Amankah Ibu dengan Peripartum Cardiomyopathy Hamil Kembali?

Pada dasarnya kondisi ibu hamil dengan peripartum cardiomyopathy sangatlah membahayakan. Salah satu indikasi keseriusan pada kondisi ini dapat diukur dengan sesuatu yang disebut fraksi ejeksi, yaitu persentase darah yang dipompa jantung dengan setiap detak. Jumlah fraksi ejeksi yang normal adalah sekitar 55%-60%. Jika fraksi ejeksi lebih rendah dari itu bisa dikatakan bahwa jantung bekerja kurang baik.

Pada PPCM, bilik ventrikel kiri menjadi membesar. Saat ventrikel menjadi lebih besar dari biasanya, dinding otot menjadi tegang dan lebih tipis. Hal ini membuat otot lebih lemah, dan bekerja kurang baik. Hal ini menyebabkan lebih sedikit darah yang dipompa keluar dari jantung dan dipompa keluar dengan kekuatan yang lebih kecil dari biasanya. 

Karena darah tidak bersirkulasi secara efektif, hal ini dapat menyebabkan cairan menumpuk di jaringan, terutama paru-paru, yang memiliki lebih sedikit oksigen yang sampai ke organ tubuh. Kondisi ini menyebabkan gejala seperti sesak napas, batuk dan kelelahan ekstrim yang disebut sebagai ‘gagal jantung’ karena jantung gagal memenuhi kebutuhan normal tubuh akan oksigen. 

Dalam kasus peripartum cardiomyopathy ringan, gejala khas seperti pembengkakan di kaki dan tungkai, dan beberapa sesak napas bisa mirip dengan gejala trimester ketiga kehamilan normal, sehingga gejala ini mungkin tidak terdiagnosis. 

Namun, pada kasus yang berat berat gejalanya muncul dengan sendirinya ketika pasien mengalami sesak napas dan kaki bengkak setelah melahirkan. Saat jantung tidak memompa dengan baik, cairan dapat menumpuk di dalam tubuh, terutama di paru-paru dan kaki. Ekokardiogram dapat mendeteksi kardiomiopati dengan menunjukkan penurunan fungsi jantung. PPCM dapat mengancam jiwa dan perlu segera diobati. Jika ibu tidak sembuh dengan baik, maka harus tetap melanjutkan pengobatan. 

Jika seorang wanita memiliki PPCM selama kehamilan, penelitian menunjukkan bahwa dia memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mendapatkannya lagi di kehamilan berikutnya, bahkan jika sebelumnya sembuh total. Dalam merencanakan kehamilan di masa depan, disarankan untuk mendiskusikan hal ini dengan ahli jantung untuk menjelaskan risiko potensial apa yang mungkin terjadi, dan pemantauan apa yang diperlukan selama kehamilan. 

Pertanyaan memiliki anak tambahan biasanya tergantung pada sejauh mana ibu telah pulih dari peripartum cardiomyopathy.

Jika kondisi, dalam hal ini kapasitas kerja, jantung tidak sepenuhnya pulih, maka kehamilan selanjutnya tidak dianjurkan. Meskipun tidak ada risiko langsung pada bayi, menjalani kehamilan dengan fungsi jantung yang tidak normal dapat menyebabkan kerusakan jantung tambahan bagi ibu, yang pada gilirannya dapat membahayakan janin yang sedang berkembang.

Jika jantung telah pulih sepenuhnya dari kehamilan sebelumnya, maka kehamilan selanjutnya dapat dicoba, asalkan jantung ibu terus dipantau secara berkala dengan ekokardiogram dan tes stres. Pemantauan kondisi jantung dengan ekokardiogram di sini dapat membantu menunjukkan bagaimana jantung berfungsi saat istirahat dan tes stres mengukur bagaimana jantung bekerja di bawah tekanan.

Meskipun peripartum cardiomyopathy merupakan kondisi yang serius, perlu diingat bahwa banyak wanita berhasil pulih dari penyakit ini. Lebih dari separuh wanita dengan PPCM akan memiliki fungsi jantung  normal kembali enam bulan setelahnya melahirkan. 

Untuk beberapa wanita, pemulihan dapat memakan waktu beberapa tahun karena tingkat keparahan gejala yang mereka alami, dan seberapa baik jantung mereka dapat pulih dari gagal jantung. Apabila setelah kehamilan atau menjelang kehamilan berikutnya peripartum cardiomyopathy kembali muncul dengan gejala yang terus mengkhawatirkan, maka kamu memerlukan perawatan yang berkelanjutan, karena kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi lebih lanjut.

Penyebab Telinga Panas Selain Emosi

Apakah pembaca mengetahui kalau telinga panas bisa terjadi akibat dari respons emosi? Emosi dalam hal ini tidak hanya ketika sedang marah saja, melainkan juga di saat kita sedang merasa malu atau bahkan khawatir. Dalam beberapa kasus, kondisi telinga terasa panas diiringi dengan perubahan warna pada permukaan kulit yang menjadi agak kemerahan. 

Namun demikian, jika telinga panas disebabkan karena respons terhadap suatu emosi, maka kondisi itu lambat laun akan menghilang sendirinya seiring dengan meredanya emosi. Dengan kata lain, penyebab telinga terasa panas ini berhubungan erat dengan sisi emosional diri manusia.

Di sisi lain, dihimpun dari berbagai sumber, diketahui kalau ada beragam hal yang bisa menyebabkan telinga terasa panas. Beberapa di antaranya mungkin dapat dikatakan normal. Akan tetapi, sebagian penyebab lainnya tidak boleh dipandang remeh karena bisa jadi salah satu gejala dari penyakit tertentu. Lantas apa saja penyebab telinga panas? Demi menjawab pertanyaan dasar itu, maka artikel sederhana ini ditulis.

  • Paparan sinar matahari

Apabila pembaca banyak melakukan aktivitas di luar ruangan, maka kemungkinan merasakan telinga panas semakin besar. Hal ini disebabkan karena dampak dari terpaparnya sinar matahari dalam waktu yang lama bisa membuat kulit pada telinga seakan-akan seperti terbakar. 

Apabila kondisi tersebut terjadi, biasanya warna permukaan kulit menjadi agak merah dan seiring dengan itu, terasa efek panas di sekitar telinga. Dalam proses penyembuhannya sendiri, biasanya hawa panas itu akan menghilang dengan sendirinya apabila kita sudah berada di lokasi yang sejuk atau terhalau dari paparan sinar matahari.

Namun demikian, jika telinga panas karena efek dari terbakar sinar matahari, bukan tidak mungkin sensasi panas itu baru mereda beberapa hari kemudian. Di sisi lain yang tidak bisa diabaikan begitu saja, apabila tingkatan kulit terbakar sinar matahari parah, maka disarankan agar segera berkonsultasi ke dokter terkait. Sebab, bisa saja dalam proses penyembuhannya memerlukan bantuan medis.

  • Mastoiditis

Kata tersebut merupakan istilah medis yang dapat diartikan sebagai kondisi di mana terdapat infeksi yang terjadi pada tulang mastoid. Apabila kita mengalami infeksi itu, maka efek yang dirasakan adalah sensasi telinga panas. Sebagai informasi, posisi tulang mastoid ini mengelilingi telinga pada bagian tengah dan dalam. 

  • Perubahan hormonal

Jika di antara pembaca sedang mengkonsumsi obat dalam proses pemulihan dari suatu penyakit atau tengah menjalani kemoterapi, maka hal itu bisa membuat terjadinya perubahan hormonal. Apabila perubahan itu terjadi, maka bisa membuat telinga panas. Kendati demikian, hawa panas yang disebabkan kondisi ini bisa dihindari dengan pelbagai cara. Beberapa di antaranya adalah dengan menghindari makanan yang pedas, makanan dan minuman mengandung alkohol, dan kafein.

  • Infeksi telinga

Infeksi pada telinga bisa membuat telinga panas. Perlu menjadi perhatian bersama, infeksi telinga ini bisa terjadi pada siapa saja alias tidak mengenal batasan usia. Jika kondisi itu terjadi pada anak-anak, maka dampak yang bisa dirasakan bukan hanya telinga terasa panas, tetapi juga menimbulkan gejala lain, yaitu demam, sakit kepala, bahkan sampai menurunkan nafsu makan. 

Dalam mengatasi infeksi telinga, lebih bijak pembaca agar segera menghubungi tenaga ahli kesehatan terkait. Sebab, infeksi bila dibiarkan begitu saja bisa mengakibatkan munculnya penyakit lain yang bukan tidak mungkin lebih parah. 

Dari penjelasan di atas, paling tidak kita mengetahui empat penyebab telinga panas. Perlu diketahui, meskipun di antara penyebab tersebut hawa panas pada telinga bisa mereda dengan sendirinya, tetapi jangan sampai diabaikan jika sensasi panas berlangsung dalam beberapa hari. Sangat disarankan agar segera konsultasi kepada dokter apabila telinga panas tak kunjung hilang.

Cara Mengatasi Sakit Pinggang Tanpa Harus ke Dokter

Tidak semua kondisi sakit mengharuskan Anda pergi ke dokter. Walaupun memang tidak bisa dimungkiri, untuk kondisi yang serius, penanganan medis yang tepat perlu segera dilakukan guna mencegah risiko yang fatal. 

Sakit pinggang menjadi salah satu penyakit yang sebenarnya bisa ditangani di rumah, tanpa bantuan dokter, jika memang kondisinya tidak terlalu parah. Cara mengatasi sakit pinggang tanpa harus ke dokter pun sebenarnya sangat simpel dan tidak membuat pusing. 

Jadi buat Anda yang sering atau sedang mengalami sakit pinggang, cobalah beberapa tips di bawah ini. Siapa tahu, ini merupakan cara mengatasi sakit pinggang terbaik untuk Anda. 

  1. Perbaiki Postur Tubuh 

Masalah sakit pinggang kerap kali bersumber dari kebiasaan Anda berdiri dan duduk sehingga membuat postur tubuh kurang ideal, contohnya membungkuk dan miring. Posisi inilah yang akhirnya menjadi keluhan nyeri di pinggang. Cara mengatasi sakit pinggang tinggal di balik saja. Anda harus memperbaiki postur tubuh. Anda bisa memulainya dengan melakukan cara duduk yang benar. Biasakan duduk secara tegak dengan bahu rileks. Pastikan pula kaki menyentuh lantai agar pinggang tidak terlalu terbebani. 

  1. Kompres Dingin dan Hangat 

Pemberian es secara teratur ke area yang nyeri di pinggang Anda dapat membantu mengurangi rasa sakit dan pembengkakan. Coba cara mengatasi sakit pinggang ini beberapa kali sehari dengan durasi 20 menit setiap sesi. Anda hanya perlu sebungkus kantong es batu yang dilapisi dengan handuk tipis sebagai bahannya. Selain itu, cobalah pula mengompres pinggang dengan bantal pemanas atau kompres air hangat. Ini berguna membantu mengendurkan otot dan meningkatkan aliran darah ke area pinggang, sehingga nyeri perlahan memudar. Anda juga bisa mencoba mandi air hangat untuk membantu relaksasi otot-otot di tubuh Anda, tidak terkecuali di pinggang. 

  1. Perbaiki Kuantitas dan Kualitas Tidur 

Saat Anda mengalami sakit pinggang, tidur bisa jadi sulit. Ini bisa menjadi lingkaran setan karena ketika Anda tidak cukup tidur, sakit pinggang Anda dapat terasa lebih buruk. Cobalah memperbaiki kuantitas dan kualitas tidur dengan berbaring miring. Letakkan bantal di antara kedua lutut Anda untuk menjaga tulang belakang Anda dalam posisi netral dan mengurangi ketegangan pada punggung dan pinggang Anda. Jika perlu tidur telentang, selipkan bantal di bawah lutut. Pastikan untuk tidur di atas kasur yang kokoh dan nyaman. Dijamin, nyeri pinggang bisa berkurang. 

  1. Pijatan Lembut 

Memijat otot yang sakit atau tegang dengan lembut adalah salah satu cara paling efektif untuk mengendurkan dan meredakan nyeri. Ini termasuk cara mengatasi sakit pinggang yang cukup efektif. Namun tentunya ketika melakukan ini, lakukan pijatan lembut di sekitar pinggang. Jika takut memijat sendiri, Anda bisa memanggil tukang pijat profesional untuk mengaplikasikan cara mengatasi sakit pinggang yang satu ini.

  1. Berolahraga 

Olahraga dapat membuat otot menjadi lebih lentur dan mengurangi risiko cedera, tidak terkecuali di pinggang Anda. Jika Anda sedang berhadapan dengan sakit pinggang, jangan lantas diam. Anda justru harus aktif berolahraga setidaknya 20-30 menit dalam sehari. Olahraga yang sangat efektif meredakan nyeri di pinggang adalah renang. Ini karena renang termasuk olahraga yang minim dampak. 

  1. Bersenang-senanglah!

Stres bisa memperparah sakit pinggang Anda. Sebaliknya, ketika Anda merasa senang, sakit pinggang bisa berkurang. Cobalah untuk terus meningkatkan produksi hormon endorfin agar perasaan senang bisa menghalangi sinyal rasa sakit dari pinggang ke otak. Cara meningkatkan hormon ini tidaklah sulit. Anda hanya perlu bersantai dan melakukan yang Anda suka. Berolahraga, melakukan hobi, sampai bercinta adalah jawaban untuk meningkatkan produksi hormon endorfin yang berpengaruh baik ke kondisi pinggang Anda. 

Tidak sulit bukan mengatasi sakit pinggang tanpa harus ke dokter? Namun tentunya, jika rasa sakit semakin parah dan membuat Anda sulit bergerak, pilihan ke dokter tidak bisa dielakkan dan harus dilakukan.

Mudah, Ini Cara Mengatasi Nyeri di Pipi

Mengalami nyeri di pipi dan area wajah bisa menyiksa dan mengganggu. Apalagi jika nyeri di pipi ini disertai dengan gejala lain seperti sakit kepala.  

Penyebab nyeri di pipi dan area wajah bisa disebabkan oleh berbagai hal, terutama masalah pada gigi, mulut, dan kepala. Berikut ini beberapa hal yang bisa jadi penyebab nyeri di pipi: 

  • Infeksi mulut 
  • Sakit kepala
  • Cedera pada wajah
  • Sakit gigi
  • Herpes zoster
  • Migrain
  • Sinusitis
  • Gangguan saraf
  • Virus herpes simpleks 1 (HVS-1)
  • Neuralgia trigeminal
  • Septum menyimpang
  • Sendi temporomandibular (TMJ)
  • Kanker mulut
  • Infeksi kelenjar ludah
  • Arteritis sel raksasa
  • Sialadenitis 

Agar Anda bisa mengetahui penyebabnya secara pasti, pemeriksaan ke dokter memang sangat disarankan. Meski begitu, ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk meredakan rasa nyeri di pipi. 

Kompres Dingin

Kompres dingin menggunakan es batu merupakan cara mudah untuk mengatasi nyeri di pipi akibat bengkak sakit gigi. Tindakan ini dapat membantu mengurangi pembengkakan dan rasa sakit yang muncul pada daerah tersebut.

Pasalnya, kompres dingin bisa mempersempit pembuluh darah untuk memperlambat aliran darah ke daerah yang terkena.

Namun, pastikan Anda untuk menghindari menempel es batu secara langsung pada kulit. Hal tersebut justru akan merusak jaringan dan memperburuk keadaan.

Sebaiknya,  Anda menempelkan es batu yang sudah dibungkus dengan kain atau handuk ke pipi yang bengkak selama 10 hingga 20 menit, lalu istirahat selama 20 menit sebelum menempelkannya kembali. Ulangi hingga Anda merasa nyaman.

Kumur Air Garam

Jika nyeri di pipi disebabkan oleh sakit gigi, maka Anda bisa berkumur dengan air garam hangat. Cara ini juga dikenal ampuh mengobati gusi bengkak. 

Pasalnya, air garam dapat mengurangi kadar bakteri di dalam mulut. Ini karena bakteri tidak dapat bertahan hidup di air asin.

Anda bisa menggunakan air garam ini dengan mencampurkan 2 sendok garam ke dalam air hangat lalu aduk, kemudian kumur secara perlahan. Lakukan kegiatan ini 3 kali sehari sampai rasa sakit berkurang dan Anda merasa nyaman.

Antibiotik

Jika penyebab nyeri di pipi berasal dari infeksi gigi, maka obat antibiotik dapat mengurangi pembengkakan pada wajah. 

Namun, diperlukan pemeriksaan secara langsung terlebih dahulu dan atas rekomendasi oleh dokter gigi. 

Hilangkan Stress

Selain itu, Anda juga bisa cobalah teknik menghilangkan stres untuk mengurangi mengatupkan rahang. Caranya bisa termasuk:

  • yoga
  • penjurnalan
  • meditasi

Aktivitas ini dapat membantu Anda mengurangi nyeri di pipi jika disebabkan oleh stres.

Hindari Makanan Kenyal 

Makanan yang kenyal, keras, atau renyah dapat membuat sendi rahang Anda terlalu tegang dan menyebabkan rasa nyeri di pipi dan ketidaknyamanan di kemudian hari. Makanan yang harus dihindari meliputi:

  • apel
  • dendeng
  • mengunyah permen karet
  • Es

Periksa ke Dokter 

Jika nyeri di pipi terasa tak tertahankan, apalagi jika pembengkakan pada pipi disertai rasa sakit yang hebat, demam, menggigil dan sakit saat membuka mulut, maka memeriksakan diri ke dokter adalah solusi yang tepat. 

Gejala-gejala tersebut dapat terkait dengan infeksi gigi yang bila dibiarkan akan merusak gusi serta jaringan dan menyebar ke tulang rahang. Kondisi ini bahkan bisa menyebabkan infeksi darah atau sepsis yang mengancam jiwa. 

Dokter akan mengevaluasi segala kemungkinan sehingga menemukan apa penyebab dari kondisi ini.Selain itu, kehadiran dokter diperlukan jika nyeri makin parah, memburuk, atau terjadi terus-menerus. Bantuan medis juga dibutuhkan jika terjadi gejala-gejala infeksi seperti di bawah ini:

  • Demam
  • Kemerahan
  • Terkelupas
  • Sakit gigi parah
  • Nyeri di pipi parah
  • Terjadi pembengkakan
  • Merasa kelelahan tanpa sebab

Pembedahan dapat dilakukan untuk mengobati tumor atau penekanan pada saraf akibat pembuluh darah, atau pengobatan lainnya dapat dilakukan jika tidak efektif.

Jenis pembedahannya termasuk terapi radiasi tanpa melakukan operasi, stimulasi elektrik, penyuntikan atau pembedahan terbuka untuk menghilangkan penekanan pada saraf.

Leukosit Tinggi Tanda Terkena Leukemia?

Jumlah leukosit tinggi merupakan salah satu tanda terkena penyakit leukemia. Leukemia adalah salah satu jenis kanker darah yang menyerang sel darah putih. Penderita leukemia umumnya memproduksi sel darah putih secara abnormal dan dalam jumlah yang tidak wajar. 

Normalnya, produksi leukosit tinggi biasanya terjadi saat tubuh diserang oleh virus atau bakteri yang masuk, dengan tujuan melindungi tubuh dari serangan virus dan bakteri. Namun, pada kasus leukemia, leukosit tidak berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga penderita leukimia akan mudah terinfeksi virus atau bakteri karena tidak memiliki perlindungan yang baik. 

Penyakit leukemia biasanya lebih banyak menyerang anak-anak. Namun, penyakit ini juga bisa menyerang siapa saja, jika sel darah putih tumbuh abnormal dan berlebihan. 

Gejala leukemia

Gejala yang muncul dari penyakit leukemia biasanya berbeda-beda, bergantung dari jenis leukemia yang dideritanya. Berikut ini beberapa gejala umum dari leukemia yang sering terjadi.

  • Demam atau kedinginan
  • Merasa lelah terus-menerus
  • Mengalami infeksi yang cukup parah
  • Berat badan turun drastis
  • Ada pembengkakan pada kelenjar getah bening
  • Mudah berdarah dan memar
  • Sering mimisan
  • Ada bintik merah kecil pada kulit
  • Sering berkeringat, terutama pada malam hari
  • Nyeri pada tulang

Biasanya, penyakit leukemia tidak memiliki gejala yang spesifik dan gejalanya muncul seperti sakit demam atau flu biasa, sehingga penderitanya sering tidak menyadari dan mengabaikan. 

Jadi, saat kamu merasakan beberapa gejala di atas, sebaiknya segera menghubungi dokter untuk pemeriksaan lebih detail, ya.

Jenis leukemia

Leukemia terbagi ke dalam beberapa jenis dengan gejala dan diagnosa yang berbeda-beda. Dokter biasanya membagi jenis-jenis leukemia berdasarkan kecepatan perkembangannya dan juga jenis sel yang terlibat.

Berikut ini jenis leukemia berdasarkan kecepatan leukemia berkembang.

1. Leukemia akut

Pada kondisi ini, sel darah yang tumbuh abnormal adalah sel darah muda yang belum matang. Sel darah muda ini tidak bisa berfungsi normal dan tumbuh dengan cepat sehingga memperburuk kondisi tubuh. 

2. Leukemia kronis

Kondisi ini terjadi karena sel darah dewasa memiliki jumlah yang terlalu banyak, dan beberapa lainnya memiliki jumlah yang terlalu sedikit. Sel darah dewasa ini juga bereplikasi lebih lambat dari biasanya. Biasanya, leukemia kronis tidak menimbulkan gejala, dan baru bisa terdeteksi setelah bertahun-tahun. 

Jenis leukemia yang kedua dikategorikan berdasarkan jenis sel darah putih yang terserang. 

1. Leukemia limfositik

Jenis leukemia ini mempengaruhi sel limfoid yang berfungsi membentuk kelenjar getah bening. Kelenjar getah bening memiliki fungsi yang cukup penting dalam pembentukan sistem kekebalan tubuh. 

2. Leukemia myelogenous

Jenis leukemia ini memengaruhi sel myeloid yang memiliki peran untuk berkembang menjadi sel darah merah, sel darah putih, dan juga trombosit. 

Berikut ini jenis utama leukemia yang terbagi ke dalam 4 jenis.

1. Leukemia limfositik akut (ALL)

Jenis leukemia ini adalah jenis yang paling sering ditemukan, khususnya pada anak-anak. Jenis ini juga bisa ditemukan pada orang dewasa.

2. Leukemia myelogenous akut (AML)

Jenis leukemia AML adalah leukemia yang paling umum terjadi, yakni bisa menyerang anak-anak dan juga orang dewasa.

3. Leukemia limfositik kronis (CLL)

Jenis leukemia ini sering terjadi pada orang dewasa. Leukemia ini umumnya juga sulit terdeteksi selama bertahun-tahun karena tidak memiliki gejala yang spesifik. 

4. Leukemia myelogenous kronis (CML)

Jenis leukemia ini biasanya menyerang orang dewasa. Penderita CML biasanya tidak merasakan gejala apapun selama bertahun-tahun, hingga fase sel-sel leukemia berkembang dengan sangat cepat. 

Orang yang berisiko mengalami leukemia

Leukemia memang bisa menyerang siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Namun, seseorang dengan ciri berikut ini memiliki risiko yang lebih besar. 

  • Pernah menjalani pengobatan kanker

Seseorang yang pernah menjalani pengobatan kanker seperti kemoterapi jenis tertentu biasanya rentan terkena leukemia jenis tertentu.

  • Gangguan genetik

Adanya kelainan genetik juga bisa menyebabkan seseorang terserang leukemia, seperti penderita down syndrome.

  • Paparan bahan kimia

Paparan bahan kimia seperti benzena juga bisa meningkatkan risiko terkena leukemia.

  • Merokok

Memiliki gaya hidup yang tidak baik seperti merokok bisa meningkatkan risiko leukemia myelogenous akut.

  • Riwayat keluarga

Jika ada anggota keluarga yang terkena leukemia, maka kamu juga bisa memiliki risiko terkena leukemia. 

Jika kamu mengalami beberapa gejala yang tidak biasa seperti di atas, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan darah lengkap untuk mengetahui produksi leukosit tinggi atau normal. Jika ternyata leukosit tinggi, kamu bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya. 

Telinga Keluar Cairan, Bahayakah? Kenali Beragam Penyebabnya

Telinga keluar cairan bisa disebabkan oleh beragam hal, mulai dari kondisi medis biasa hingga penyakit. Jenis cairan yang keluar pun bermacam-macam, yang paling umum adalah kotoran telinga yang menjaga telinga tetap bersih dan sehat. Lainnya bisa berbentuk air maupun darah. 

Telinga keluar cairan salah satunya bisa disebabkan oleh otitis media

Jenis cairan yang keluar menentukan diagnosis penyebabnya. Apabila Anda mengalami kondisi ini setelah cedera kepala, sangat disarankan untuk segera mendapatkan penanganan medis. Ada beberapa jenis cairan yang bisa keluar dari telinga, antara lain:

  • kotoran telinga, bisa berwarna putih, kuning, atau cokelat. Jika kotoran telinga bercampur dengan air, misalnya setelah mandi atau berenang, terkadang cairan ini bisa keluar dari telinga seperti ingus. 
  • cairan bening, terkadang berbentuk air. Umumnya penyebab telinga berair ini adalah setelah mandi dan berenang, dan cairannya juga tidak berbau.
  • darah, karena cedera kecil atau luka di dalam liang telinga. 
  • nanah atau cairan keruh, disebabkan oleh infeksi di liang telinga atau telinga bagian dalam. Infeksi bisa disebabkan oleh demam, flu, atau cedera telinga. 

Selain kondisi medis, telinga keluar cairan juga bisa disebabkan oleh sejumlah penyakit, terutama jika cairan yang keluar berbentuk nanah atau darah. Untuk bisa mengetahui penyakit apa yang menjadi penyebabnya, Anda perlu memeriksakannya ke dokter.

Dokter akan menggunakan alat bernama otoskop, sebuah mikroskop dengan lampu, untuk melihat ke dalam telinga dan mencoba untuk mengidentifikasi penyebab keluarnya cairan dari telinga. 

Terkadang dokter juga akan menggunakan otoskop pneumatik yang mengeluarkan hembusan angin untuk melihat bagaimana gendang telinga bergerak atas respons dari tekanan tersebut. Dengan cara ini dapat menunjukkan apakah ada penumpukan atau cairan di belakang gendang telinga. 

Dokter juga bisa melakukan sebuah tes bernama timpanometri yang membantu untuk melihat kondisi kesehatan dari telinga tengah. Untuk melakukan tes ini, dokter akan memasukkan semacam alat ke dalam telinga dan mengevaluasi bagaimana telinga tengah merespon sejumlah tingkat tekanan yang berbeda.

Penyebab Telinga Keluar Cairan

Setelah mengetahui jenis cairan yang keluar dari telinga, Anda baru bisa memperkirakan apa penyebabnya. Selain itu, Anda juga bisa membantu dokter untuk mempermudah diagnosis. Beberapa penyakit dan kondisi medis yang bisa menjadi penyebabnya antara lain:

1. Otitis externa

Otitis externa atau lebih dikenal dengan Swimmer’s ear, merupakan sebuah infeksi liang telinga yang bisa mengenai gendang telinga hingga ujung lubang telinga. 

Infeksi ini disebabkan oleh bakteri, jamur, atau virus yang masuk ke dalam kanal. Air yang masih terus terjebak di dalam telinga setelah berenang menjadi salah satu penyebab umum. Selain itu, menggunakan cotton bud untuk membersihkan telinga atau anting yang menyebabkan iritasi juga bisa menjadi penyebabnya. 

Anak-anak lebih rentan terhadap penyakit ini karena mereka memiliki liang telinga yang lebih sempit sehingga menyulitkan mereka untuk mengeluarkan cairan yang terjebak di dalamnya.

Gejala yang ditimbulkan antara lain telinga memerah, gatal, dan rasa tidak nyaman di dalam liang telinga, terkadang disertai dengan keluarnya cairan bening. 

Hal yang perlu diperhatikan adalah meskipun gejalanya ringan, tidak boleh diabaikan karena penyakit ini mudah sekali memburuk. Sebab infeksi bisa dengan cepat menyebar dan menguat, sehingga menyebabkan rasa sakit yang parah dengan semakin banyak cairan yang keluar, bengkak, demam, dan kehilangan pendengaran.

2. Penyumbatan kotoran telinga

Keluarnya kotoran telinga merupakan proses normal, sebab telinga memproduksi kotoran telinga berbentuk seperti lilin untuk melindungi telinga dari infeksi. 

Terkadang, kotoran telinga bisa menumpuk dan menutupi gendang telinga. Penumpukan kotoran telinga tidak ada hubungannya dengan perilaku bersih yang buruk dan tidak bisa mengatasinya hanya dengan mencucinya.

Kondisi medis ini tidak terlalu umum, dengan serangkaian gejala mulai dari pusing, batuk kering, nyeri di liang telinga, tekanan pada telinga, dan berdenging. 

3. Benda asing di liang telinga

Tidak hanya kotoran telinga yang bisa berada di dalam liang telinga, namun kemungkinan adanya benda asing juga mungkin ada. Misalnya seperti makanan, potongan mainan, kancing, ujung cotton bud, kertas, atau bahkan serangga. 

Biasanya benda asing ini terjebak di liang telinga bagian luar. Namun kondisi ini tidak sering terjadi, walaupun patut diwaspadai apabila ada nanah atau darah yang keluar dari telinga yang menunjukkan bahwa kondisinya sudah parah. 

4. Gendang telinga pecah

Gendang telinga merupakan membran tipis yang bergetar saat terkena suara, kemudian menyalurkan getaran tersebut menjadi sinyal yang dipahami oleh otak. 

Apabila gendang telinga pecah, sudah pasti pendengaranmu akan terdampak. Biasanya kondisi ini terjadi setelah adanya tekanan atau trauma ke gendang telinga, misalnya pukulan ke bagian telinga, ledakan kembang api, jatuh ke air, atau terkena objek tajam di telinga.

Kondisi ini jarang terjadi, namun membutuhkan penanganan medis segera jika mengalaminya. Gejala yang bisa terjadi adalah nyeri liang telinga, berdenging, vertigo, kehilangan pendengaran, dan juga cairan yang keluar dari telinga. Umumnya cairan yang keluar beragam, bisa berbentuk darah, nanah, atau cairan bening.

5. Cholesteatoma

Cholesteatoma adalah jenis kista kulit atau bengkak non-cancerous yang terletak di telinga tengah dan tulang mastoid di tengkorak. Penyakit ini tergolong cacat lahir, walaupun sering terjadi sebagai komplikasi dari infeksi telinga. 

Cholesteatoma merupakan kondisi yang jarang terjadi yang langsung butuh penanganan dokter. Biasanya diiringi dengan gejala tekanan di telinga, berdenging, nyeri di salah satu liang telinga, vertigo, dan kehilangan pendengaran. 

Kondisi telinga keluar cairan tidak dapat diabaikan meskipun disebabkan oleh kondisi ringan. Sebab jika dibiarkan bisa menimbulkan beberapa komplikasi yang lambat laun bisa berdampak pada pendengaran Anda. Segera atasi atau bawa ke dokter untuk penanganan lebih lanjut dan sebaiknya jangan melakukan diagnosis sendiri.

Waspadai Penyebab Gatal di Area Bibir Vagina Luar

Pernahkah Anda mengalami gatal di area bibir vagina luar? Rasa gatal tersebut bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor. Mungkin saja, ada kondisi medis tertentu yang menyerang tubuh Anda. 

Untuk mengetahui cara mengatasi rasa gatal itu, Anda perlu terlebih dahulu memahami apa penyebabnya. Dokter bisa membantu melakukan diagnosa untuk mengidentifikasi penyebab rasa gatal Anda.

Hal-hal yang bisa menyebabkan gatal di area bibir vagina luar

Penyebab rasa gatal di area bibir vagina luar ada bermacam-macam. Beberapa penyebab yang umum adalah sebagai berikut:

1. Bacterial Vaginosis

Bacterial vaginosis merupakan kondisi yang paling umum menyebabkan infeksi vagina pada wanita. Secara khusus, kondisi ini lebih mungkin terjadi pada wanita dalam rentang usia 15-44 tahun.

Pada dasarnya, bakteri memang ada pada vagina secara alami. Akan tetapi, pertumbuhan bakteri yang berlebihan bisa menyebabkan bacterial vaginosis. 

Rasa gatal pada bibir vagina merupakan salah satu gejala dari kondisi ini. Jika Anda aktif secara seksual, kondisi ini lebih rentan terjadi. 

2. Iritasi

Beberapa kandungan bisa menyebabkan iritasi ketika terpapar ke vagina. Salah satu gejala utama dari iritasi adalah gatal.

Iritasi juga bisa menjadi reaksi alergi yang menyebabkan gatal di berbagai area tubuh, termasuk di vagina. Hal ini terjadi ketika kulit vagina Anda terpapar oleh bahan kimia yang merupakan iritan.

Beberapa sumber iritan yang mengandung bahan kimia dan bisa menyebabkan gatal adalah sabun, krim pelembab, alat kontrasepsi topikal, deterjen, salep, dan lain-lain.

3. Infeksi jamur

Infeksi jamur juga bisa memicu rasa gatal di area bibir vagina luar. Sama seperti bakteri, jamur pada dasarnya ada pada vagina secara alami. Pertumbuhan jamur yang tidak terkendali akan menyebabkan infeksi jamur.

Pertumbuhan jamur pada vagina bisa menimbulkan rasa tidak nyaman. Salah satu gejalanya adalah rasa gatal. 

Jika Anda mengalami infeksi jamur pada vagina, Anda tidak perlu khawatir. Kondisi ini sangat umum dialami oleh para wanita di seluruh dunia dan bisa diobati dengan pengobatan tepat dari dokter.

4. Penyakit menular seksual

Penyakit menular seksual adalah penyakit yang pemaparannya terjadi ketika melakukan hubungan seksual. Ada banyak sekali berbagai jenis penyakit menular seksual. Beberapa gejala umum dari kondisi-kondisi tersebut adalah rasa gatal di vagina.

Terkadang, rasa gatal akibat penyakit menular seksual bisa menjadi semakin parah di malam hari. Selain gatal, Anda juga mungkin akan merasakan gejala tambahan berupa sensasi terbakar di vagina, aroma vagina yang tidak sedap, dan lain-lain.

5. Eksim atau dermatitis

Eksim merupakan penyakit kulit jangka panjang yang bisa terjadi pada kulit di bagian tubuh mana saja, termasuk di vagina. Kondisi ini akan membuat kulit menjadi kering, pecah-pecah, bersisik, dan gatal.

Apabila Anda mengalami dermatitis, bagian luar vagina juga akan terlihat meradang dan berwarna merah. Rasa gatal akibat eksim atau dermatitis akan semakin parah di malam hari.

Pengobatan untuk kondisi ini bermacam-macam. Salah satu cara untuk meredakan rasa gatal di area bibir vagina luar akibat eksim adalah menggunakan air dan sabun yang lembut, kemudian menggunakan pelembab pada kulit yang bermasalah.

Itulah beberapa macam penyebab gatal di area bibir vagina luar yang cukup umum. Bisa saja, setelah melakukan pemeriksaan ke dokter, dokter mengidentifikasi adanya faktor penyebab lain yang belum disebutkan di atas. 

7 Bahan Alami yang Bisa Lembapkan Bibir Kering

Bibir pecah-pecah sungguh tidak menyenangkan. Bukan cuma mengganggu penampilan, bibir pecah-pecah juga membuat risiko terkena infeksi mulut lebih besar karena kuman maupun bakteri bisa masuk lewat pecahan bibir. Bibir kering sendiri merupakan penyebab utama terjadinya bibir pecah-pecah yang sangat menyebalkan. 

image Mulut Kering

Bibir memang merupakan bagian tubuh yang paling mudah mengalami kekeringan. Ini karena kulit di bibir sangat tipis sehingga rentan mengelupas dan mengering saat terkena udara yang terlalu panas, terlalu dingin, ataupun penyebab lain. Di sisi lain, kelenjar minyak di bibir sangat minim sehingga tidak dapat menghasilkan kelembapan sendiri. 

Bibir pecah-pecah hanya satu dari gejala dan risiko yang timbul dari bibir kering. Gejala lain dari masalah ini, antara nyer lidah sampai suara serak. Pergi Ke dokter merupakan langkah bijak untuk memulihkan kondisi bibir kering. Namun sebelum itu, mencoba mengembalikan kelembapan bibir dengan bahan-bahan alami di bawah ini juga patut dicoba. 

  • Lidah Buaya 

Merebus tanaman lidah buaya dan mengambil gelnya dapat menjadi cara untuk memulihkan kondisi bibir kering. Pasalnya, gel yang ada dalam daun tanaman ini tinggi antioksidan dan vitamin yang mampu menghidrasi kulit secara maksimal. Gel lidah buaya juga memiliki sifat anti peradangan yang bisa mencegah bibir kering menjadi terinfeksi. 

  • Minyak Kelapa 

Minyak kelapa memiliki sangat banyak manfaat, tidak terkecuali untuk melembapkan bibir kering atau bagian kulit yang rentan lainnya. Ini karena minyak kelapa memiliki sifat emolien yang menenangkan dan melembutkan kulit. Anda bisa membuat minyak kelapa murni dengan merebus santan kelapa sampai kering dan tersisa minyak jernih. 

  • Madu 

Kemampuan madu untuk kesehatan sudah tidak perlu diragukan. Madu juga ampuh membuat bibir kering menjadi lembap kembali. Kandungan antioksidan dan sifat antibakteri yang terdapat pada madu juga mencegah munculnya infeksi berkembang di bibir yang sangat kering atau pecah-pecah. 

  • Gula 

Gula merupakan bahan alami yang mungkin tidak Anda sangka sebelumnya dapat membuat bibir kering menjadi lembap kembali. Kemampuan gula bahkan bisa disetarakan dengan beragam jenis minyak pelembap. Namun, Anda mesti berhati-hati ketika memakai gula untuk mengobati bibir kering. Umumna gula dipakai dalam bentuk masker di bibir. Namun jika tidak hati-hati ketika mengelupasnya, bibir kering Anda justru bisa mengalami pecah-pecah. 

  • Mentimun 

Coba cek apakah di kulkas Anda masih tersedia mentimun atau tidak. Jika ada, irislah mentimun tersebut tipis-tipis atau blender sampai halus. Setelah itu, Anda bisa menggunakan mentimun sebagai masker bibir. Mentimun memberikan rasa segar dan lembut pada bibir karena mengandung vitamin dan mineral yang baik untuk melembapkan. Penampilan bibir kering Anda pun akan membaik ketika rajin memakai masker mentimun tersebut. 

  • Teh Hijau 

Teh hijau memiliki segala kandungan yang Anda butuhkan untuk memulihkan bibir kering. Ada antioksidan dan mineral pada teh hijau yang membuat infeksi dan peradangan pada bibir mereda. Ada pula kandungan polifenol pada bahan alami ini yang membantu melembutkan bibir. Cara pengaplikasian teh hijau untuk melembapkan bibir kering pun tidak sulit. Anda hanya perlu merendam sekantong teh hijau dalam air hangat. Setelah itu, usapkan dengan lembut ke bibir untuk menghilangkan kulit kering yang mengganggu. 

  • Alpukat 

Alpukat memiliki kandungan vitamin E yang baik untuk kulit, tidak terkecuali untuk melembapkan bibir kering yang Anda alami. Tidak hanya itu, alpukat juga memiliki kandungan asam oleat dan linoleat yang mampu mempertahankan hidrasi kulit lebih lama sehingga masalah serupa tidak muncul di kemudian hari. Jika Anda kesulitan memakai alpukat utuh untuk masker bibir, Anda bisa mencoba membeli mentega alpukat yang memiliki daya serap lebih baik di kulit. 

Sekarang cek dapur Anda, dari beragam bahan alami di atas mana yang tersedia? Segera ambil bahan tersebut dan praktikkan cara melembapkan bibir Anda untuk menghilangkan bibir kering yang mengganggu penampilan dan kesehatan.

Pentingkah Vaksin Typoid Diberikan pada Anak?

Vaksin typoid menjadi satu dari beberapa jenis imunisasi yang harus diberikan kepada anak.Vaksin ini untuk mencegah penyakit demam tifoid (tipes) yang sering menyerang anak-anak dan orang dewasa.

Demam typhoid (tifoid) atau tipes adalah penyakit infeksi akut yang disertai demam yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. 

Penyebab munculnya bakteri ini karena kebersihan makanan atau minuman, lingkungan, dan diri sendiri yang yang tidak terawat. Penyakit ini juga bisa ditularkan melalui feses orang yang sudah terinfeksi. 

Lantas, apakah vaksin typoid ini diperlukan? 

Seberapa Efektif Vaksin Typoid untuk Mencegah Tifus? 

Vaksinasi typoid dilakukan sebagai upaya pencegahan serta mengobati penderita demam tifoid sampai tuntas sehingga mereka tidak menjadi pembawa kuman atau carrier. 

Indonesia membutuhkan imunisasi ini karena termasuk wilayah endemis thypoid, yang mana setiap tahun kejadian thypoid masih tinggi.

Efektivitas vaksin typoid dalam mencegah tifus cukup tinggi yakni 50-80%. Dengan penjelasan sebagai berikut:

  • Vaksin oral memiliki efektivitas sebesar 36-66 persen untuk mencegah demam tifoid.
  • Vaksin jenis suntik mampu perlindungan sebesar 60-70 persen  pada anak di atas 5 tahun dan orang dewasa.

Namun, selain vaksin hal yang tidak kalah untuk mencegah penyakit tifus yaitu menjaga asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi, tersedianya air bersih, jarak septic tank dengan sumber air kurang dari 10 meter, serta selalu rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir terutama sebelum makan. 

Mereka yang Harus Divaksin

Setiap orang sebisa mungkin melindungi dirinya dengan vaksin typoid. Adapun mereka yang sangat dianjurkan diberikan vaksin ini yaitu anak usia sekolah.

Selain anak-anak, beberapa orang yang sangat diwajibkan untuk mendapatkan vaksin ini di antaranya:

  • Orang yang bekerja di laboratorium dan menangani bakteri S. typhi
  • Bekerja atau bepergian di daerah endemik (penularannya penyakitnya cukup tinggi)
  • Memiliki kontak dekat dengan pasien demam tifoid
  • Tinggal di lingkungan yang air atau tanahnya berisiko terkontaminasi bakteri
  • Petugas kuliner (yang berhubungan dengan makanan dan minuman)

Orang yang Tidak Dianjurkan Melakukan Vaksin Typoid 

Sekalipun vaksin typoid mampu mencegah penyakit tifus, tetapi beberapa kondisi yang membuat seseorang harus menunda pemberian vaksin. Orang-orang berikut sebaiknya tidak melakukan imunisasi typoid: 

  • Alergi terhadap bahan di dalam vaksin
  • Mereka yang mempunyai sistem kekebalan tubuh yang lemah (misalnya mengidap HIV/AIDS)
  • Sedang mengonsumsi antibiotik atau obat antimalaria
  • Ibu hamil dan menyusu
  • Memiliki reaksi alergi berat pada riwayat pemberian vaksin thypoid sebelumnya
  • Orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh atau menderita kanker, atau dalam pengobatan kanker.

Sementara itu, untuk anak yang sedang sakit ringan, seperti demam ringan, batuk, atau pilek, masih bisa diberikan imunisasi typoid. Namun, pastikan Anda bertanya dulu kepada dokter sebelum vaksin ini dilakukan. 

Cara Kerja Vaksin Typoid

Saat ini ada tiga jenis vaksin tifoid yang direkomendasikan WHO, yakni:

  • Vaksin konjugat tifoid suntik (TVC) yang diperuntukkan bagi anak berusia 6 bulan hingga orang dewasa berusia 45 tahun
  • Vaksin polisakarida tak terkonjugasi bagi anak berumur 2 tahun ke atas
  • Vaksin Ty21a yang diberikan berupa kapsul dan diberikan secara oral bagi yang berusia di atas 6 tahun

Vaksin suntik tifoid jenis polisakarida dapat diberikan pada orang dewasa dan anak di atas usia 2 tahun. Vaksin ini harus diberikan setidaknya 2 minggu sebelum perjalanan ke daerah endemik dilakukan.

Dosis lanjutan diperlukan jika orang tersebut memiliki risiko terinfeksi lagi di kemudian hari. Jangka waktu pemberiannya adalah 3 tahun setelah suntikan pertama. 

Kemudian, vaksin jenis oral bisa diberikan pada anak usia 6 tahun dan orang dewasa.

Meski begitu, saat seorang anak sudah mendapatkan vaksin tifoid, kemudian ia terserang demam tifoid di kemudian hari maka gejala yang dialaminya akan lebih ringan daripada anak lainnya yang belum mendapatkan vaksin tifoid.

Syarat Vaksin Covid 19, yang Boleh dan Tidak

Pemberian dosis vaksin COVID-19 mulai dilakukan di banyak negara. Di Amerika Serikat, Badan Obat dan Makanan (DFA) memberikan otorisasi kegawatdaruratan untuk vaksin COVID-19 Pfizer-BioNtech dan Moderna. Kedua vaksin tersebut diberikan dalam 2 dosis secara intramuskular. Vaksin Pfizer diberikan dengan rentang jarak 21 hari, sementara vaksin Moderna diberikan dengan rentang jarak 28 hari. Artikel ini akan membahas hal-hal seputar vaksin COVID-19, tentang siapa yang boleh menerima vaksin dan tidak sesuai dengan syarat vaksin covid 19.

Masyarakat Umum | Satgas Penanganan Covid-19

Apakah vaksin COVID-19 aman?

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) telah menerima beberapa laporan awal bahwa beberapa orang menderita reaksi alergi parah setelah mendapatkan vaksin COVID-19. Meskipun jarang dijumpai, reaksi alergi seperti anaphylaxis merupakan sebuah hal yang menakutkan dan dapat mengancam nyawa, sehingga laporan tersebut patut untuk dikhawatirkan. Untuk itu, syarat vaksin covid 19 menurut CDC adalah bagi orang-orang yang memiliki reaksi alergi parah terhadap bahan yang ada di dalam vaksin, disarankan untuk tidak mendapatkan suntikan vaksin tersebut. Selain itu, orang-orang yang memiliki reaksi alergi parah terhadap vaksin jenis lain atau terapi suntik harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter tentang apa yang terbaik untuk kondisi mereka. 

Mereka yang memiliki riwayat reaksi alergi parah yang tidak berhubungan dengan vaksinasi (misalnya alergi karena makanan, racun, hewan peliharaan, dan latex) masih bisa mendapatkan vaksinasi COVID-19. Sementara itu, mereka yang tidak memiliki riwayat reaksi alergi parah akan dipantau selama 15 setelah mendapatkan vaksinasi. CDC menyarankan bagi mereka yang menderita reaksi alergi parah untuk dipantau selama 30 menit. 

Ibu hamil dan menyusui

Belum ada data tentang keamanan vaksin COVID-19 untuk ibu hamil, karena mereka tidak masuk ke dalam uji klinis. Menurut CDC, berdasarkan informasi saat ini, para ahli percaya bahwa vaksin mRNA kemungkinan besar tidak akan menyebabkan risiko bagi ibu hamil ataupun janin. Jika ibu hamil merupakan bagian dari kelompok orang yang direkomendasikan untuk menerima vaksin COVID-19 (tenaga medis), mereka dapat memilih untuk mendapatkan vaksinasi. 

Akan tetapi, saran tersebut sangatlah berbeda apabila dibandingkan dengan saran dari Britania Raya, di mana mereka tidak menyarankan vaksinasi pada ibu hamil. Meskipun demikian, ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit COVID-19 dan berisiko menyebabkan komplikasi kehamilan yang parah. Meskipun tidak ada cukup data saat ini, para peneliti tahu bahwa vaksin dapat melindungi, dan dengan mengetahui risiko yang dibawa oleh penyakit COVID-19 pada saat kehamilan, terlihat bahwa manfaat yang dibawa oleh vaksin jauh lebih besar dibandingkan dengan risiko efek samping. 

Selain itu, tidak ada data tingkat keamanan vaksin pada ibu menyusui atau efek dari vaksin COVID-19 terhadap bayi yang menyusu ASI, namun CDC menyatakan bahwa vaksin dipercaya tidak berbahaya bagi bayi yang sedang menyusu. Oleh sebab itu, ibu menyusui yang menjadi bagian dari kelompok yang direkomendasikan untuk mendapatkan vaksin segera (misalnya tenaga kesehatan) dapat memilih untuk mendapatkan vaksin. 

Uji klinis juga menunjukkan bahwa vaksin aman untuk orang-orang yang telah terinfeksi COVID-19 sebelumnya. CDC menyatakan bahwa vaksinasi perlu ditunda hingga orang tersebut telah sembuh dari penyakit yang akut (apabila gejala muncul) dan mereka telah memenuhi syarat vaksin covid 19 dan kriteria untuk meninggalkan lokasi isolasi. Untuk informasi lebih lanjut apakah Anda dapat menggunakan vaksin, konsultasi dengan dokter terlebih dahulu.