Berikut Efek Samping Obat Lapisiv Sirup

Apabila kita mengalami batuk dan flu yang disertai dengan alergi, maka salah satu obat yang bisa diandalkan adalah lapisiv sirup. Obat yang masuk ke dalam kategori golongan bebas terbatas ini memang memiliki khasiat untuk mengatasi flu dan batuk yang disertai dengan alergi. Akan tetapi, dalam penggunaannya, obat tersebut juga tak bisa digunakan secara sembarangan. 

Hal tersebut diingatkan kepada pembaca karena lapisiv sirup juga memiliki efek samping. Nah, terkait itu, maka dalam artikel ini akan menjelaskan apa saja efek samping yang bisa muncul ketika menggunakan obat tersebut. 

  • Kantuk 

Efek samping pertama dari lapisiv sirup adalah kantuk. Mengantuk ini secara umum bisa dikatakan sebagai kondisi di mana seseorang merasa ingin tidur. Kita sudah ketahui bersama, bahwasanya penyebab umum ngantuk ini karena kurang tidur. Akan tetapi, selain itu, kantuk juga bisa disebabkan karena berbagai faktor, seperti penyakit, gaya hidup, gangguan mental, dan efek samping obat yang dikonsumsi. 

Khusus yang disebabkan karena efek samping obat-obatan, rasa mengantuk ini bisa muncul dari penggunaan obat yang memiliki khasiat atau mengandung zat untuk anti alergi, anti kejang, antidepresan, obat hipertensi, obat jantung, atau obat asma. Lantaran lapisiv sirup berkhasiat mengatasi flu dan batuk yang disertai alergi, maka obat ini juga memiliki efek samping yang bisa membuat penggunanya mengantuk. 

  • Pusing 

Pusing sebetulnya bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Terkadang, sensasi seperti kepala berputar, melayang, atau terasa berat ini muncul secara tiba-tiba. Dikutip dari berbagai sumber, pusing sesungguhnya tidak masuk dalam kategori sebuah penyakit. Akan tetapi, disebutkan sebagai gejala akan kondisi perubahan tubuh manusia atau gejala untuk penyakit tertentu. 

Adapun yang bisa menyebabkan seseorang mengalami pusing salah satunya adalah efek samping obat, yang dalam hal ini seperti lapisiv sirup. Selain itu, pusing juga bisa disebabkan karena adanya gangguan saraf, gangguan kecemasan, kekurangan zat besi atau anemia, dan kekurangan kadar gula dalam darah. Di samping itu, pusing juga bisa muncul karena faktor cuaca yang terlalu panas, dehidrasi, dan efek dari meminum minuman yang mengandung alkohol. 

  • Mulut kering 

Efek samping ketiga yang dapat muncul dari penggunaan lapisiv sirup adalah mulut kering. Secara umum, mulut terasa kering adalah kondisi yang mana kelenjar ludah di bagian mulut tidak memproduksi air liur yang cukup guna menjaga kelembabannya. Adapun penyebab mulut kering selain efek samping obat adalah masalah penuaan dan efek terapi yang menggunakan radiasi, seperti terapi penyakit kanker. 

Khusus mulut kering karena efek samping obat-obatan ini kerap kali terjadi pada seseorang yang mengonsumsi obat, seperti anti-tekanan darah tinggi, anti depresi, antihistamin, obat nyeri, dekongestan, dan lain-lain. 

  • Ruam kulit 

Efek samping terakhir yang bisa muncul dari mengonsumsi lapisiv sirup adalah ruam kulit. Seseorang bisa dinyatakan mengalami ruang kulit apabila mengalami kondisi perubahan pada kulitnya, seperti kemerahan, iritasi, peradangan, bahkan bintil. Sebagai informasi, umumnya bagian kulit yang mengalami ruam akan terasa gatal atau panas. 

Selain efek samping obat, ruam pada kulit bisa juga disebabkan karena reaksi alergi, penyakit tertentu, digigit serangga, dan lain sebagainya. Adapun ruam kulit juga memiliki berbagai jenis, baik bagi dewasa dan anak-anak. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika pembaca mencari tahu lebih lanjut apa saja jenis dari ruam kulit. 

Demikianlah penjelasan singkat mengenai efek samping dari penggunaan obat lapisiv sirup. Meskipun obat yang satu ini bisa mengatasi batuk dan flu yang disertai batuk, tapi pasien diharapkan untuk berhati-hati saat mengonsumsinya. Jika nanti terjadi efek samping dan berlangsung dalam waktu lama, maka pasien disarankan untuk menemui dokter terkait.

Tidak Melulu Pilek, Berikut 5 Penyebab Bersin yang Unik

Seringkali bersin dikaitkan dengan penyakit pilek, flu, dan sejenisnya. Tidak hanya karena virus influenza, penyebab bersin ada banyak. Tidak jarang penyebabnya pun unik. Mulai dari serbuk sari pada tanaman hingga terpapar sinar matahari, masih banyak lagi yang menjadi penyebab seseorang menjadi bersin. Hal tersebut turut membuktikan bahwa bersin merupakan respon alami tubuh pada manusia.  

Berbagai penyebab bersin

Oleh karena itu, menjadi hal yang lumrah apabila Anda merasakan bersin meski sedang tidak menderita flu dan pilek. Berikut situasi yang memungkinkan seseorang untuk merasakan gejala bersin:

Serbuk sari tanaman

Serbuk sari pada tanaman merupakan salah satu jenis  iritan selain debu dan kuman yang bisa masuk ke hidung manusia. Apabila serbuk sari masuk ke dalam tenggorokan, maka saraf akan merespon dan mengirim pesan ke pusat bersin. Pusat tersebut kemudian mengirimkan sinyal ke bagian tubuh yang lain seperti pita suara, diafragma, otot dada, hingga otot di belakang tenggorokan sehingga terjadi bersin. Meski tidak berbahaya, ada baiknya untuk terus menggunakan masker sebagai bentuk pencegahan masuknya berbagai kemungkinan alergi dari iritan. 

Alergi Makanan

Berhati-hatilah saat memilih dan mengonsumsi makanan, ternyata alergi makanan juga memicu terjadinya gejala bersin. Selain itu, reaksi lainnya yang muncul adalah hidung berair, area mata gatal-gatal, hingga timbul ruam kemerahan di sekitar kulit. Beberapa contoh makanan yang sering memicu terjadinya alergi diantaranya adalah kedelai, telur, susu, kacang hingga hewan air tawar yang memiliki cangkang. 

Alergi Bulu Hewan

Menjadi hal yang menyedihkan apabila pecinta hewan peliharaan harus mengalami alergi yang satu ini. Betul, beberapa kasus menunjukkan bahwa seseorang yang alergi dengan bulu hewan berpotensi merasakan gejala bersin. Hal yang umum apabila seseorang bersin-bersin saat berada dekat dengan hewan berbulu. Sebab ada kemungkinan besar hewan berbulu lebat seperti anjing dan kucing mengalami kerontokan pada bulunya. Tidak hanya itu, alergi bulu hewan juga menyebabkan gatal di area kulit, pembengkakan, peradangan, hingga sesak napas.

Konsumsi Makanan Pedas

Secara spesifik, alergi yang dipicu dari mengonsumsi jenis makanan tertentu disebut dengan gustatory rhinitis. Salah satu penyebab bersin dan hidung berair disebabkan mengonsumsi beberapa jenis makanan seperti: sup pedas, wasabi, salsa, bubuk cabai, sambal, hingga kari pedas. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali makanan apa saja yang menimbulkan reaksi alergi.

Terpapar Cahaya Sinar Matahari

Pernahkan Anda tanpa sengaja terkena paparan sinar matahari kemudian bersin-bersin? Kondisi tersebut disebut dengan refleks nasokuler. Dalam dunia medis, kondisi tersebut melibatkan respon antara hidung dan mata. Ada reaksi terjadi pada saraf dalam selaput lendir hidung sehingga menimbulkan gejala bersin. Scientific American mencatat bahwa refleks nasokuler dialami sekitar 18-35 persen populasi dan biasanya dialami oleh perempuan. 

Lima penyebab bersin di atas memanglah unik. Seseorang bisa mengalami gejala bersin meski tidak sedang sakit pilek dan flu. Apabila Anda memiliki alergi terhadap iritan tertentu, tidak ada salahnya untuk mencari tahu apa saja yang bisa dilakukan. 

Itulah 5 penyebab bersin yang unik dan sering terjadi di sekitar kita. Solusi dapat dimulai dengan rutin menggunakan masker dan kacamata hitam saat keluar rumah. Selain itu, jika gejala bersin timbul dalam waktu yang lama, segera konsultasikan dengan dokter terdekat dan gunakan obat untuk meredakannya. 

Hufabethamin, Obat Sirup yang Keras

Hufabethamin sirup adalah obat yang diindikasikan untuk perawatan pilek, gatal atau ruam, alergi, kondisi kulit, peradangan kulit, ataksia telangiektasia, phimosis, hay fever, pilek, rinitis alergi musiman dan abadi dan kondisi lainnya. Hufabethamin sirup juga dapat digunakan untuk tujuan yang tidak tercantum di atas.

Obat ini bekerja dengan cara memblokir zat alami tertentu (histamin) yang dibuat tubuh Anda selama reaksi alergi. Hal ini juga memblokir zat alami lain yang dibuat oleh tubuh Anda (asetilkolin). Memblokir asetilkolin membantu mengurangi gejala seperti mata berair dan pilek.

Minum hufabethamin sirup melalui mulut dengan atau tanpa makanan seperti yang diarahkan oleh dokter Anda, biasanya setiap 4 hingga 6 jam. Obat ini bisa diminum dengan makanan atau susu jika sakit perut terjadi.

Jika Anda menggunakan obat berbentuk sirup ini, ukur dosisnya dengan cermat menggunakan alat ukur atau sendok khusus. Jangan gunakan sendok makan biasa karena Anda mungkin tidak mendapatkan dosis yang tepat.

Dosis hufabethamin ditentukan berdasarkan kondisi medis Anda, usia, dan respons terhadap pengobatan. Jangan menambah dosis Anda atau minum hufabethamin lebih sering dari yang diarahkan dan minum obat ini secara teratur untuk mendapatkan manfaat maksimal darinya..

Sebelum mengambil hufabethamin, beritahu dokter atau apoteker Anda jika Anda alergi terhadapnya atau jika Anda memiliki alergi obat-obatan lain. Produk ini mungkin mengandung bahan tidak aktif yang dapat menyebabkan reaksi alergi atau masalah lain. Bicaralah dengan apoteker Anda untuk lebih jelasnya.

Sebelum menggunakan hufabethamin, beritahu dokter mengenai riwayat kesehatan Anda, terutama dari: masalah pernapasan (seperti asma, emfisema), glaukoma, masalah jantung, tekanan darah tinggi, penyakit hati, kejang, masalah perut atau usus (seperti maag, penyumbatan), tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme), kesulitan buang air kecil (seperti akibat pembesaran prostat).

Hufabethamin bisa membuat Anda pusing atau mengantuk atau menyebabkan penglihatan kabur. Oleh karena itu, Anda disarankan untuk tidak mengemudi, menggunakan mesin, atau melakukan apa pun yang membutuhkan kewaspadaan atau penglihatan yang jelas sampai Anda dapat melakukannya dengan aman. 

Produk hufabethamin sirup atau cair mungkin mengandung alkohol, gula, dan atau aspartam. Perhatian disarankan jika Anda menderita diabetes, penyakit hati, fenilketonuria (PKU), atau kondisi lain yang mengharuskan Anda membatasi atau menghindari zat ini dalam makanan Anda. Tanyakan kepada dokter atau apoteker Anda tentang penggunaan produk ini dengan aman.

Orang dewasa yang lebih tua mungkin lebih sensitif terhadap efek samping hufabethamin, terutama kantuk, pusing, kebingungan, sembelit, atau kesulitan buang air kecil. Karena mengantuk, pusing, dan kebingungan dapat meningkatkan resiko terjatuh pada orang yang lebih tua.

Anak-anak mungkin lebih sensitif terhadap efek samping hufabethamin, obat ini seringkali dapat menyebabkan kegembiraan pada anak kecil, bukan kantuk. Selama kehamilan, obat ini harus digunakan hanya jika dibutuhkan dengan jelas. Diskusikan resiko dan manfaat hufabethamin dengan dokter Anda. Obat ini masuk ke dalam ASI dan mungkin memiliki efek yang tidak diinginkan pada bayi yang menyusui. Konsultasikan dengan dokter Anda sebelum menyusui.

Perlu diingat, hufabethamin termasuk dalam golongan obat keras yang membutuhkan resep. Oleh karena itu Anda dilarang untuk berbagi obat ini dengan siapapun, meski orang tersebut mungkin memiliki penyakit yang sama dengan Anda.

Bahaya Alergi Terhadap Bulu Kucing yang Perlu Dipahami

Kucing menjadi salah satu binatang lucu dan menggemaskan yang kerap kali merupakan pilihan banyak orang untuk dipelihara di rumah. Namun, bagi sebagian masyarakat juga merupakan ancaman karena memiliki alergi terhadap bulu kucing. Karena dampak yang ditimbulkan alergi kucing terhadap orang muncul berbeda-beda.

Alergi terhadap bulu kucing merupakan kondisi di mana tubuh mengalami reaksi atau gejala ketika terpapar bulu kucing sebagai pemicu munculnya alergi. Bahaya dari bulu kucing tergantung pada kondisi setiap orang yang mengalaminya, jika reaksi yang ditimbulkan ringan maka dapat ditangani dengan mudah, berbeda dengan reaksi berat yang termasuk kategori berat.

Gejala Alergi Kucing

Secara umum alergi terhadap bulu kucing memiliki tanda yang mirip dengan gejala alergi pada umumnya. Terdapat beberapa yang sifatnya ringan dan berlangsung sebentar, tetapi tak menutup kemungkinan reaksi alergi yang ada cukup serius perlu penanganan medis segera mungkin, berikut beberapa gejala alergi yang biasa muncul.

  1. Bersin

Bersin-bersin merupakan gejala yang paling mudah dikenali, gejala ini seringkali luput dari perhatian banyak orang. Banyak orang menganggap jika bersin yang muncul adalah karena reaksi alergi terhadap debu, padahal di saat bersamaan juga tengah memelihara kucing, kondisi ini sangat perlu diperhatikan.

  1. Gatal-gatal

Gatal-gatal ini muncul pada beberapa bagian tubuh, seperti mata dan kulit dari kucing, reaksi alergi ini muncul sesaat setelah menyentuh bulu kucing. Namun, ada juga yang merasakan beberapa jam atau hari setelahnya , bergantung pada kemampuan respons sistem imun masing-masing seseorang.

  1. Pembengkakan

Pembengkakan bisa terjadi pada mata, sama seperti gatal kondisi ini yang terjadi pada mata bisa muncul beberapa menit setelah terpapar bulu kucing, atau dalam kurun waktu beberapa jam hingga hari kemudian.

  1. Peradangan

Tanda alergi selanjutnya bisa dilihat ketika sinus yang meradang setelah menyentuh kucing, gejala ini bahkan tergolong cukup serius serta bergantung pada seberapa besar sensitivitas sistem imun tubuh. Apabila mengalami gejala ini, seseorang perlu memeriksakan diri ke dokter.

  1. Sesak Napas

Potensi syok anafilaksis juga ada, reaksi yang tergolong parah dan bahkan bisa mengancam jiwa ketika penderita tidak segera ditangani. Kondisi ini diakibatkan karena penyumbatan pada tenggorokan yang kemudian mengakibatkan sesak napas, sehingga pasien harus segera mendapat penanganan medis karena kondisi ini mengancam jiwa.

Penyebab Alergi Bulu Kucing

Perlu diketahui jika kondisi ini tidak sepenuhnya disebabkan karena bulu kucing, beberapa di antaranya muncul karena kontak sel kulit mati atau dander, air liur dan urine yang telah terkontaminasi bakter dan virus merupakan penyebab sesungguhnya.

Saat kucing melepaskan sel kulit mati atau menjilati tubuh dengan air liur, pada saat itulah bakteri dan virus yang ada pada kulit mati dan air liur berpindah ke bulu kucing. Kemungkinan besar saat tangan menyentuh bulu ini, tanpa disadari bulunya terlepas hingga menempel atau terhirup hidung dan masuk ke dalam tubuh.

Alergi kucing terjadi ketika sistem imun akan mendeteksi bahaya dari bakteri yang terhirup tadi, kondisi ini membuat tubuh memproduksi zat antibodi untuk melakukan perlawanan. Akibat yang muncul, reaksi alergi bisa terjadi setelah atau beberapa jam usai penderita melakukan kontak langsung dengan kucing.

Mengenal bahaya dan memahami cara merawat kucing yang benar memang perlu dilakukan, sehingga nantinya seseorang bisa meminimalisasi risiko terhadap bahaya yang ditimbulkan bulu kucing.