Kegunaan Obat Obical dan Efek Sampingnya Bagi Tubuh

Kalsium berfungsi menjaga kesehatan dan kekuatan tulang dan gigi. Kalsium juga dibutuhkan bagi jantung dan sistem saraf agar bisa berfungsi dengan baik. Seiring bertambahnya usia, kadar kalsium dalam tubuh semakin berkurang sehingga kita harus meningkatkan asupannya melalui konsumsi suplemen. 

Obical tablet adalah suplemen makanan yang berfungsi meningkatkan kepadatan tulang serta menunjang proses pertumbuhan tulang dan gigi pada anak. Dengan memenuhi asupan kalsium, Anda akan terhindar dari risiko osteoporosis di masa tua nanti. 

Indikasi dan kegunaan

Obical berguna meningkatkan kepadatan tulang dan mencegah pengeroposan tulang. Suplemen ini mengandung vitamin D3 dan kalsium yang keduanya berfungsi menjaga agar tulang dan gigi tetap sehat.

Suplemen ini juga mengandung magnesium, fosfor, dan frukto oligosakarida. Magnesium dan fosfor juga memiliki peran dalam pembentukan tulang. Kombinasi kedua mineral penting tersebut juga akan membantu meningkatkan penyerapan vitamin D3 dan kalsium yang didapat dari makanan dan membantu kinerja keduanya. 

Selain untuk tulang, kalsium juga berperan penting untuk fungsi sistem saraf, sel, dan otot. Apabila kadar kalsium dalam darah tidak tercukupi, maka tubuh akan mengambil kalsium dari tulang sehingga meningkatkan risiko osteoporosis. 

Frukto oligosakarida yang terkandung di dalam suplemen berfungsi melancarkan sistem pencernaan dan menghindarkan Anda dari gangguan pencernaan seperti diare, sembelit, atau perut kembung. Ini membuat Obical lebih minim efek samping dibandingkan dengan suplemen kalsium lainnya. 

Komposisi Obical

Setiap tablet Obical mengandung:

  • Kalsium 600 mg
  • Magnesium 50 mg
  • Fosfor 50 mg
  • Vitamin D3 200 SI
  • Frukto oligosakarida 100 mg

Dosis dan aturan pakai

Suplemen Obical dikhususkan untuk orang dewasa dengan dosis 1 tablet sebanyak 1 kali sehari, diminum setelah makan. Usahakan untuk meminum suplemen pada jam yang sama setiap harinya agar suplemen bekerja dengan lebih baik. 

Simpan obat pada tempat sejuk dan kering, serta terlindung dari cahaya matahari langsung. 

Efek samping yang mungkin terjadi

Sembelit dan sakit perut adalah efek samping paling umum dari suplemen kalsium. Namun karena Obical mengandung frukto oligosakarida efek samping tersebut jarang terjadi. Gangguan pencernaan hanya dapat terjadi jika obat dikonsumsi secara berlebihan. 

Efek samping lain yang mungkin terjadi antara lain:

  • Mual atau muntah
  • Kehilangan nafsu makan
  • Penurunan berat badan yang tidak biasa
  • Perubahan mental atau suasana hati
  • Nyeri tulang atau otot
  • Sakit kepala
  • Peningkatan rasa haus 
  • Keinginan buang air kecil terus menerus
  • Reaksi alergi serius

Jika Anda mengalami salah satu gejala di atas, segera hubungi dokter untuk mendapatkan perawatan medis. 

Hal yang harus diperhatikan

Suplemen kalsium tidak bisa dikonsumsi oleh semua orang.  Obat ini tidak cocok dikonsumsi oleh orang dengan kondisi kesehatan yang menyebabkan kelebihan kalsium dalam aliran darah (hiperkalsemia). 

Obical juga tidak disarankan untuk penderita alergi berat terhadap salah satu kandungan suplemen. Komposisi dalam obat bisa menimbulkan reaksi alergi, segera hentikan pemakaian jika terjadi reaksi alergi. 

Meski Obical termasuk obat bebas dan kerap disarankan untuk ibu hamil dan menyusui, penggunaan Obical selama masa kehamilan dan menyusui harus sesuai dengan anjuran dokter. 

Catatan

Laki-laki dan perempuan dewasa (19-50 tahun) membutuhkan sekitar 1.000 mg kalsium per hari dengan batas maksimal 2.500 mg per hari. Mengonsumsi suplemen Obical disertai dengan mengonsumsi sumber kalsium lainnya dapat membantu memenuhi kebutuhan kalsium harian pada orang dewasa, terutama mereka yang berisiko tinggi.

Gangguan Koordinasi Perkembangan Buat Anak Sulit Melakukan Gerakan Sederhana

Dispraksia atau gangguan koordinasi perkembangan adalah kondisi pada anak di mana terjadi gangguan keterampilan motorik akibat keterlambatan perkembangan gerakan dan koordinasi. Akibatnya, anak yang mengalami dipreksia ini akan kesulitan melakukan tugas sehari-harinya.

Gangguan dispreksia ini secara umum memang terjadi pada anak, namun ada juga terjadi pada orang dewasa. Anak yang mengalami gangguan koordinasi perkembangan ini akan sulit melakukan hal-hal sederhana sekalipun, seperti menulis, mengikat tali sepatu, ataupun menuruni anak tangga. Hal ini biasanya membuat anak tidak bisa melakukan tugas seperti anak lain seusianya.

Selain itu, anak yang mengalami gangguan koordinasi perkembangan ini juga akan terlambat untuk bisa berdiri, duduk, berbicara, hingga berjalan. Sebab, anak tidak bisa mengkoordinasikan pikiran dan perbuatannya secara aktual.

Tak sedikit bahkan orang yang menyebut anak dispreksia bodoh, tidak kompeten, ceroboh, atau pandangan negatif lainnya. Padahal sebenarnya anak dengan gangguan koordinasi perkembangan memiliki kecerdasan yang normal.

Sebaiknya, anak dengan kondisi ini segera diberikan penanganan agar tidak mengganggu kualitas hidupnya. Sebab, mereka akan cenderung menarik diri dari berbagai aktivitas sosial dan kegiatan olahraga. Tanpa berolahraga, anak dispreksia akan mengalami otot yang lemah dan justru menambah berat badan anak.

Apa Penyebab Terjadinya Gangguan Koordinasi Perkembangan Ini?

Gangguan koordinasi perkembangan ini kebanyakan memang lebih sering dialami oleh anak berjenis kelamin laki-laki dibanding perempuan. Kondisi ini juga rentan terjadi pada anak yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat dispreksia. Namun, penyebab pastinya belum diketahui hingga saat ini. Peneliti meyakini bahwa kondisi ini disebabkan karena terjadinya perlambatan perkembangan otak anak.

Meski tidak ada kondisi medis yang bisa menjelaskan terjadinya dispreksia ini, namun biasanya bayi yang lahir prematur lebih berisiko tinggi mengalami gangguan koordinasi perkembangan ini.

Dispreksia juga bisa dibarengi dengan adanya gangguan mental lain di beberapa kasus. Seperti masalah autisme, disleksia, dan attention deficit hyperactive disorder (ADHD). Namun, perlu diketahui bahwa antara kedua penyakti ini tidak memiliki hubungan sama sekali.

Gejala Gangguan Koordinasi Perkembangan

Anak yang mengalami gangguan koordinasi perkembangan bisa terlihat berbagai gejala berikut ini.

  • Sering tersandung
  • Sering menjatuhkan barang
  • Penderita akan kesulitas menuruni tangga
  • Penderita berjalan tidak seimbang
  • Sering menabrak orang
  • Sulit menjaga kesimbangan, koordinasi, dan pergerakan
  • Sulit ketika memegang benda kecil
  • SUlit mempelajari keterampilan baru
  • Sulit melakukan aktivitas di sekolah
  • Kesulitan saat mengikat tali sepatu, melakukan perawatan diri sendiri, hingga mengenakan pakaian

Cara Mengobati Gangguan Koordinasi Perkembangan

Gangguan koordinasi perkembangan ini bisa ditangani dengan menjalani terapi sensori integrasi jangka panjang untuk mengurangi berbagai gejala-gejala yang dialami. Terapi ini akan melibatkan terapi fisik, program pembelajaran tertentu, terapi okupasi, dan juga latihan kemampuan sosial.

Terapi juga bertujuan untuk meningkatkan koordinasi saraf motorik halus dan kasar agar bisa berjalan bersamaan dan ank dapat menjalani aktivitas sesuai dengan usianya.

Pada terapi fisik, anak akan diajarkan cara unutk menjaga keseimbangan, cara berkoordinasi, dan melakukan komunikasi dengan lebih baik. Biasanya anak akan dilibatkan dengan olahraga individual seperti berenang hingga bersepeda.

Sedangkan terapi okupasi ini akan melibatkan terapis yang akan mendampingi anak ketika di sekolah agar kesulitan yang ditemui bisa diatasi.

Terapis yang mendampingi anak dengan gangguan koordinasi perkembangan juga ada yang meminta izin pada kepala sekolah atau guru agar anak belajar menggunakan komputer atau smartphone karena keterbatasannya dalam melakukan kegiatan menulis.