tersebut, mulai dari seputar pemberian susu hingga cara menyapih anak.

Saat anak mulai tumbuh dan berkembang, keduanya—baik anak maupun ibu—mungkin sama-sama tidak lagi “membutuhkan” aktivitas susu-menyusui tersebut. Jika begitu, tentu akan mudah bagi kedua pihak untuk menjalaninya.

Yang kerap menimbulkan drama atau permasalahan adalah ketika salah satu pihak, utamanya anak, masih enggan untuk meninggalkan puting susu ibu. Padahal, mungkin, kondisi ibunya sudah tidak memungkinkan untuk terus menyusui bayinya.

Ada begitu banyak penjelasan, trik, atau tips mengenai cara menyapih anak sebagai jawaban dari permasalahan seputar ibu dan anak ini. Namun, apa pun metode yang Anda pakai nantinya, pastikan untuk selalu melalukannya dengan baik dan benar agar kedua belah pihak sama-sama nyaman dan tidak menjadi “korban perasaan”.

Apa saja cara menyapih anak yang baik dan benar itu? Berikut kira-kira ringkasannya:

  • Memberikan Alasan dan Pengertian

Ketika anak memasuki usia dua tahun dan Anda merasa sudah waktunya menyapih, berikan alasan dan pengertian yang jelas akan situasi itu. Anak mungkin sudah cukup mengerti untuk dijelaskan bahwa dirinya sudah tidak perlu lagi menyusu secara langsung.

Meski dengan begitu proses menyapih akan memakan waktu yang lebih lama, tetapi hal itu tidak masalah karena konsep menyapih diperbolehkan menunggu sampai anak benar-benar siap lepas ASI.

  • Secara Perlahan

Cara menyapih anak yang baik adalah tidak melakukan pemaksaan atau berdasarkan keputusan sepihak. Jika penyapihan berlangsung terlalu cepat bagi anak, apalagi tanpa diberikan pengertian yang jelas, anak biasanya akan mengungkapkan perasaan melalui perilakunya.

Dia bisa saja ngamuk, berperilaku regresif, cemas, gelisah, bangun malam, dan terlihat lebih manja. Jika si kecil sakit dan tumbuh gigi juga dapat mengganggu proses menyapih dan mungkin perlu istirahat.

  • Berusaha Mengalihkan Pikirannya dari Menyusu

Saat menyapih anak, coba berusaha alihkan perhatian anak sehingga saat mereka lapar, bukan ASI yang dicari. Anda bisa melakukan berbagai hal atau menawarinya bermacam makanan atau minuman lain agar dia tidak lagi minta disusui.

  • Jangan Gunakan Sesuatu untuk Mengelabui Anak

Mengolesi brotowali, cabai, atau apa pun yang bisa mengubah rasa dari ASI atau meninggalkan rasa tidak enak di puting sudah sering dilakukan sebagai “jalan pintas” cara menyapih anak. Namun, pahamilah bahwa kebiasaan tersebut tidak baik lantaran sama saja Anda mengelabui anak. Hal ini pun berlaku pada cara-cara aneh lainnya seperti mengolesi lipstik seakan payudara berdarah, lalu mengolesi balsam.

  • Jangan Pernah Berbohong

Jangan bohongi anak dan coba katakanlah yang sejujurnya kepada anak bahwa sudah waktunya bagi dia berhenti menyusu dari payudara Anda. Cara menyapih anak dengan berbohong tak baik bagi perkembangan psikologis dan mental anak.

Pahamilah bahwa dia masih begitu polos. Mereka mungkin bisa langsung percaya, tetapi andai suatu saat dia mengetahui kebenarannya, tak ada yang menjamin anak Anda mendapat pemahaman bahwa berbohong adalah sesuatu yang dibenarkan ‘kan?

***

Itulah beberapa cara menyapih anak yang dinilai paling baik, benar, dan tepat. Harus diakui bahwa proses ini cukup sulit dan bisa memakan waktu yang lebih lama. Namun, yang mesti dikedepankan adalah bahwa proses ini untuk kebaikan bersama, jadi jangan ada pihak-pihak yang nantinya merasa dirugikan.

Orang Tua, Waspadai 3 Penyakit Bayi Berikut yang Lazim Menyerang Buah Hati

Penyakit bayi cenderung sulit untuk dideteksi, mengingat bahwa bayi belum memiliki kemampuan untuk berkomunikasi. Bayi yang belum memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, memiliki cara tersendiri untuk memberikan pesan, seperti melalui tangisan.

Terdapat berbagai macam kemungkinan, penyakit bayi yang dapat dialami oleh buah hati Anda. Lebih jelasnya, simak informasi tentang penyakit bayi yang lazimnya menyerang buah hati agar tidak salah langkah dan lebih siap untuk menghadapi situasi.

  • Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

GERD tidak hanya terjadi pada orang dewasa, namun juga dapat menyerang bayi. GERD dipicu oleh asam lambung yang naik ke esofagus, sehingga menimbulkan rasa sakit, panas dada, mual, muntah, bahkan erosi atau kerusakan tertentu pada gigi akibat asam lambung tersebut.

GERD pada bayi lazim terjadi, karena katup antara esofagus dengan otot perut bayi belum terbentuk dengan sempurna. Jika bayi mengalami kondisi ini, ia akan terlihat lebih rewel, menangis lebih sering, dan kolik. Di saat tertentu, bayi mungkin akan muntah atau meludah disertai dengan gerakan mengangkat kaki ke atas atau melengkungkan punggung. Selain itu, tandanya juga berupa suara bayi yang terdengar seperti serak atau bersendawa.

  • Demam

Secara umum, demam adalah salah satu gejala dari penyakit bayi. Demam juga merupakan alarm tubuh, bahwa terdapat gangguan pada tubuh yang harus diperhatikan.

Jika tubuh bayi terasa panas, segera ukur suhu tubuhnya dengan termometer. Kondisi demam bayi terjadi ketika suhu tubuh melebihi 37 derajat celcius.

  • RSV (Respiratory Syncytial Virus)

RSV adalah virus yang menyerang saluran pernapasan bayi di tahun pertama ia tumbuh. Kondisi ini dapat berakibat serius jika tidak ditangani. RSV menjadi penyebab utama banyaknya anak di bawah usia satu tahun yang harus menjalani rawat inap.

Gejala dari RSV yang perlu diperhatikan, adalah pilek, batuk, dan sesak. Gejala tersebut dapat terjadi selama berminggu-minggu. Jika virus RSV menginfeksi saluran bronkus, maka ia dapat berisiko memicu penyakit bronkitis dan radang paru-paru.

Kenali Gejala Hemangioma pada Bayi

Melihat anak tumbuh dengan kondisi yang sehat tentu menjadi impian setiap orang tua. Meskipun demikian, orang tua juga harus tetap mengerti dan mengenali beberapa penyakit yang umum menyerang anak dan bayi. Hemangioma pada bayi menjadi salah satu abnormalitas yang menyerang buah hati Anda yang biasanya dapat muncul sejak tahun pertama kelahiran mereka.

Mengenal hemangioma

Hemangioma pada bayi adalah pertumbuhan pembuluh darah abnormal yang terjadi di kulit anak dan bayi. Kondisi ini tidak ganas serta tidak menyebabkan kanker. Umumnya tidak ada gejala khusus saat dan sesudah terbentuknya hemangioma. Ketika muncul, hemangioma di kulit bayi tersebut timbul dalam bentuk goresan atau bisa jadi berupa benjolan kecil berwarna merah.

Hemangioma tidak memiliki penyebab yang pasti. Meskipun demikian, keturunan menjadi faktor yang paling mungkin berpengaruh pada munculnya abnormalitas ini. Selain itu, beberapa kondisi seperti bayi yang lahir prematur, atau berjenis kelamin perempuan.

Gejala hemangioma

Hemangioma pada kulit biasanya akan dikenali dengan tanda lahir yang berwarna ungu atau merah gelap, sehingga seringkali disebut sebagai hemangioma stroberi. Pada tahun pertama Si Kecil, tanda merah ini akan tumbuh dan membentuk massa dengan cepat yang muncul menyerupai spons pada kulit. Setelahnya, hemangioma akan memasuki fase istirahat. Secara perlahan, hemangioma akan menghilang dengan sendirinya setelah fase istirahat tersebut.

Selain di kulit, hemangioma juga bisa muncul di organ dalam tubuh seperti pada lambung, paru-paru, otak, dan usus besar. Hemangioma ini biasanya tidak menimbulkan gejala apapun, kecuali jika ukurannya membesar atau jumlahnya bertambah banyak dan menjadi hemangioma multiple. Untuk kasus hemangioma internal yang membesar atau bertambah banyak tersebut, buah hati biasanya akan mengalami gejala berupa mual, muntah, rasa tidak nyaman pada perut, penurunan berat badan, hilang nafsu makan, serta perasaan penuh pada perut.

Hemangioma pada umumnya tidak menimbulkan masalah yang membahayakan Si Kecil. Namun, orang tua perlu tetap waspada karena di beberapa kasus, ukuran hemangioma bisa menjadi sangat besar atau menyebabkan rasa sakit.