Syarat Vaksin Covid 19, yang Boleh dan Tidak

Pemberian dosis vaksin COVID-19 mulai dilakukan di banyak negara. Di Amerika Serikat, Badan Obat dan Makanan (DFA) memberikan otorisasi kegawatdaruratan untuk vaksin COVID-19 Pfizer-BioNtech dan Moderna. Kedua vaksin tersebut diberikan dalam 2 dosis secara intramuskular. Vaksin Pfizer diberikan dengan rentang jarak 21 hari, sementara vaksin Moderna diberikan dengan rentang jarak 28 hari. Artikel ini akan membahas hal-hal seputar vaksin COVID-19, tentang siapa yang boleh menerima vaksin dan tidak sesuai dengan syarat vaksin covid 19.

Masyarakat Umum | Satgas Penanganan Covid-19

Apakah vaksin COVID-19 aman?

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) telah menerima beberapa laporan awal bahwa beberapa orang menderita reaksi alergi parah setelah mendapatkan vaksin COVID-19. Meskipun jarang dijumpai, reaksi alergi seperti anaphylaxis merupakan sebuah hal yang menakutkan dan dapat mengancam nyawa, sehingga laporan tersebut patut untuk dikhawatirkan. Untuk itu, syarat vaksin covid 19 menurut CDC adalah bagi orang-orang yang memiliki reaksi alergi parah terhadap bahan yang ada di dalam vaksin, disarankan untuk tidak mendapatkan suntikan vaksin tersebut. Selain itu, orang-orang yang memiliki reaksi alergi parah terhadap vaksin jenis lain atau terapi suntik harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter tentang apa yang terbaik untuk kondisi mereka. 

Mereka yang memiliki riwayat reaksi alergi parah yang tidak berhubungan dengan vaksinasi (misalnya alergi karena makanan, racun, hewan peliharaan, dan latex) masih bisa mendapatkan vaksinasi COVID-19. Sementara itu, mereka yang tidak memiliki riwayat reaksi alergi parah akan dipantau selama 15 setelah mendapatkan vaksinasi. CDC menyarankan bagi mereka yang menderita reaksi alergi parah untuk dipantau selama 30 menit. 

Ibu hamil dan menyusui

Belum ada data tentang keamanan vaksin COVID-19 untuk ibu hamil, karena mereka tidak masuk ke dalam uji klinis. Menurut CDC, berdasarkan informasi saat ini, para ahli percaya bahwa vaksin mRNA kemungkinan besar tidak akan menyebabkan risiko bagi ibu hamil ataupun janin. Jika ibu hamil merupakan bagian dari kelompok orang yang direkomendasikan untuk menerima vaksin COVID-19 (tenaga medis), mereka dapat memilih untuk mendapatkan vaksinasi. 

Akan tetapi, saran tersebut sangatlah berbeda apabila dibandingkan dengan saran dari Britania Raya, di mana mereka tidak menyarankan vaksinasi pada ibu hamil. Meskipun demikian, ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi menderita penyakit COVID-19 dan berisiko menyebabkan komplikasi kehamilan yang parah. Meskipun tidak ada cukup data saat ini, para peneliti tahu bahwa vaksin dapat melindungi, dan dengan mengetahui risiko yang dibawa oleh penyakit COVID-19 pada saat kehamilan, terlihat bahwa manfaat yang dibawa oleh vaksin jauh lebih besar dibandingkan dengan risiko efek samping. 

Selain itu, tidak ada data tingkat keamanan vaksin pada ibu menyusui atau efek dari vaksin COVID-19 terhadap bayi yang menyusu ASI, namun CDC menyatakan bahwa vaksin dipercaya tidak berbahaya bagi bayi yang sedang menyusu. Oleh sebab itu, ibu menyusui yang menjadi bagian dari kelompok yang direkomendasikan untuk mendapatkan vaksin segera (misalnya tenaga kesehatan) dapat memilih untuk mendapatkan vaksin. 

Uji klinis juga menunjukkan bahwa vaksin aman untuk orang-orang yang telah terinfeksi COVID-19 sebelumnya. CDC menyatakan bahwa vaksinasi perlu ditunda hingga orang tersebut telah sembuh dari penyakit yang akut (apabila gejala muncul) dan mereka telah memenuhi syarat vaksin covid 19 dan kriteria untuk meninggalkan lokasi isolasi. Untuk informasi lebih lanjut apakah Anda dapat menggunakan vaksin, konsultasi dengan dokter terlebih dahulu.