Telinga Keluar Cairan, Bahayakah? Kenali Beragam Penyebabnya

Telinga keluar cairan bisa disebabkan oleh beragam hal, mulai dari kondisi medis biasa hingga penyakit. Jenis cairan yang keluar pun bermacam-macam, yang paling umum adalah kotoran telinga yang menjaga telinga tetap bersih dan sehat. Lainnya bisa berbentuk air maupun darah. 

Telinga keluar cairan salah satunya bisa disebabkan oleh otitis media

Jenis cairan yang keluar menentukan diagnosis penyebabnya. Apabila Anda mengalami kondisi ini setelah cedera kepala, sangat disarankan untuk segera mendapatkan penanganan medis. Ada beberapa jenis cairan yang bisa keluar dari telinga, antara lain:

  • kotoran telinga, bisa berwarna putih, kuning, atau cokelat. Jika kotoran telinga bercampur dengan air, misalnya setelah mandi atau berenang, terkadang cairan ini bisa keluar dari telinga seperti ingus. 
  • cairan bening, terkadang berbentuk air. Umumnya penyebab telinga berair ini adalah setelah mandi dan berenang, dan cairannya juga tidak berbau.
  • darah, karena cedera kecil atau luka di dalam liang telinga. 
  • nanah atau cairan keruh, disebabkan oleh infeksi di liang telinga atau telinga bagian dalam. Infeksi bisa disebabkan oleh demam, flu, atau cedera telinga. 

Selain kondisi medis, telinga keluar cairan juga bisa disebabkan oleh sejumlah penyakit, terutama jika cairan yang keluar berbentuk nanah atau darah. Untuk bisa mengetahui penyakit apa yang menjadi penyebabnya, Anda perlu memeriksakannya ke dokter.

Dokter akan menggunakan alat bernama otoskop, sebuah mikroskop dengan lampu, untuk melihat ke dalam telinga dan mencoba untuk mengidentifikasi penyebab keluarnya cairan dari telinga. 

Terkadang dokter juga akan menggunakan otoskop pneumatik yang mengeluarkan hembusan angin untuk melihat bagaimana gendang telinga bergerak atas respons dari tekanan tersebut. Dengan cara ini dapat menunjukkan apakah ada penumpukan atau cairan di belakang gendang telinga. 

Dokter juga bisa melakukan sebuah tes bernama timpanometri yang membantu untuk melihat kondisi kesehatan dari telinga tengah. Untuk melakukan tes ini, dokter akan memasukkan semacam alat ke dalam telinga dan mengevaluasi bagaimana telinga tengah merespon sejumlah tingkat tekanan yang berbeda.

Penyebab Telinga Keluar Cairan

Setelah mengetahui jenis cairan yang keluar dari telinga, Anda baru bisa memperkirakan apa penyebabnya. Selain itu, Anda juga bisa membantu dokter untuk mempermudah diagnosis. Beberapa penyakit dan kondisi medis yang bisa menjadi penyebabnya antara lain:

1. Otitis externa

Otitis externa atau lebih dikenal dengan Swimmer’s ear, merupakan sebuah infeksi liang telinga yang bisa mengenai gendang telinga hingga ujung lubang telinga. 

Infeksi ini disebabkan oleh bakteri, jamur, atau virus yang masuk ke dalam kanal. Air yang masih terus terjebak di dalam telinga setelah berenang menjadi salah satu penyebab umum. Selain itu, menggunakan cotton bud untuk membersihkan telinga atau anting yang menyebabkan iritasi juga bisa menjadi penyebabnya. 

Anak-anak lebih rentan terhadap penyakit ini karena mereka memiliki liang telinga yang lebih sempit sehingga menyulitkan mereka untuk mengeluarkan cairan yang terjebak di dalamnya.

Gejala yang ditimbulkan antara lain telinga memerah, gatal, dan rasa tidak nyaman di dalam liang telinga, terkadang disertai dengan keluarnya cairan bening. 

Hal yang perlu diperhatikan adalah meskipun gejalanya ringan, tidak boleh diabaikan karena penyakit ini mudah sekali memburuk. Sebab infeksi bisa dengan cepat menyebar dan menguat, sehingga menyebabkan rasa sakit yang parah dengan semakin banyak cairan yang keluar, bengkak, demam, dan kehilangan pendengaran.

2. Penyumbatan kotoran telinga

Keluarnya kotoran telinga merupakan proses normal, sebab telinga memproduksi kotoran telinga berbentuk seperti lilin untuk melindungi telinga dari infeksi. 

Terkadang, kotoran telinga bisa menumpuk dan menutupi gendang telinga. Penumpukan kotoran telinga tidak ada hubungannya dengan perilaku bersih yang buruk dan tidak bisa mengatasinya hanya dengan mencucinya.

Kondisi medis ini tidak terlalu umum, dengan serangkaian gejala mulai dari pusing, batuk kering, nyeri di liang telinga, tekanan pada telinga, dan berdenging. 

3. Benda asing di liang telinga

Tidak hanya kotoran telinga yang bisa berada di dalam liang telinga, namun kemungkinan adanya benda asing juga mungkin ada. Misalnya seperti makanan, potongan mainan, kancing, ujung cotton bud, kertas, atau bahkan serangga. 

Biasanya benda asing ini terjebak di liang telinga bagian luar. Namun kondisi ini tidak sering terjadi, walaupun patut diwaspadai apabila ada nanah atau darah yang keluar dari telinga yang menunjukkan bahwa kondisinya sudah parah. 

4. Gendang telinga pecah

Gendang telinga merupakan membran tipis yang bergetar saat terkena suara, kemudian menyalurkan getaran tersebut menjadi sinyal yang dipahami oleh otak. 

Apabila gendang telinga pecah, sudah pasti pendengaranmu akan terdampak. Biasanya kondisi ini terjadi setelah adanya tekanan atau trauma ke gendang telinga, misalnya pukulan ke bagian telinga, ledakan kembang api, jatuh ke air, atau terkena objek tajam di telinga.

Kondisi ini jarang terjadi, namun membutuhkan penanganan medis segera jika mengalaminya. Gejala yang bisa terjadi adalah nyeri liang telinga, berdenging, vertigo, kehilangan pendengaran, dan juga cairan yang keluar dari telinga. Umumnya cairan yang keluar beragam, bisa berbentuk darah, nanah, atau cairan bening.

5. Cholesteatoma

Cholesteatoma adalah jenis kista kulit atau bengkak non-cancerous yang terletak di telinga tengah dan tulang mastoid di tengkorak. Penyakit ini tergolong cacat lahir, walaupun sering terjadi sebagai komplikasi dari infeksi telinga. 

Cholesteatoma merupakan kondisi yang jarang terjadi yang langsung butuh penanganan dokter. Biasanya diiringi dengan gejala tekanan di telinga, berdenging, nyeri di salah satu liang telinga, vertigo, dan kehilangan pendengaran. 

Kondisi telinga keluar cairan tidak dapat diabaikan meskipun disebabkan oleh kondisi ringan. Sebab jika dibiarkan bisa menimbulkan beberapa komplikasi yang lambat laun bisa berdampak pada pendengaran Anda. Segera atasi atau bawa ke dokter untuk penanganan lebih lanjut dan sebaiknya jangan melakukan diagnosis sendiri.

Waspadai Penyebab Gatal di Area Bibir Vagina Luar

Pernahkah Anda mengalami gatal di area bibir vagina luar? Rasa gatal tersebut bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor. Mungkin saja, ada kondisi medis tertentu yang menyerang tubuh Anda. 

Untuk mengetahui cara mengatasi rasa gatal itu, Anda perlu terlebih dahulu memahami apa penyebabnya. Dokter bisa membantu melakukan diagnosa untuk mengidentifikasi penyebab rasa gatal Anda.

Hal-hal yang bisa menyebabkan gatal di area bibir vagina luar

Penyebab rasa gatal di area bibir vagina luar ada bermacam-macam. Beberapa penyebab yang umum adalah sebagai berikut:

1. Bacterial Vaginosis

Bacterial vaginosis merupakan kondisi yang paling umum menyebabkan infeksi vagina pada wanita. Secara khusus, kondisi ini lebih mungkin terjadi pada wanita dalam rentang usia 15-44 tahun.

Pada dasarnya, bakteri memang ada pada vagina secara alami. Akan tetapi, pertumbuhan bakteri yang berlebihan bisa menyebabkan bacterial vaginosis. 

Rasa gatal pada bibir vagina merupakan salah satu gejala dari kondisi ini. Jika Anda aktif secara seksual, kondisi ini lebih rentan terjadi. 

2. Iritasi

Beberapa kandungan bisa menyebabkan iritasi ketika terpapar ke vagina. Salah satu gejala utama dari iritasi adalah gatal.

Iritasi juga bisa menjadi reaksi alergi yang menyebabkan gatal di berbagai area tubuh, termasuk di vagina. Hal ini terjadi ketika kulit vagina Anda terpapar oleh bahan kimia yang merupakan iritan.

Beberapa sumber iritan yang mengandung bahan kimia dan bisa menyebabkan gatal adalah sabun, krim pelembab, alat kontrasepsi topikal, deterjen, salep, dan lain-lain.

3. Infeksi jamur

Infeksi jamur juga bisa memicu rasa gatal di area bibir vagina luar. Sama seperti bakteri, jamur pada dasarnya ada pada vagina secara alami. Pertumbuhan jamur yang tidak terkendali akan menyebabkan infeksi jamur.

Pertumbuhan jamur pada vagina bisa menimbulkan rasa tidak nyaman. Salah satu gejalanya adalah rasa gatal. 

Jika Anda mengalami infeksi jamur pada vagina, Anda tidak perlu khawatir. Kondisi ini sangat umum dialami oleh para wanita di seluruh dunia dan bisa diobati dengan pengobatan tepat dari dokter.

4. Penyakit menular seksual

Penyakit menular seksual adalah penyakit yang pemaparannya terjadi ketika melakukan hubungan seksual. Ada banyak sekali berbagai jenis penyakit menular seksual. Beberapa gejala umum dari kondisi-kondisi tersebut adalah rasa gatal di vagina.

Terkadang, rasa gatal akibat penyakit menular seksual bisa menjadi semakin parah di malam hari. Selain gatal, Anda juga mungkin akan merasakan gejala tambahan berupa sensasi terbakar di vagina, aroma vagina yang tidak sedap, dan lain-lain.

5. Eksim atau dermatitis

Eksim merupakan penyakit kulit jangka panjang yang bisa terjadi pada kulit di bagian tubuh mana saja, termasuk di vagina. Kondisi ini akan membuat kulit menjadi kering, pecah-pecah, bersisik, dan gatal.

Apabila Anda mengalami dermatitis, bagian luar vagina juga akan terlihat meradang dan berwarna merah. Rasa gatal akibat eksim atau dermatitis akan semakin parah di malam hari.

Pengobatan untuk kondisi ini bermacam-macam. Salah satu cara untuk meredakan rasa gatal di area bibir vagina luar akibat eksim adalah menggunakan air dan sabun yang lembut, kemudian menggunakan pelembab pada kulit yang bermasalah.

Itulah beberapa macam penyebab gatal di area bibir vagina luar yang cukup umum. Bisa saja, setelah melakukan pemeriksaan ke dokter, dokter mengidentifikasi adanya faktor penyebab lain yang belum disebutkan di atas. 

7 Bahan Alami yang Bisa Lembapkan Bibir Kering

Bibir pecah-pecah sungguh tidak menyenangkan. Bukan cuma mengganggu penampilan, bibir pecah-pecah juga membuat risiko terkena infeksi mulut lebih besar karena kuman maupun bakteri bisa masuk lewat pecahan bibir. Bibir kering sendiri merupakan penyebab utama terjadinya bibir pecah-pecah yang sangat menyebalkan. 

image Mulut Kering

Bibir memang merupakan bagian tubuh yang paling mudah mengalami kekeringan. Ini karena kulit di bibir sangat tipis sehingga rentan mengelupas dan mengering saat terkena udara yang terlalu panas, terlalu dingin, ataupun penyebab lain. Di sisi lain, kelenjar minyak di bibir sangat minim sehingga tidak dapat menghasilkan kelembapan sendiri. 

Bibir pecah-pecah hanya satu dari gejala dan risiko yang timbul dari bibir kering. Gejala lain dari masalah ini, antara nyer lidah sampai suara serak. Pergi Ke dokter merupakan langkah bijak untuk memulihkan kondisi bibir kering. Namun sebelum itu, mencoba mengembalikan kelembapan bibir dengan bahan-bahan alami di bawah ini juga patut dicoba. 

  • Lidah Buaya 

Merebus tanaman lidah buaya dan mengambil gelnya dapat menjadi cara untuk memulihkan kondisi bibir kering. Pasalnya, gel yang ada dalam daun tanaman ini tinggi antioksidan dan vitamin yang mampu menghidrasi kulit secara maksimal. Gel lidah buaya juga memiliki sifat anti peradangan yang bisa mencegah bibir kering menjadi terinfeksi. 

  • Minyak Kelapa 

Minyak kelapa memiliki sangat banyak manfaat, tidak terkecuali untuk melembapkan bibir kering atau bagian kulit yang rentan lainnya. Ini karena minyak kelapa memiliki sifat emolien yang menenangkan dan melembutkan kulit. Anda bisa membuat minyak kelapa murni dengan merebus santan kelapa sampai kering dan tersisa minyak jernih. 

  • Madu 

Kemampuan madu untuk kesehatan sudah tidak perlu diragukan. Madu juga ampuh membuat bibir kering menjadi lembap kembali. Kandungan antioksidan dan sifat antibakteri yang terdapat pada madu juga mencegah munculnya infeksi berkembang di bibir yang sangat kering atau pecah-pecah. 

  • Gula 

Gula merupakan bahan alami yang mungkin tidak Anda sangka sebelumnya dapat membuat bibir kering menjadi lembap kembali. Kemampuan gula bahkan bisa disetarakan dengan beragam jenis minyak pelembap. Namun, Anda mesti berhati-hati ketika memakai gula untuk mengobati bibir kering. Umumna gula dipakai dalam bentuk masker di bibir. Namun jika tidak hati-hati ketika mengelupasnya, bibir kering Anda justru bisa mengalami pecah-pecah. 

  • Mentimun 

Coba cek apakah di kulkas Anda masih tersedia mentimun atau tidak. Jika ada, irislah mentimun tersebut tipis-tipis atau blender sampai halus. Setelah itu, Anda bisa menggunakan mentimun sebagai masker bibir. Mentimun memberikan rasa segar dan lembut pada bibir karena mengandung vitamin dan mineral yang baik untuk melembapkan. Penampilan bibir kering Anda pun akan membaik ketika rajin memakai masker mentimun tersebut. 

  • Teh Hijau 

Teh hijau memiliki segala kandungan yang Anda butuhkan untuk memulihkan bibir kering. Ada antioksidan dan mineral pada teh hijau yang membuat infeksi dan peradangan pada bibir mereda. Ada pula kandungan polifenol pada bahan alami ini yang membantu melembutkan bibir. Cara pengaplikasian teh hijau untuk melembapkan bibir kering pun tidak sulit. Anda hanya perlu merendam sekantong teh hijau dalam air hangat. Setelah itu, usapkan dengan lembut ke bibir untuk menghilangkan kulit kering yang mengganggu. 

  • Alpukat 

Alpukat memiliki kandungan vitamin E yang baik untuk kulit, tidak terkecuali untuk melembapkan bibir kering yang Anda alami. Tidak hanya itu, alpukat juga memiliki kandungan asam oleat dan linoleat yang mampu mempertahankan hidrasi kulit lebih lama sehingga masalah serupa tidak muncul di kemudian hari. Jika Anda kesulitan memakai alpukat utuh untuk masker bibir, Anda bisa mencoba membeli mentega alpukat yang memiliki daya serap lebih baik di kulit. 

Sekarang cek dapur Anda, dari beragam bahan alami di atas mana yang tersedia? Segera ambil bahan tersebut dan praktikkan cara melembapkan bibir Anda untuk menghilangkan bibir kering yang mengganggu penampilan dan kesehatan.

Pentingkah Vaksin Typoid Diberikan pada Anak?

Vaksin typoid menjadi satu dari beberapa jenis imunisasi yang harus diberikan kepada anak.Vaksin ini untuk mencegah penyakit demam tifoid (tipes) yang sering menyerang anak-anak dan orang dewasa.

Demam typhoid (tifoid) atau tipes adalah penyakit infeksi akut yang disertai demam yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. 

Penyebab munculnya bakteri ini karena kebersihan makanan atau minuman, lingkungan, dan diri sendiri yang yang tidak terawat. Penyakit ini juga bisa ditularkan melalui feses orang yang sudah terinfeksi. 

Lantas, apakah vaksin typoid ini diperlukan? 

Seberapa Efektif Vaksin Typoid untuk Mencegah Tifus? 

Vaksinasi typoid dilakukan sebagai upaya pencegahan serta mengobati penderita demam tifoid sampai tuntas sehingga mereka tidak menjadi pembawa kuman atau carrier. 

Indonesia membutuhkan imunisasi ini karena termasuk wilayah endemis thypoid, yang mana setiap tahun kejadian thypoid masih tinggi.

Efektivitas vaksin typoid dalam mencegah tifus cukup tinggi yakni 50-80%. Dengan penjelasan sebagai berikut:

  • Vaksin oral memiliki efektivitas sebesar 36-66 persen untuk mencegah demam tifoid.
  • Vaksin jenis suntik mampu perlindungan sebesar 60-70 persen  pada anak di atas 5 tahun dan orang dewasa.

Namun, selain vaksin hal yang tidak kalah untuk mencegah penyakit tifus yaitu menjaga asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi, tersedianya air bersih, jarak septic tank dengan sumber air kurang dari 10 meter, serta selalu rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir terutama sebelum makan. 

Mereka yang Harus Divaksin

Setiap orang sebisa mungkin melindungi dirinya dengan vaksin typoid. Adapun mereka yang sangat dianjurkan diberikan vaksin ini yaitu anak usia sekolah.

Selain anak-anak, beberapa orang yang sangat diwajibkan untuk mendapatkan vaksin ini di antaranya:

  • Orang yang bekerja di laboratorium dan menangani bakteri S. typhi
  • Bekerja atau bepergian di daerah endemik (penularannya penyakitnya cukup tinggi)
  • Memiliki kontak dekat dengan pasien demam tifoid
  • Tinggal di lingkungan yang air atau tanahnya berisiko terkontaminasi bakteri
  • Petugas kuliner (yang berhubungan dengan makanan dan minuman)

Orang yang Tidak Dianjurkan Melakukan Vaksin Typoid 

Sekalipun vaksin typoid mampu mencegah penyakit tifus, tetapi beberapa kondisi yang membuat seseorang harus menunda pemberian vaksin. Orang-orang berikut sebaiknya tidak melakukan imunisasi typoid: 

  • Alergi terhadap bahan di dalam vaksin
  • Mereka yang mempunyai sistem kekebalan tubuh yang lemah (misalnya mengidap HIV/AIDS)
  • Sedang mengonsumsi antibiotik atau obat antimalaria
  • Ibu hamil dan menyusu
  • Memiliki reaksi alergi berat pada riwayat pemberian vaksin thypoid sebelumnya
  • Orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh atau menderita kanker, atau dalam pengobatan kanker.

Sementara itu, untuk anak yang sedang sakit ringan, seperti demam ringan, batuk, atau pilek, masih bisa diberikan imunisasi typoid. Namun, pastikan Anda bertanya dulu kepada dokter sebelum vaksin ini dilakukan. 

Cara Kerja Vaksin Typoid

Saat ini ada tiga jenis vaksin tifoid yang direkomendasikan WHO, yakni:

  • Vaksin konjugat tifoid suntik (TVC) yang diperuntukkan bagi anak berusia 6 bulan hingga orang dewasa berusia 45 tahun
  • Vaksin polisakarida tak terkonjugasi bagi anak berumur 2 tahun ke atas
  • Vaksin Ty21a yang diberikan berupa kapsul dan diberikan secara oral bagi yang berusia di atas 6 tahun

Vaksin suntik tifoid jenis polisakarida dapat diberikan pada orang dewasa dan anak di atas usia 2 tahun. Vaksin ini harus diberikan setidaknya 2 minggu sebelum perjalanan ke daerah endemik dilakukan.

Dosis lanjutan diperlukan jika orang tersebut memiliki risiko terinfeksi lagi di kemudian hari. Jangka waktu pemberiannya adalah 3 tahun setelah suntikan pertama. 

Kemudian, vaksin jenis oral bisa diberikan pada anak usia 6 tahun dan orang dewasa.

Meski begitu, saat seorang anak sudah mendapatkan vaksin tifoid, kemudian ia terserang demam tifoid di kemudian hari maka gejala yang dialaminya akan lebih ringan daripada anak lainnya yang belum mendapatkan vaksin tifoid.

Syarat Vaksin Covid 19, yang Boleh dan Tidak

Pemberian dosis vaksin COVID-19 mulai dilakukan di banyak negara. Di Amerika Serikat, Badan Obat dan Makanan (DFA) memberikan otorisasi kegawatdaruratan untuk vaksin COVID-19 Pfizer-BioNtech dan Moderna. Kedua vaksin tersebut diberikan dalam 2 dosis secara intramuskular. Vaksin Pfizer diberikan dengan rentang jarak 21 hari, sementara vaksin Moderna diberikan dengan rentang jarak 28 hari. Artikel ini akan membahas hal-hal seputar vaksin COVID-19, tentang siapa yang boleh menerima vaksin dan tidak sesuai dengan syarat vaksin covid 19.

Masyarakat Umum | Satgas Penanganan Covid-19

Apakah vaksin COVID-19 aman?

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) telah menerima beberapa laporan awal bahwa beberapa orang menderita reaksi alergi parah setelah mendapatkan vaksin COVID-19. Meskipun jarang dijumpai, reaksi alergi seperti anaphylaxis merupakan sebuah hal yang menakutkan dan dapat mengancam nyawa, sehingga laporan tersebut patut untuk dikhawatirkan. Untuk itu, syarat vaksin covid 19 menurut CDC adalah bagi orang-orang yang memiliki reaksi alergi parah terhadap bahan yang ada di dalam vaksin, disarankan untuk tidak mendapatkan suntikan vaksin tersebut. Selain itu, orang-orang yang memiliki reaksi alergi parah terhadap vaksin jenis lain atau terapi suntik harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter tentang apa yang terbaik untuk kondisi mereka. 

Mereka yang memiliki riwayat reaksi alergi parah yang tidak berhubungan dengan vaksinasi (misalnya alergi karena makanan, racun, hewan peliharaan, dan latex) masih bisa mendapatkan vaksinasi COVID-19. Sementara itu, mereka yang tidak memiliki riwayat reaksi alergi parah akan dipantau selama 15 setelah mendapatkan vaksinasi. CDC menyarankan bagi mereka yang menderita reaksi alergi parah untuk dipantau selama 30 menit. 

Ibu hamil dan menyusui

Belum ada data tentang keamanan vaksin COVID-19 untuk ibu hamil, karena mereka tidak masuk ke dalam uji klinis. Menurut CDC, berdasarkan informasi saat ini, para ahli percaya bahwa vaksin mRNA kemungkinan besar tidak akan menyebabkan risiko bagi ibu hamil ataupun janin. Jika ibu hamil merupakan bagian dari kelompok orang yang direkomendasikan untuk menerima vaksin COVID-19 (tenaga medis), mereka dapat memilih untuk mendapatkan vaksinasi. 

Akan tetapi, saran tersebut sangatlah berbeda apabila dibandingkan dengan saran dari Britania Raya, di mana mereka tidak menyarankan vaksinasi pada ibu hamil. Meskipun demikian, ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit COVID-19 dan berisiko menyebabkan komplikasi kehamilan yang parah. Meskipun tidak ada cukup data saat ini, para peneliti tahu bahwa vaksin dapat melindungi, dan dengan mengetahui risiko yang dibawa oleh penyakit COVID-19 pada saat kehamilan, terlihat bahwa manfaat yang dibawa oleh vaksin jauh lebih besar dibandingkan dengan risiko efek samping. 

Selain itu, tidak ada data tingkat keamanan vaksin pada ibu menyusui atau efek dari vaksin COVID-19 terhadap bayi yang menyusu ASI, namun CDC menyatakan bahwa vaksin dipercaya tidak berbahaya bagi bayi yang sedang menyusu. Oleh sebab itu, ibu menyusui yang menjadi bagian dari kelompok yang direkomendasikan untuk mendapatkan vaksin segera (misalnya tenaga kesehatan) dapat memilih untuk mendapatkan vaksin. 

Uji klinis juga menunjukkan bahwa vaksin aman untuk orang-orang yang telah terinfeksi COVID-19 sebelumnya. CDC menyatakan bahwa vaksinasi perlu ditunda hingga orang tersebut telah sembuh dari penyakit yang akut (apabila gejala muncul) dan mereka telah memenuhi syarat vaksin covid 19 dan kriteria untuk meninggalkan lokasi isolasi. Untuk informasi lebih lanjut apakah Anda dapat menggunakan vaksin, konsultasi dengan dokter terlebih dahulu. 

Hal yang Perlu Anda Ketahui Seputar Retinopati Diabetik

Retinopati diabetik adalah kerusakan pembuluh darah di retina yang disebabkan karena diabetes. Retinopati diabetik dapat menyebabkan berbagai macam gejala, termasuk pandangan yang buram/kabur, kesulitan melihat warna, dan “floaters” mata (bercak-bercak kecil yang menghalangi penglihatan). Apabila kondisi ini tidak diobati, kebutaan dapat terjadi. Retinopati diabetik merupakan penyebab utama kasus kebutaan pada orang dewasa, juga merupakan penyebab utama hilangnya penglihatan pada mereka yang menderita diabetes. Seseorang mungkin tidak memiliki gejala awal retinopati diabetik, namun memiliki pemeriksaan mata secara rutin setidaknya sekali dalam setahun dapat membantu mendiagnosa penyakit ini untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih parah. Mengontrol diabetes dan merawat gejala awal merupakan cara paling efektif dalam mencegah neuropati diabetik. 

Penyebab dan gejala

Retinopati diabetik adalah sebuah kondisi gangguan mata atau penglihatan yang disebabkan karena diabetes. Kondisi ini dapat terjadi akibat level gula darah yang tinggi yang disebabkan oleh diabetes. Memiliki terlalu banyak gula di dalam darah dapat merusak pembuluh darah di seluruh tubuh, termasuk di retina (selaput yang menutupi bagian belakang mata, yang berfungsi untuk mendeteksi cahaya dan mengirim sinyal ke otak melalui saraf optik). Apabila gula menghambat pembuluh darah kecil yang menuju retina, hal ini akan membuat pembuluh darah bocor atau berdarah. Mata kemudian akan mengembangkan pembuluh darah baru yang lebih lemah dan mudah berdarah atau bocor. Apabila mata Anda mulai menumbuhkan pembuluh darah baru, kondisi ini dikenal dengan sebutan retinopati diabetik proliferative, yang para ahli menganggapnya sebagai kondisi lebih parah. 

Mata dapat mengumpulkan cairan pada periode lama gula darah tinggi. Penumpukan cairan ini dapat mengubah bentuk dan lengkung lensa, menyebabkan adanya perubahan pada kemampuan melihat seseorang. Saat seseorang berhasil mengatur level gula darah, lensa tersebut akan kembali ke bentuk semula dan kemampuan melihatpun akan ikut meningkat. Diabetes juga dapat meningkatkan risiko seseorang menderita gangguan penglihatan, seperti katarak dan glaucoma sudut terbuka. 

Retinopati diabetik tidak selalu menyebabkan gejala saat kondisi ini mulai berkembang. Gejala biasanya akan terlihat saat kondisi ini berubah menjadi lebih parah. Retinopati diabetik umumnya akan memengaruhi kedua mata, dengan tanda dan gejala meliputi pandangan yang kabur, penglihatan warna yang terganggu, “floaters” mata, garis atau bercak yang menutupi penglihatan seseorang, penglihatan malam yang buruk, daerah gelap atau kosong pada pusat penglihatan, dan kebutaan tiba-tiba. 

Komplikasi

Tanpa perawatan, retinopati diabetik dapat menyebabkan berbagai jenis komplikasi. Saat pembuluh darah bocor ke “jelly” utama yang mengisi mata (vitreous), kondisi ini dikenal dengan sebutan pendarahan vitreous. Dalam kasus yang ringan, gejala yang dapat Anda rasakan adalah floaters; namun dalam kasus yang parah, kebutaan dapat terjadi karena darah pada vitreous menghambat cahaya untuk masuk ke dalam mata. Apabila retina tidak rusak, pendarahan di vitreous dapat sembuh dengan sendirinya. 

Dalam beberapa kasus, retinopati diabetik dapat menyebabkan terlepasnya retina. Komplikasi ini dapat terjadi jika jaringan parut menarik retina dari bagian belakang mata. Kondisi ini biasanya menyebabkan tampilan bercak mengambang pada bidang penglihatan seseorang, kilasan sinar, dan kebutaan parah. Retina yang terlepas menjadi risiko paling besar bagi seseorang untuk menderita kebutaan apabila tidak dirawat secepatnya. Aliran cairan normal di mata juga dapat tersumbat saat pembuluh darah baru mulai terbentuk, menyebabkan sebuah kondisi yang disebut glaucoma. Penyumbatan tersebut menyebabkan penumpukan tekanan di mata, meningkatkan risiko kerusakan saraf optik dan kebutaan. 

Waspada! Ini 4 Penyebab Lidah Sakit

Lidah merupakan salah satu dari panca indera, yaitu indera pengecap yang terdiri dari beberapa bagian dengan fungsi yang berbeda. Beberapa fungsi lidah selain pengecap adalah untuk berkomunikasi, membantu menelan makanan dan mengunyah. 

Namun, ada beberapa hal yang bisa membuat lidah terasa sakit atau nyeri. Nah, kali ini akan dibahas apa penyebab lidah sakit yang perlu Anda waspadai. Berikut beberapa penyebabnya!

Lidah sakit dapat disebabkan sariawan, defisiensi vitamin dan mineral, hingga kanker mulut.

Lidah adalah…

Lidah terdiri dari sekelompok otot yang bergerak yang menempel pada dasar mulut. Permukaan lidah ditutupi dengan benjolan kecil yang disebut papila. Mayoritas pengecap kita ada di papilla ini. Lidah digunakan untuk mencicipi, menelan, dan mengunyah makanan. 

Lidah juga digunakan untuk memberikan kata-kata untuk berbicara. Biasanya, lidah yang berwarna merah muda dan lembab dengan lapisan tipis agak putih mengkilat di permukaan dianggap sehat. Ada variasi tekstur permukaan yang normal dan juga sehat. 

Masalah lidah yang umum terjadi dan dapat mempengaruhi lidah Anda, meliputi:

  • Rasa sakit 
  • Luka
  • Pembengkakan
  • Perubahan rasa
  • Perubahan warna
  • Perubahan tekstur

Masalah ini seringkali tidak serius. Namun, terkadang gejala Anda mungkin terjadi karena kondisi mendasar yang memerlukan perawatan medis. 

Penyebab lidah sakit

Nyeri lidah atau lidah terasa sakit biasanya terjadi karena beberapa hal, seperti cedera atau infeksi. Dan, berikut beberapa penyebab lidah sakit, meliputi:

  • Menggigit lidah

Jika Anda menggigit lidah, Anda mungkin mengalami luka yang bisa berlangsung berhati-hati dan sangat menyakitkan. Infeksi kecil di lidah tidak jarang terjadi, dan dapat menyebabkan rasa sakit dan iritasi. Papilla yang meradang, atau perasa, adalah benjolan kecil yang menyaksikan yang muncul setelah cedera akibat gigitan atau iritasi akibat makanan panas. 

  • Canker sore

Canker sore atau aphthous adalah lesi kecil dan dangkal yang berkembang di jaringan lunak pada mulut dan dasar gusi. Umumnya, lesi akan berwarna putih atau kuning dengan pinggiran yang memerah dan berbentuk bulat. Lesi tersebut biasanya akan muncul di atas atau bawah lidah yang bisa menimbulkan rasa sakit hingga membuat penderita kesulitan untuk makan ataupun berbicara. Tidak hanya itu, Anda mungkin juga akan merasakan kesemutan atau sensasi terbakar satu atau dua hari sebelum luka benar-benar muncul. 

Namun jika tak kunjung sembuh dalam dua minggu, luka yang semakin membesar, luka berulang (atau bertambah di tempat lain), luka meluas ke bibir, atau Anda mengalami demam tinggi,  ada baiknya untuk segera mengunjungi dokter untuk melakukan perawatan. 

Canker sore tidak terjadi karena virus seperti herpes. Namun, beberapa kemungkinan penyebabnya adalah luka mulut, bahan abrasif pada pasta gigi atau obat kumur, alergi makanan atau kekurangan nutrisi. 

  • Neuralgia

Neuralgia juga bisa menjadi sumber penyebab lidah sakit atau nyeri. Ini adalah rasa sakit yang sangat parah yang terjadi di sepanjang saraf yang rusak. Neuralgia terjadi tanpa alasan yang jelas atau dapat terjadi karena:

  • Penuaan 
  • Sclerosis ganda
  • Diabetes
  • Tumor
  • Infeksi
  • Burning mouth syndrome

Hal ini merupakan fenomena yang sering kali melibatkan lidah atau yang sering disebut sebagai lidah terbakar. Gejala nya adalah lidah terasa terbakar dan sakit, rasa haus yang meningkat dengan mulut kering, serta rasa yang berubah atau seperti logam. 

Hal ini terkait dengan kondisi lain yang termasuk menopause, kecemasan, depresi, refluks asam, kekurangan nutrisi dan kondisi mulut kering atau sariawan. Perawatan yang perlu dilakukan biasanya hanya mengonsumsi obat antijamur untuk sariawan yang muncul atau suplemen untuk kekurangan nutrisi dan obat untuk mengatasi gejala kecemasan atau depresi. 

Masalah lidah yang umum terjadi

Selain beberapa penyebab lidah sakit di atas, ada beberapa masalah umum yang terkait dengan lidah, meliputi:

  • Perubahan warna
  • Peningkatan ukuran
  • Kelainan permukaan
  • Pertumbuhan (benjolan) atau nyeri
  • Kekhawatiran rasa
  • Kesulitan melakukan gerakan

Jadi, jika beberapa penyebab lidah sakit di atas Anda alami disarankan untuk segera menemui dokter untuk mengkonsultasikan lebih lanjut terkait kondisi kesehatan Anda dan melakukan perawatan lanjutan jika diperlukan. Untuk menghindari masalah pada  lidah dan kesehatan mulut, Anda disarankan untuk terus menjaga kesehatan gigi dan mulut, serta mengunjungi dokter gigi paling tidak enam bulan sekali. 

Sering Mimisan? Hati-hati dengan 4 Penyakit Ini

Secara umum anak sering mengalami mimisan di usia 3-10 tahun, penyebab sering mimisan ini beragam. Mulai dari udara kering, kebiasaan mengorek hidung atau adanya gangguan di dalam hidung. Namun, perlu hati-hati ketika anak sering mengalami kondisi ini karena bisa saja disebabkan karena keadaan yang serius dan membahayakan nyawa.

Mimisan pada anak kerap kali muncul secara mendadak dan kapan saja, seperti ketika sedang bermain, beraktivitas, berada di sekolah atau ketika istirahat dan tidur. Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah kecil di dalam hidung pecah, pembuluh darah ini memang mudah pecah karena dindingnya yang tipis dan berada di dekat permukaan kulit.

Penyebab Sering Mimisan

  1. Hemofilia

Terkesan biasa dan tidak berbahaya, mimisan yang terjadi secara terus-menerus dapat menjadi tanda hemofilia. Suatu kelainan yang menyebabkan tubuh kekurangan protein, protein memang sangat dibutuhkan dalam proses pembekuan darah jika terjadi pendarahan sehingga sering disebut juga sebagai faktor pembekuan atau koagulasi.

Dalam kondisi normal, protein menjadi faktor pembeku darah akan membentuk jaring penahan di sekitar sel darah, sehingga saat mimisan terjadi. Lalu darah dapat membeku dengan cepat dan pendarahan pun berhenti. Namun, pengidap hemofilia akan kekurangan protein dan mengakibatkan pendarahan berkepanjangan.

  1. Karsinoma Nasofaring

Merupakan kanker yang terjadi pada nasofaring, letaknya di bagian atas faring atau tenggorokan tepat di belakang hidung. Karsinoma sel skuamosa atau squamous cell carcinoma adalah jenis kanker yang paling umum di daerah ini dan timbul dari jaringan lapisan hidung. Mimisan berulang kali adalah gejala umum dari kondisi tersebut.

Selain mimisan terus-menerus, kanker ini juga menyebabkan ingus yang keluar selalu mengandung bercak darah. Mimisan karena karsinoma nasofaring terjadi pada salah satu sisi hidung dan biasanya tidak menyebabkan pendarahan berat. Di tahap awal kemunculannya, kondisi ini sangat sulit untuk dideteksi, hal ini karena gejala yang muncul mirip kondisi lain yang umum terjadi.

  1. Leukemia

Mimisan secara terus menerus juga bisa menjadi gejala dari leukemia, seseorang dengan penyakit ini sering mengalami memar dan mudah berdarah. Leukemia merupakan kanker sel darah putih, kanker ini menghambat darah putih dalam melawan infeksi. Ketika seseorang mengalami penyakit ini, sumsum tulangnya tidak mampu memproduksi sel-sel darah merah.

Dan trombosit untuk memasok kebutuhan tubuh, leukimia bisa berujung menjadi kondisi akut disebut dengan acute myeloid leukemia (AML) dan kronis. Leukemia kronis atau chronic lymphocytic leukemia lebih berbahaya dan sulit untuk diobati dan ini menjadi jenis paling umum dari penyakit kanker darah yang menyerang manusia.

Mimisan pada leukemia kemungkinan sulit dihentikan, meskipun pendarahan yang terjadi tidak terlalu berat. Kemungkinan gejala lain yang muncul adalah demam, berkeringat di malam hari, nyeri tulang, pembengkakan kelenjar getah bening, merasa lemas hingga berat badan menurun tanpa penyebab yang jelas.

  1. Limfoma

Penyebab sering mimisan selanjutnya adalah limfoma, yang berkembang pada limfosit (tipe sel darah putih) yang melawan infeksi. Limfosit yang tidak normal akan mengganggu sistem kekebalan tubuh, hal ini akan mengurangi ketahanan terhadap faktor berbahaya dari luar. Dua jenis limfoma yang utama adalah non-hodgkin limfoma (NHL) dan penyakit hodgkin limfoma.

Kelenjar getah bening dan jaringan limfatik lainnya terjadi di seluruh tubuh, sehingga limfoma bisa muncul di nyaris semua bagian tubuh. Termasuk pada hidung atau sinus (rongga hidung yang berisi udara di belakang tulang wajah). Tumbuhnya jaringan limfoid di hidung atau sinus bisa mengikis bagian dalam pembuluh darah dan menjadi penyebab mimisan.

Uji Coba Vaksin Corona Diwarnai Kasus Myelitis Transversa

Setelah sekian lama bergelut di laboratorium, kini satu per satu vaksin corona siap dipasarkan. Perjalanan masing-masing produsen memang berbeda, ada yang lancar-lancar saja hingga langsung mendapat “lampu hijau”, tetapi ada pula yang harus sedikit “tersandung”. Seperti pabrikan farmasi yang bermarkas di Inggris, misalnya, vaksin buatannya membuat seorang relawan terserang myelitis transversa

Relawan uji coba vaksin corona dari AstraZeneca ini tiba-tiba menderita penyakit yang menyerang sumsum tulang belakangnya. Atas laporan itu, AstraZeneca terpaksa menghentikan sementara aktivitasnya. Lantas seberapa serius penyakit myelitis transversa ini, sehingga temuan ini begitu mengejutkan? 

Secara umum, myelitis transversa menyebabkan peradangan di sumsum tulang belakang dan memengaruhi proses pengiriman pesan ke seluruh tubuh. Lanjutan dari kondisi ini adalah kelumpuhan. Awalnya, penyakit ini hanya membuat penderitanya merasakan semacam nyeri hingga melemahnya otot-otot. Namun, lambat laun myelitis transversa bertanggung jawab terhadap masalah sensorik yang diderita oleh pasien. 

Lebih dari itu, myelitis transvera diketahui juga berpotensi besar membuat seseorang mengalami disfungsi kandung kemih dan usus. Pada kasus ini, bagian atau segmen saraf tulang belakang yang terserang bakal menentukan bagian tubuh yang terkena. 

Kerusakan pada satu segmen akan berdampak pada fungsi segmen tersebut atau di bawah segmen tersebut. Pada myelitis transversa, myelin yang rusak paling sering mengenai saraf pada bagian atas, sehingga menyebabkan gangguan pada pergerakan kaki, serta gangguan fungsi usus dan kandung kemih.

AstraZeneca sebagai produsen merasa bertanggung jawab atas kejadian ini. Mereka berjanji akan menyelidiki secara mendalam apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh pasien setelah disuntikkan vaksin covid-19 buatannya. Mereka masih belum yakin apakah vaksin corona yang dikembangkannya benar berperan dalam munculnya penyakit itu atau tidak. 

AstraZeneca mengatakan, dalam uji coba skala besar, penyakit dapat terjadi secara kebetulan. Meski demikian, kondisi ini tetap harus ditinjau secara independen untuk mengetahui dengan cermat penyebabnya. Pasalnya, sampai saat ini penyebab utama terjadinya myelitis transversa juga belum dapat dipastikan. 

Beberapa potensi medis beranggapan bahwa kondisi ini amat berkaitan dengan beberapa hal seperti infeksi atau gangguan sistem kekebalan tubuh. Itulah yang membuat penyakit ini terkait dengan Covid-19. Selain itu, virus yang dapat langsung menginfeksi saraf tulang belakang adalah virus herpes, termasuk di dalamnya adalah virus herpes zoster (chickenpox), enterovirus, dan flavivirus, seperti virus West Nile dan Zika. Virus-virus lainnya dapat memicu reaksi autoimun secara tidak langsung menginfeksi saraf tulang belakang.

Meski menyerang sumsum tulang belakang, myelitis transversa tak serta merta menjadi penyakit yang harus ditakutkan. Benar bahwa penyakit ini bisa menyebabkan kelumpuhan. Namun, jika ditangani dengan baik dan kondisinya tidak terlampau parah, penderitanya bisa kembali hidup dengan normal. 

Penderita mungkin butuh melewati berbagai macam prosedur pemeriksaan untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai kondisinya. Diagnosis diperlukan sebelum petugas medis melakukan penanganan–bukan pengobatan. Karena sebenarnya myelitis transversa belum dapat disembuhkan. 

Penanganan dilakukan hanya untuk mengatasi infeksi yang dapat menjadi penyebab, mengurangi peradangan pada saraf tulang belakang, mengontrol penyakit tersebut, dan meredakan gejala-gejala yang timbul. 

Masa pemulihan penderita myelitis transversa biasanya terjadi dengan cepat pada tiga bulan pertama setelah serangan. Untuk beberapa penderita, masa pemulihan dapat berlanjut dalam jangka waktu dua tahun atau bahkan lebih.

Oleh karena itu, relawan uji coba vaksin corona yang dikembangkan AstraZeneca ini mungkin akan dapat kembali ke kondisi terbaiknya. Sebagai bentuk tanggung jawab, AstraZeneca pasti akan melakukan langkah-langkah untuk menangani temuan efek samping myelitis transversa pada produknya tersebut. 

Waspadai Gejala Sindrom Ruminasi pada Anak

Tumbuh kembang anak dan bayi sangat dipengaruhi oleh seberapa cukup nutrisi yang masuk ke tubuhnya. Menjadi mengkhawatirkan apabila seorang anak kerap memuntahkan makanannya secara sengaja maupun tidak sehingga berpotensi menimbulkan malnutrisi yang mengganggu tumbuh kembang. Dalam dunia medis, kondisi demikian dikenal sebagai sindrom ruminasi. 

Pada penderita sindrom ruminasi, seseorang akan berulang kali membuang kembali makanan yang ia santap secara sengaja maupun tidak. Penyebab dari masalah kesehatan ini masih terus diulik. Namun ditemukan pendapat bahwa besar kemungkinan akar masalah dari sindrom ini karena tekanan pada perut ataupun masalah tumbuh kembang. 

Baiknya anak dengan sindrom ruminasi cepat direhabilitasi agar tidak menimbulkan gangguan kesehatan yang lebih serius. Untuk itu, mengetahui gejala sindrom ini secara cepat dapat membantu Anda untuk langsung mengonsultasikan masalah anak kepada dokter. Berikut ini adalah beberapa gejala sindrom ruminasi pada anak yang mesti Anda waspadai. 

  1. Memuntahkan Makanan 

Anak-anak dengan sindrom ruminasi tidak serta-merta langsung memuntahkan makanan yang ia santap begitu selesai makan. Akan ada jeda dari 10 menit sampai 2 jam sampai akhirnya anak Anda memuntahkan kembali makanannya. Tidak jarang, anak akan mengonsumsi kembali muntahannya tersebut sebab merasa tidak ada perbedaan rasa atau bau. 

  1. Bau Mulut 

Sindrom ruminasi umumnya disebabkan oleh masalah tekanan perut. Karena itulah, makanan yang telah masuk dan menuju turun ke lambung bisa kembali naik ke kerongkongan dan menjaid muntah. Kondisi tersebut tak jarang memicu naiknya asam lambung secara tidak signifikan sehingga menimbulkan bau mulut pada penderitanya. 

  1. Sakit Perut 

Kebiasaan menyantap kembali muntahan makanan yang telah “dilepehkan” kembali tentu berisiko memasukkan kuman dan bakteri ke tubuh. Tidak jarang hal tersebut berimbas pada munculnya gangguan pencernaan pada anak yang menderita sindrom ruminasi. Sakit perut merupakan gangguan pencernaan yang paling umum dirasakan oleh para anak yang menderita sindrom ini. 

  1. Bibir Pecah-pecah 

Kebiasaan memuntahkan kembali makanan ataupun minuman yang dikonsumsi dapat menyebabkan tubuh mengalami dehidrasi ringan. Kondisi ini pada akhirnya akan menimbulkan gejala yang jelas tertangkap mata, salah satunya bibir pecah-pecah. Jadi jika anak Anda mengalami bibir pecah-pecah tanpa alasan yang jelas, patut dicurigai adanya kondisi sindrom ruminasi pada sang buah hati. 

  1. Gigi Rusak 

Anak-anak dengan sindrom ruminasi pada umumnya memiliki gigi yang tidak sehat. Kerusakan gigi yang paling sering menghinggapi anak dengan sindrom ini adalah erosi gigi atau terkelupasnya lapisan gigi bagian depan. Erosi terjadi karena kondisi asam yang menyelimuti mulut akibat ikut naiknya asam lambung pada saat pemuntahan makanan kembali. 

  1. Mudah Kenyang 

Pernahkan Anda berpikir mengapa anak dengan sindrom ruminasi mudah sekali merasa mual dan memuntahkan kembali makanannya? Ini karena gejala yang ditimbulkan oleh sindrom ini adalah perasaan mudah kenyang. Hal ini membuat anak hanya makan dalam jumlah kecil sehingga tidak mampu memenuhi asupan nutrisi harian yang dianjurkan. Berhati-hatilah, gejala mudah kenyang akibat sindrom ruminasi menjadi penyebab malnutrisi yang utama. 

  1. Berat Badan Turun 

Idealnya berat badan anak haruslah naik dari waktu ke waktu. Akan tetapi, beberapa masalah kesehatan akan menyebabkan masalah penurunan berat badan yang cukup ekstrem. Sindrom ruminasi pun kerap menimbulkan gejala penurunan berat badan yang cukup signifikan pada anak. 

*** 

Anda mungkin mendapati beberapa gejala pada anak yang mengarah pada kondisi sindrom ruminasi, namun tidak yakin dengan diagnosis sendiri. Cara terbaik memastikannya adalah berkonsultasi ke dokter agar penanganan yang tepat pun bisa diberikan.