Amankah Ibu dengan Peripartum Cardiomyopathy Hamil Kembali?

Pada dasarnya kondisi ibu hamil dengan peripartum cardiomyopathy sangatlah membahayakan. Salah satu indikasi keseriusan pada kondisi ini dapat diukur dengan sesuatu yang disebut fraksi ejeksi, yaitu persentase darah yang dipompa jantung dengan setiap detak. Jumlah fraksi ejeksi yang normal adalah sekitar 55%-60%. Jika fraksi ejeksi lebih rendah dari itu bisa dikatakan bahwa jantung bekerja kurang baik.

Pada PPCM, bilik ventrikel kiri menjadi membesar. Saat ventrikel menjadi lebih besar dari biasanya, dinding otot menjadi tegang dan lebih tipis. Hal ini membuat otot lebih lemah, dan bekerja kurang baik. Hal ini menyebabkan lebih sedikit darah yang dipompa keluar dari jantung dan dipompa keluar dengan kekuatan yang lebih kecil dari biasanya. 

Karena darah tidak bersirkulasi secara efektif, hal ini dapat menyebabkan cairan menumpuk di jaringan, terutama paru-paru, yang memiliki lebih sedikit oksigen yang sampai ke organ tubuh. Kondisi ini menyebabkan gejala seperti sesak napas, batuk dan kelelahan ekstrim yang disebut sebagai ‘gagal jantung’ karena jantung gagal memenuhi kebutuhan normal tubuh akan oksigen. 

Dalam kasus peripartum cardiomyopathy ringan, gejala khas seperti pembengkakan di kaki dan tungkai, dan beberapa sesak napas bisa mirip dengan gejala trimester ketiga kehamilan normal, sehingga gejala ini mungkin tidak terdiagnosis. 

Namun, pada kasus yang berat berat gejalanya muncul dengan sendirinya ketika pasien mengalami sesak napas dan kaki bengkak setelah melahirkan. Saat jantung tidak memompa dengan baik, cairan dapat menumpuk di dalam tubuh, terutama di paru-paru dan kaki. Ekokardiogram dapat mendeteksi kardiomiopati dengan menunjukkan penurunan fungsi jantung. PPCM dapat mengancam jiwa dan perlu segera diobati. Jika ibu tidak sembuh dengan baik, maka harus tetap melanjutkan pengobatan. 

Jika seorang wanita memiliki PPCM selama kehamilan, penelitian menunjukkan bahwa dia memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mendapatkannya lagi di kehamilan berikutnya, bahkan jika sebelumnya sembuh total. Dalam merencanakan kehamilan di masa depan, disarankan untuk mendiskusikan hal ini dengan ahli jantung untuk menjelaskan risiko potensial apa yang mungkin terjadi, dan pemantauan apa yang diperlukan selama kehamilan. 

Pertanyaan memiliki anak tambahan biasanya tergantung pada sejauh mana ibu telah pulih dari peripartum cardiomyopathy.

Jika kondisi, dalam hal ini kapasitas kerja, jantung tidak sepenuhnya pulih, maka kehamilan selanjutnya tidak dianjurkan. Meskipun tidak ada risiko langsung pada bayi, menjalani kehamilan dengan fungsi jantung yang tidak normal dapat menyebabkan kerusakan jantung tambahan bagi ibu, yang pada gilirannya dapat membahayakan janin yang sedang berkembang.

Jika jantung telah pulih sepenuhnya dari kehamilan sebelumnya, maka kehamilan selanjutnya dapat dicoba, asalkan jantung ibu terus dipantau secara berkala dengan ekokardiogram dan tes stres. Pemantauan kondisi jantung dengan ekokardiogram di sini dapat membantu menunjukkan bagaimana jantung berfungsi saat istirahat dan tes stres mengukur bagaimana jantung bekerja di bawah tekanan.

Meskipun peripartum cardiomyopathy merupakan kondisi yang serius, perlu diingat bahwa banyak wanita berhasil pulih dari penyakit ini. Lebih dari separuh wanita dengan PPCM akan memiliki fungsi jantung  normal kembali enam bulan setelahnya melahirkan. 

Untuk beberapa wanita, pemulihan dapat memakan waktu beberapa tahun karena tingkat keparahan gejala yang mereka alami, dan seberapa baik jantung mereka dapat pulih dari gagal jantung. Apabila setelah kehamilan atau menjelang kehamilan berikutnya peripartum cardiomyopathy kembali muncul dengan gejala yang terus mengkhawatirkan, maka kamu memerlukan perawatan yang berkelanjutan, karena kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi lebih lanjut.