Alternatif Pengganti Benzoyl Peroxide untuk Atasi Jerawat

Benzoyl peroxide adalah bahan aktif yang paling sering digunakan untuk mengatasi masalah kulit berjerawat. Ada banyak perawatan jerawat dengan kandungan benzoil peroksida yang bisa didapat secara bebas tanpa resep.

Tapi benzoyl peroxida memiliki efek yang cukup keras dan dapat meninggalkan efek iritasi dan kemerahan pada kulit sensitif. Beberapa orang juga alergi terhadapnya, dan ditambah lagi penelitian terbaru menemukan benzoyl peroxida dapat membawa radikal bebas ke dalam kulit.

Untungnya ada beberapa bahan pembasmi jerawat efektif yang bisa dicoba. Berikut ini alternatif terbaik pengganti benzoyl peroxide.

  • Asam salisilat

Selain benzoil peroksida, asam salisilat menjadi bahan perawatan jerawat yang umum digunakan. Efektivitas keduanya juga selalu dibanding-bandingkan.

Asam salisilat bekerja dengan cara mengangkat sel mati untuk membuka pori-pori yang tersumbat serta mengurangi jumlah sebum di permukaan kulit. Asam salisilat juga efektif mengurangi noda bekas jerawat.

  • Niacinamide

Baru-baru ini niacinamide menjadi perhatian banyak orang. Walau termasuk baru, niacinamide membuktikan efektivitasnya dalam menenangkan dan mengurangi peradangan. Tersedia dalam bentuk topikal, niacinamide juga dapat membunuh bakteri penyebab jerawat serta mengatasi noda membandel akibat jerawat.

  • Minyak pohon teh

Minyak pohon tes diekstrak dari daun pohon kecil yang berasal dari Australia. Tea tree oil disebut-sebut sebagai pengobatan alternatif yang aman dan efektif untuk jerawat.

Meskipun cara kerjanya tidak secepat benzoyl peroxide, minyak pohon teh mampu mengurangi lesi jerawat dengan membunuh bakteri jahat penyebab jerawat. Efek samping yang dihasilkan pun jauh lebih rendah daripada benzoil peroksida. Namun setelah terpapar udara dan teroksidasi, minyak pohon teh dapat memicu reaksi alergi.

  • Asam glikolat

Asam glikolat (glycolic acid) merupakan asam buah yang memiliki sifat alami sebagai exfoliator. Menariknya, asam glikolat dapat mengangkat sel kulit mati tanpa membuatnya kering.

Proses ini juga membantu mencegah pembentukan sel kulit di dalam kulit yang jika tidak ditangani dapat berkmebnag menjadi noda. Bagi pemilik kulit berminyak, berjerawat, dan tekstur kulit yang tidak rata, menggunakan asam glikolat secara rutin dapat membantu mengatasi masalah tersebut.

  • Asam azelaic

Asam azelaic sangat cocok digunakan pemilik kulit rentan berjerawat (azelex). Disebut sebagai ramuan ajaib, asam azelaic memiliki segudang manfaat untuk kulit, antara lain:

  • Membunuh bakteri penyebab jerawat
  • Mendukung proses regenerasi
  • Membantu mengangkat sel kulit mati tanpa iritasi
  • Mengurangi peradangan
  • Mengurangi kemerahan akibat jerawat dan rosacea ringan
  • Ekstrak thyme

Ekstrak thyme juga merupakan bahan perawatan jerawat terbaru yang sama efektifnya dengan benzoyl peroxide. Produk skincare yang mengandung thyme dapat membantu mengurangi peradangan pada kulit sekaligus menargetkan dan menghilangkan bakteri penyebab jerawat tanpa iritasi.

Karena merupakan bahan alami, ekstrak thyme cocok digunakan pada kulit berjenis apapun, dan bekerja sangat baik pada kulit sensitif atau kulit yang rusak akibat perawatan jerawat yang keras.

Selain obat topikal, obat oral seperti antibiotik, kontrasepsi oral, dan pengatur hormon juga bisa menjadi pilihan pengganti benzoyl peroxide.

Catatan

Efek samping paling umum dari penggunaan benzoyl peroxide secara topikal adalah reaksi alergi dan iritasi kulit. Reaksi ini dapat bertahan selama beberapa menit setelah pemakaian, atau bisa lebih lama dari itu.

Jika reaksi alergi semakin parah, termasuk sesak napas dan pembengkakan area tubuh, ada baiknya segera menghubungi dokter. Sebelum menerima pengobatan lain pun Anda harus mengonsultasikan alergi yang Anda miliki karena beberapa obat resep mengandung benzoyl peroxide.

Pengertian Dermacoid, Obat untuk Kelainan Kulit

Salah satu obat yang mengandung Hydrocortisone 17-butyrate sebagai zat aktif dari dermacoid, obat ini digunakan untuk mengobati berbagai macam kelainan kulit secara topikal. Kelainan kulit yang dialami seseorang ini bisa seperti eksim atau gatal-gatal dan inflamasi atau alergi. Meskipun digunakan untuk mengobati kelainan kulit, obat ini tidak boleh sembarang pakai.

Terdapat beberapa jenis kondisi pasien yang menderita kelainan tertentu dan tidak boleh disembuhkan menggunakan obat ini. Seperti cacar air, herpes, infeksi oleh virus, TB kulit, gangguan kulit karena sifilis dan vaksin. Obat ini termasuk dalam golongan obat keras, sehingga hanya bisa didapat atau digunakan berdasarkan resep dari dokter/

Kandungan Zat Aktif

Dermacoid kandungan zat aktif yang merupakan bahan utama dibuatnya obat ini, yakni hydrocortisone. Salah satu jenis obat golongan kortikosteroid, fungsinya untuk menurunkan sistem kekebalan tubuh dengan cara mengikat tempat kerja pada sel otot, sel epitel dan sel darah putih atau eosinofil (reseptor glukokortikoid).

Sehingga nantinya akan muncul perubahan ekspresi gen dan lebih menekan perpindahan atau migrasi sel darah putih (leukosit). Dalam dosis rendah hydrocortisone memiliki daya antiinflamasi (pengurangan peradangan), sementara dalam dosis tinggi bisa dipakai sebagai imunosupresif atau untuk penurunan sistem imun, berikut beberapa manfaatnya untuk tubuh.

  • Mengatasi berbagai masalah kulit, seperti peradangan atau eksema akibat alergi pada kulit.
  • Peradangan dengan munculnya ruam kemerahan, kulit kering, bersisik, tebal dan mudah terkelupas.
  • Perubahan warna dan tekstur kulit bayi yang tertutup pokok atau ruam popok.
  • Gatal atau pruritus yang terjadi pada area buah zakar (skrotalis) dan bagian luar organ intim perempuan (vulva) serta anal non-spesifik,.
  • Munculnya bercak di kulit disertai rasa gatal, kemudian munculnya ruam di area lipatan kulit hingga munculnya penyakit kulit karena terbakar sinar matahari.

Jenis dan Dosis

Terdapat dua jenis bentuk obat ini, krim dan lotion penggunaanya bisa disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Kandungan di dalamnya sama, yakni hydrocortisone 17-butyrate dan yang membedakan hanyalah kemasan, untuk krim biasanya dikemas 10 gram dan untuk lotion 20 ml setiap kemasannya.

Dosis setiap penggunaan bisa didapat dan diperoleh dengan resep dokter, hal itu dikarenakan obat ini termasuk dalam golongan obat keras. Selain itu cara pemakaian untuk obat berbentuk krim dan lotion juga berbeda, berikut sedikit penjelasan yang bisa dijadikan sebagai petunjuk penggunaan obat tersebut.

  • Lotion

Penggunaan harus sesuai petunjuk pada kemasan dan anjuran dokter, oleskan sebanyak 2-4 kali dalam sehari atau lebih jika diperlukan. Oleskan secara merata dan tipis-tipis pada bagian kulit yang meradang, tentunya sesuai anjuran dokter. Pastikan tangan bersih sebelum dan sesudah menggunakan obat ini.

  • Krim

Tidak jauh berbeda dengan penggunaan obat lotion, penggunaan bentuk krim juga harus sesuai dengan petunjuk pada kemasan dan saran dokter. Bisa dioleskan sebanyak 2-4 kali dalam sehari atau lebih, cara pemakaian cukup oleskan secara merata pada area kulit yang mengalami peradangan.

Efek Samping Dermacoid

Beberapa reaksi akan muncul sebagai efek samping penggunaan obat ini, seperti atrofi dermal atau penipisan kulit, iritasi lokal, folikulitis atau munculnya peradangan yang terjadi pada tempat tumbuh rambut dan hipertrikosis atau munculnya rambut secara berlebihan.

Sangat disarankan agar obat ini tidak diberikan kepada pasien dengan beberapa indikasi, seperti hipersensitif atau reaksi berlebihan terhadap kandungan obat, infeksi virus atau jamur hingga sifilis kecuali karena infeksi bakteri.

Natrium Diklofenak, Obat untuk Atasi Nyeri dan Bengkak

Natrium diklofenak adalah obat yang digunakan untuk mengurangi peradangan dan rasa nyeri, serta gangguan pada persendian, otot, dan tulang. Beberapa kondisi yang sering diobati menggunakan natrium diklofenak di antaranya adalah rheumatoid arthritis, osteoarthritis, dan encok; keseleo; sakit punggung; ankylosing spondylitis, yang menyebabkan peradangan pada tulang punggung dan bagian lain tubuh; sakit gigi; dan migrain. Diklofenak tersedia dalam bentuk tablet, kapsul, dan supositoria, dan hanya tersedia dalam bentuk resep saja. Natrium diklofenak juga dapat diberikan dalam bentuk suntikan atau tetes mata, namun hanya dilakukan di rumah sakit. Anda bisa membeli gel dan plester natrium diklofenak di apotek. 

Siapa yang boleh dan tidak boleh menggunakan diklofenak

Kebanyakan orang dewasa dapat menggunakan natrium diklofenak. Anak-anak juga dapat mendapatkan resep diklofenak untuk merawat gangguan persendian, dengan diklofenak dalam bentuk tablet, kapsul, dan supositoria cocok untuk anak usia 1 tahun ke atas. Namun, diklofenak juga tidak boleh digunakan oleh beberapa orang, terutama mereka yang memiliki reaksi alergi terhadap diklofenak atau obat-obatan lain sebelumnya. Anda juga perlu memberitahu dokter apabila memiliki reaksi alergi terhadap aspirin dan obat-obatan anti peradangan non-steroid (NSAID) lain seperti ibuprofen atau naproxen. Jika Anda memiliki gejala asma (mengi), hidung meler, pembengkakan di kulit (angioedema) dan muncul ruam setelah mengonsumsi NSAID, serta pernah memiliki maag, pendarahan di lambung atau usus, dan lubang di lambung, beritahu dokter atau apoteker. Anda juga perlu memberitahu petugas medis apabila menderita tekanan darah tinggi (hipertensi), gagal jantung atau penyakit ginjal dan penyakit hati parah, penyakit Crohn atau ulcerative colitis, lupus, dan gangguan pembekuan darah. Anda juga harus memberitahu dokter apabila Anda sedang hamil, menyusui, atau berencana untuk hamil. 

Efek samping

Sama halnya dengan obat-obatan lain, natrium diklofenak dapat menyebabkan efek samping tertentu, meskipun tidak semua orang akan memilikinya. Efek samping diklofenak tablet, kapsul, dan supositoria terjadi di lebih dari 1 di antara 100 orang. Beritahu dokter apabila efek samping seperti sakit kepala, pusing atau vertigo, sakit perut dan hilangnya nafsu makan, mual, muntah dan diare, dan ruam ringan mengganggu Anda atau tidak kunjung sembuh. Berbeda dengan diklofenak jenis lain, diklofenak bentuk gel atau plester memiliki risiko lebih rendah dalam menyebabkan efek samping. Hal ini disebabkan karena obat yang masuk ke dalam tubuh lebih sedikit dibandingkan dengan diklofenak tablet, kapsul, atau supositoria. Namun, Anda masih bisa mendapatkan efek samping serupa, apabila Anda menggunakan banyak gel atau plester dalam jumlah yang banyak. Menggunakan diklofenak bentuk gel atau plester juga dapat memengaruhi kulit, dan membuat kulit menjadi lebih sensitif terhadap sinar matahari dibandingkan dengan biasanya, mengembangkan ruam di mana gel dan plester dioleskan atau ditempelkan, kering, dan iritasi (eksim), dan gatal atau meradang (dermatitis). 

Selain itu, meskipun jarang ditemui (dan hanya terjadi di antara 1 dari 1000 orang), natrium diklofenak dapat menyebabkan efek samping serius. Hubungi dokter secepatnya apabila Anda melihat adanya darah di muntahan dan kotoran yang berwarna hitam (hal ini dapat menjadi tanda adanya pendarahan di lambung atau usus). Cari bantuan medis apabila Anda memiliki gangguan pencernaan parah, nyeri ulu hati atau sakit perut, muntah atau diare; kondisi-kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya peradangan di lambung atau usus. Beberapa gejala lain yang perlu diwaspadai adalah kulit dan mata yang menguning, kulit ruam gatal, sesak napas dan pembengkakan pada kaki atau pergelangan kaki, dan sisi bagian tubuh lemah dan hilangnya keseimbangan (tanda-tanda adanya stroke).

Farmakologi: Sejarah dan Cabang Keilmuannya

Farmakologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang obat dan segala aspeknya, baik itu bersifat kimiawi, fisika, proses fisiologi, resorbsi, dan perannya untuk semua organisme hidup. Obat sendiri didefiniskan sebagai senyawa yang digunakan untuk mencegah, mengobati, mendiagnosis penyakit, atau menimbulkan reaksi tertentu, misalnya menyebabkan infertil atau melumpuhkan otot selama pembedahan.

Sejarah farmakologi

Farmakologi berasal dari kata farmakon dan logos. Dalam arti luas, farmakon berarti semua zat selain dari makanan yang menyebabkan adanya perubahan pada fungsi jaringan tubuh, sedangkan logos artinya ilmu. Farmakologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang cara kerja obat di tubuh.

Perkembangan farmakologi terbagi dalam dua periode, yaitu:

  • Periode kuno (Sebelum tahun 1700).

Periode ini merupakan awal mula manusia meriset tentang penggunaan obat secara empiris. Hal ini dibuktikan dari catatan tertua di Materia Medika yang disusun oleh Dioscorides (Pedanius). Adapun tokoh-tokoh hebat yang terlibat adalah:

  • Claudius Galen, yang pertama kalinya mengenalkan teori dan pengalaman empiris tentang obat.
  • Theophrastus von Hohenheim, yang dijuluki sebagai bapak toksikologi, sebagai pionir penggunaan senyawa kimia dan mineral.
  • Johann Jakob Wepfer, yang pertama kalinya meneliti farmakologi dan toksikologi menggunakan hewan percobaan.
  • Periode modern (Abad 18 – 19).

Pada periode ini, mulailah dilakukan penelitian eksperimental tentang cara kerja obat di tingkat jaringan dan organ tubuh organisme hidup. Adapun tokoh-tokoh hebat yang terlibat adalah:

  • Rudolf Buchheim, mendirikan institusi pertama, yaitu Institute of Pharmacology di The University of Dorpat, Tartu, Estonia pada tahun 1847.
  • Oswald Schmiedeberg menerbitkan jurnal farmakologi pertama bersama dengan Bernhard Naunyn.
  • John J. Abel, yang dijuluki sebagai The Father of American Pharmacology.

Cabang farmakologi

Seiring dengan perkembangan hasil penelitian dari tahun ke tahun, farmakologi terbagi menjadi 8 cabang keilmuan, yaitu:

  • Farmakognosi

Ilmu yang mempelajari tentang obat dari tanaman, mineral, dan hewan, serta zat aktif yang terkandung di dalamnya. Contoh obat dalam keilmuan ini adalah:

  • Tinctura echinaceae untuk meningkatkan imunitas tubuh.
  • Tingtur hyperici sebagai antidepresi.
  • Ekstrak ginko biloba untuk meningkatkan daya ingat.
  • Bawang putih sebagai antikolesterol.
  • Ekstrak chrysantemum parthenium sebagai obat migrain.
  • Biofarmasi.

Cabang farmakologi ini meneliti pengaruh formulasi obat terhadap efek penyembuhannya. Artinya, dalam bentuk sediaan seperti apa agar obat dapat memberikan efek yang optimal. Ruang lingkup keilmuan ini juga mempelajari ketersediaan biologis obat di dalam tubuh (biological availability) dan kesetaraan efek penyembuhannya dengan sediaan obat lain yang mengandung zat aktif sama (therapeutic equivalance).

  • Farmakokinetika.

Farmakokinetika merupakan cabang farmakologi yang meneliti seluruh aktivitas obat di dalam tubuh. Ilmu ini mempelajari perjalanan obat dari mulai saat dikonsumsi, diserap oleh usus, dialirkan oleh darah untuk didistribusikan ke jaringan tubuh, hingga proses ekresinya melalui ginjal.

  • Farmakodinamika.

Farmakodinamika akan meneliti seluruh efek dan reaksi yang diberikan obat di dalam tubuh. Cabang ilmu ini akan mempelajari seluruh aktivitas obat di tubuh, termasuk cara kerja, reaksi fisiologi, dan efek terapinya.

  • Toksikologi.

Toksikologi adalah ilmu pengetahuan tentang efek racun (toksin) dari obat yang dikonsumsi terhadap tubuh. Hal ini akan menunjukkan bahwa obat dalam dosis tinggi dapat bertindak sebagai racun dan merusak jaringan organisme.

  • Farmakoterapi.

Farmakoterapi akan mempelajari bagaimana penggunaan obat untuk mengobati penyakit atau gejalanya. Penggunaan ini sesuai dengan pengetahuan tentang hubungan antara khasiat obat dan sifat fisiologisnya pada penyakit di salah satu pihak dengan penyakit di pihak yang lain.

  • Farmakogenetik atau farmakogenomik.

Farmakogenetik adalah cabang farmakologi yang mempelajari efek dari keragaman genetik pada satu gen terhadap respons obat, sedangkan farmakogenomik adalah ilmu yang mempelajari efek dari keragaman genetik pada banyak gen terhadap respons obat.

  • Farmakovigilans.

Farmakovigilans merupakan proses terstruktur yang dilakukan untuk memonitor dan mencari efek samping obat (adverse drugs reaction) yang telah dipasarkan. Data-datanya dapat diperoleh dari sumber-sumber yang terpercaya, seperti Medicines Information, Toxicology and Pharmacovigilance Centres.

Ternyata, banyak sekali ya cabang keilmuan farmakologi yang bisa dipelajari. Bagaimana? Apakah Anda tertarik mempelajari farmakologi lebih dalam? Jangan lupa, share artikel bermanfaat ini ke teman-temanmu, ya!

Bahan Alami Sebagai Obat Gangguan Kulit

Gangguan pada kulit sekiranya pernah kita alami. Tetapi, dalam pengobatannya, beberapa di antara kita ada yang memiliki alergi terhadap obat gangguan kulit berbahan kimia atau sedianya memang ingin menggunakan obat herbal dalam mengatasinya.

Tidak ada yang salah memang jika kita ingin menggunakan bahan alami dalam mengatasi gangguan pada kulit, terutama saat gatal-gatal atau mengalami kurap. Untuk itu, mari kita simak apa saja bahan-bahan alami yang bisa digunakan jika di masa mendatang kita mengalami gangguan pada kulit.

  • Gatal

Dalam mengatasi gatal, setidaknya ada dua jenis bahan alami yang bisa dengan mudah kita temui. Pertama, lidah buaya. Tumbuhan tersebut memang sudah dikenal memiliki banyak manfaatnya, termasuk mengatasi gatal.

Cara penggunaanobat gangguan kulit alami ini adalah dengan mengoleskan gel lidah buaya di area yang gatal. Fungsinya adalah membantu iritasi yang terjadi. Tenang, pada umumnya lidah buaya aman digunakan, tetapi kita perlu mengetes diri sendiri apakah ada alergi atau tidak sebelum mengoleskannya.

Selain lidah buaya, minyak kelapa juga bisa dimanfaatkan untuk mengatasi gatal. Minyak kelapa diketahui tidak hanya memiliki sifat antiinflamasi, tetapi juga bisa digunakan untuk menghilangkan rasa sakit karena peradangan.

Lebih lanjut, mengoleskan obat gangguan kulit alami ini bisa meningkatkan kadar antioksidan yang memiliki fungsi untuk menstabilkan radikal bebas dan mengatasi peradangan pemicu gatal.

  • Kurap

Penyakit ini adalah infeksi kulti karena jamur. Biasanya, jika sudah terjadi akan muncul kemerahan, bersisik, dan gatal. Tetapi, selain obat yang tersedia di apotek, dalam mengatasinya kita juga bisa menggunakan bahan-bahan herbal.

Obat gangguan kulit alami yang bisa digunakan untuk mengatasi kurap ada minyak sereh. Minyak tersebut memang terbukti menguarangi jamur, termasuk mengobati kurap. Dalam penggunaannya, kita bisa mencampurkan minyak sereh dengan minyak dasar atau nabati. Lalu, tinggal dioleskan pada kulit yang terkena kurap dua kali sehari. Tetapi, kita perlu berhati-hati agar minyak tak terkena mata karena bisa menyebabkan iritasi.

Berikutnya ada bawang putih yang bisa mengatasi jamur, seperti candida, torulopsis, tricophyton dan cryptococcus. Karenanya, bawang putih diyakini bisa menggatasi kurap. Cara pengguaan obat gangguan kulit ini sangat mudah. Kita hanya perlu menghaluskan bawang putih dan dicampurkan dengan minyak ziatun atau minyak kelapa. Setelahnya, tinggal dioleskan ke bagian yang kurap.

Selain itu, kunyit juga dipercaya bisa membunuh kuman karena memiliki zar antimikroba. Dalam mengatasi kurap, sama seperti bawang putih, kita hanya perlu memarut kunyit dan mencampurnya dengan minyak kelapa sebelum dioleskan pada bagian yang terkena kurap.

Selanjutnya adal lidah buaya. Ya, lidah buaya yang bisa mengatasi gatal juga dapat digunakan untuk mengobati kurap. Sebabnya, tanaman tersebut mengandung zat antiseptik yang memberikan manfaat antijamur. Dalam penggunaannya, kita bisa mengoleskan gelnya di bagian kurap empat kali sehari.

Selain lidah buaya, minyak kelapa juga ampuh sebagai obat gangguan kulit. Mengoleskannya sebanyak tiga kali sehari pada bagian kurap bisa memberikan efek maksimal dalam mengatasinya.

Berikutnya, bahan herbal yang bisa digunakan mengatasi kurap adalah cuka apel. Cairan tersebut terbukti bisa membunuh jamur candida serta meringankan gejala infeksi jamur, termasuk kurap. Penggunaan cuka apel sangat mudah. Kita hanya perlu meneteskan cuka apel pada kapas, lalu oleskan ke kulit yang mengalami kurap.

Dari penjabaran di atas, kita dapat mengetahui ternyata bahan-bahan alami yang mudah kita temui dikehidupan sehari-hari ternyata bisa juga digunakan untuk mengatasi gatal dan kurap. Tentu tidak ada salahnya kita mencoba obat gangguan kulit alami tersebut bila sekali waktu, kita mengalami gatal-gatal atau kurap.

Hal yang Perlu Anda Tahu Sebelum Mengonsumsi Asam Traneksamat

Apakah Anda pernah mendengar tentang obat asam traneksamat? Beberapa orang yang sering mengalami mimisan mungkin sudah akrab dengan obat ini. Secara umum, penggunaan asam traneksamat (Tranexamic Acid) yang termasuk dalam golongan obat antifibrinolitik, ditujukkan untuk menghentikan pendarahan ketika terjadi mimisan, operasi, maupun menstruasi.

Asam traneksamat dapat ditemui pada beberapa merek obat yang beredar di Indonesia, seperti Asamnex, Clonex, Haemostop, Tranfib, Nexitra, Ronext, Kalnex, Traxcid, dan lainnya. Obat dengan kandungan asam traneksamat dijual dalam bentuk tablet, kapsul, dan juga suntik.

Bagaimana aturan pemakaian obat asam traneksamat?

Jika obat asam traneksamat dikemas dalam bentuk suntik, maka suntikan tersebut hanya dapat diberikan oleh dokter. Selain itu, obat tablet atau kapsul dapat Anda konsumsi dengan maupun tanpa makanan. Walaupun begitu, Anda tetap harus berkonsultasi dengan dokter atau apoteker jika memutuskan untuk mengonsumsi obat ini.

Apabila Anda menggunakan obat ini ketika sedang datang bulan, tunggu hingga periode menstruasi Anda benar-benar dimulai. Anda tidak disarankan untuk mengonsumsi obat ini lebih dari lima hari secara berturut-turut.

Efek samping apa sajakah yang mungkin dapat muncul dari mengonsumsi asam traneksamat?

Beberapa efek samping yang mungkin muncul ketika Anda mengonsumsi asam traneksamat, antara lain:

  • Pusing
  • Hipotensi (sesaat setelah disuntik)
  • Tromboembolik (sesaat setelah disuntik)
  • Diare
  • Mual atau muntah
  • Gangguan pada penglihatan

Tidak semua orang dapat mengonsumsi asam traneksamat, walau memang obat ini diperbolehkan untuk dikonsumsi baik untuk orang tua maupun anak-anak. Namun, bagi orang dengan kondisi medis seperti di bawah ini, mereka perlu untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dulu jika ingin mengonsumsi obat ini:

  • Penyakit jantung (detak jantung tidak teratur)
  • Masalah ginjal (darah dalam urin)
  • Hematuria
  • Riwayat penyakit tromboembolik
  • Pendarahan menstruasi yang tidak teratur
  • Riwayat pembekuan darah, baik pada kaki, paru-paru, otak, maupun mata
  • Pendarahan subaraknoid

Di samping itu, beberapa orang dengan kondisi seperti berikut ini, tidak direkomendasikan untuk mengonsumsi asam traneksamat:

  • Gagal ginjal berat
  • Gangguan penglihatan warna
  • Pendarahan subaraknoid
  • Penyumbatan pembuluh darah
  • Pembekuan intravaskular aktif.