7 Penyebab Orang Senang Membicarakan Keburukan Orang Lain

Sudah menjadi aktivitas yang digemari banyak orang meskipun sama sekali tidak berguna, membicarakan keburukan orang lain. Hal ini dibuktikan dalam sebuah penelitian di University of Amsterdam yang mengungkap bahwa 90 persen dari total obrolan orang kantor cenderung mengarah pada gosip.

Meski begitu, kebiasaan ini ternyata memiliki berbagai alasan seperti menjadi salah satu cara untuk terhubung dengan sesama. Terlebih manusia memiliki dorongan yang kuat untuk mengetahui tentang kehidupan orang lain. Berikut beberapa alasan mengapa seseorang cenderung senang ketika membicarakan hal buruk orang lain.

Penyebab Membicarakan Keburukan Orang Lain

  1. Menghidupkan Suasana Obrolan

Sering kali kehabisan topik dalam mengobrol membuat suasana pertemuan menjadi hambar, agar suasana menjadi lebih hidup dan tidak terasa membosankan seseorang perlu membicarakan keburukan orang lain. Selain itu, topik pembicaraan ini juga dianggap lebih seru dan membuat penasaran.

  1. Diterima dalam Pergaulan

Bagi sebagian orang ada yang menganggap jika membicarakan hal buruk orang lain bisa membuat mereka diterima dalam lingkungan pergaulan. Terlebih jika dalam lingkaran pergaulan ini memang menggemari gosip sebagai bahan utama pembicaraan jika bertemu.

  1. Membuat Diri Sendiri Lebih Baik

Menjadikan keburukan orang lain sebagai topik pembicaraan dinilai mampu membuat sebagian orang terlihat lebih baik dari orang lain. Inilah yang menjadi alasan mengapa banyak orang yang senang membicarakan hal buruk orang lain.

  1. Balas Dendam

Ada kalanya seseorang merasa iri dan dendam terhadap orang lain, kondisi ini bisa membuat orang tersebut secara sadar dan langsung membicarakan hal-hal buruk terkait dengan orang lain itu. Apa saja yang dilakukan orang lain, selalu salah di matanya dan kebiasaan ini bisa memberi kepuasan tersendiri bagi pendendam tersebut.

  1. Ajak Membenci

Ajakan untuk membenci orang lain pada lawan bicara bisa menjadi salah satu alasan mengapa seseorang membicarakan hal-hal buruk orang lain tersebut. Situasi ini juga akan memberi orang itu kepuasan jika lawan bicaranya juga ikut membeci orang yang tengah dibicarakan.

  1. Mendapat Perhatian

Adanya keinginan atau haus perhatian dari orang lain sehingga mereka sering kali menjadikan keburukan orang lain sebagai bahan pembicaraan. Terlebih jika mereka hanya yang mengetahui keburukan itu, sehingga dapat menjadikannya sebagai pusat perhatian.

  1. Agar Berkuasa

Biasanya orang yang mengetahui keburukan orang lain memiliki pemikiran untuk bisa memanfaatkan kondisi tersebut. Seperti misalnya untuk dapat berkuasa, hal ini sangat mungkin jika mereka mengetahui hal-hal buruk tentang seseorang yang dikenalnya secara dekat. 

Kondisi ini terkadang bisa menjadi obrolan biasa, namun jika didasari dengan niat yang tidak baik maka hanya akan meracuni hati dan pikiran. Kebiasan membicarakan keburukan orang lain biasanya identik dengan perempuan, meskipun para pria juga melakukan hal ini. Penelitian yang dilakukan di Inggris menemukan bahwa 33 persen pria membicarakan orang lain lewat ponsel.

Membicarakan orang lain terutama pada hal-hal buruk bisa menciptakan permusuhan dan merusak hubungan pertemanan. Tentunya hal ini perlu dihindari agar kondisi tersebut tidak terjadi, terutama di tempat kerja dan bisa menurunkan produktivitas serta konsentrasi saat bekerja. Sangat disarankan untuk tidak membicarakan keburukan orang lain.

Namun, jika memiliki masalah pribadi dengan orang yang dimaksud segera selesaikan secara baik-baik dan jangan melibatkan orang lain. Hingga bahkan membuat orang lain mengetahui aib dari hubungan dengan orang tersebut, menjadi pribadi yang menyenangkan dan senang bergaul ketimbang harus menjelekkan orang lain jauh lebih berharga.

Gangguan Koordinasi Perkembangan Buat Anak Sulit Melakukan Gerakan Sederhana

Dispraksia atau gangguan koordinasi perkembangan adalah kondisi pada anak di mana terjadi gangguan keterampilan motorik akibat keterlambatan perkembangan gerakan dan koordinasi. Akibatnya, anak yang mengalami dipreksia ini akan kesulitan melakukan tugas sehari-harinya.

Gangguan dispreksia ini secara umum memang terjadi pada anak, namun ada juga terjadi pada orang dewasa. Anak yang mengalami gangguan koordinasi perkembangan ini akan sulit melakukan hal-hal sederhana sekalipun, seperti menulis, mengikat tali sepatu, ataupun menuruni anak tangga. Hal ini biasanya membuat anak tidak bisa melakukan tugas seperti anak lain seusianya.

Selain itu, anak yang mengalami gangguan koordinasi perkembangan ini juga akan terlambat untuk bisa berdiri, duduk, berbicara, hingga berjalan. Sebab, anak tidak bisa mengkoordinasikan pikiran dan perbuatannya secara aktual.

Tak sedikit bahkan orang yang menyebut anak dispreksia bodoh, tidak kompeten, ceroboh, atau pandangan negatif lainnya. Padahal sebenarnya anak dengan gangguan koordinasi perkembangan memiliki kecerdasan yang normal.

Sebaiknya, anak dengan kondisi ini segera diberikan penanganan agar tidak mengganggu kualitas hidupnya. Sebab, mereka akan cenderung menarik diri dari berbagai aktivitas sosial dan kegiatan olahraga. Tanpa berolahraga, anak dispreksia akan mengalami otot yang lemah dan justru menambah berat badan anak.

Apa Penyebab Terjadinya Gangguan Koordinasi Perkembangan Ini?

Gangguan koordinasi perkembangan ini kebanyakan memang lebih sering dialami oleh anak berjenis kelamin laki-laki dibanding perempuan. Kondisi ini juga rentan terjadi pada anak yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat dispreksia. Namun, penyebab pastinya belum diketahui hingga saat ini. Peneliti meyakini bahwa kondisi ini disebabkan karena terjadinya perlambatan perkembangan otak anak.

Meski tidak ada kondisi medis yang bisa menjelaskan terjadinya dispreksia ini, namun biasanya bayi yang lahir prematur lebih berisiko tinggi mengalami gangguan koordinasi perkembangan ini.

Dispreksia juga bisa dibarengi dengan adanya gangguan mental lain di beberapa kasus. Seperti masalah autisme, disleksia, dan attention deficit hyperactive disorder (ADHD). Namun, perlu diketahui bahwa antara kedua penyakti ini tidak memiliki hubungan sama sekali.

Gejala Gangguan Koordinasi Perkembangan

Anak yang mengalami gangguan koordinasi perkembangan bisa terlihat berbagai gejala berikut ini.

  • Sering tersandung
  • Sering menjatuhkan barang
  • Penderita akan kesulitas menuruni tangga
  • Penderita berjalan tidak seimbang
  • Sering menabrak orang
  • Sulit menjaga kesimbangan, koordinasi, dan pergerakan
  • Sulit ketika memegang benda kecil
  • SUlit mempelajari keterampilan baru
  • Sulit melakukan aktivitas di sekolah
  • Kesulitan saat mengikat tali sepatu, melakukan perawatan diri sendiri, hingga mengenakan pakaian

Cara Mengobati Gangguan Koordinasi Perkembangan

Gangguan koordinasi perkembangan ini bisa ditangani dengan menjalani terapi sensori integrasi jangka panjang untuk mengurangi berbagai gejala-gejala yang dialami. Terapi ini akan melibatkan terapi fisik, program pembelajaran tertentu, terapi okupasi, dan juga latihan kemampuan sosial.

Terapi juga bertujuan untuk meningkatkan koordinasi saraf motorik halus dan kasar agar bisa berjalan bersamaan dan ank dapat menjalani aktivitas sesuai dengan usianya.

Pada terapi fisik, anak akan diajarkan cara unutk menjaga keseimbangan, cara berkoordinasi, dan melakukan komunikasi dengan lebih baik. Biasanya anak akan dilibatkan dengan olahraga individual seperti berenang hingga bersepeda.

Sedangkan terapi okupasi ini akan melibatkan terapis yang akan mendampingi anak ketika di sekolah agar kesulitan yang ditemui bisa diatasi.

Terapis yang mendampingi anak dengan gangguan koordinasi perkembangan juga ada yang meminta izin pada kepala sekolah atau guru agar anak belajar menggunakan komputer atau smartphone karena keterbatasannya dalam melakukan kegiatan menulis.