Telinga Keluar Cairan, Bahayakah? Kenali Beragam Penyebabnya

Telinga keluar cairan bisa disebabkan oleh beragam hal, mulai dari kondisi medis biasa hingga penyakit. Jenis cairan yang keluar pun bermacam-macam, yang paling umum adalah kotoran telinga yang menjaga telinga tetap bersih dan sehat. Lainnya bisa berbentuk air maupun darah. 

Telinga keluar cairan salah satunya bisa disebabkan oleh otitis media

Jenis cairan yang keluar menentukan diagnosis penyebabnya. Apabila Anda mengalami kondisi ini setelah cedera kepala, sangat disarankan untuk segera mendapatkan penanganan medis. Ada beberapa jenis cairan yang bisa keluar dari telinga, antara lain:

  • kotoran telinga, bisa berwarna putih, kuning, atau cokelat. Jika kotoran telinga bercampur dengan air, misalnya setelah mandi atau berenang, terkadang cairan ini bisa keluar dari telinga seperti ingus. 
  • cairan bening, terkadang berbentuk air. Umumnya penyebab telinga berair ini adalah setelah mandi dan berenang, dan cairannya juga tidak berbau.
  • darah, karena cedera kecil atau luka di dalam liang telinga. 
  • nanah atau cairan keruh, disebabkan oleh infeksi di liang telinga atau telinga bagian dalam. Infeksi bisa disebabkan oleh demam, flu, atau cedera telinga. 

Selain kondisi medis, telinga keluar cairan juga bisa disebabkan oleh sejumlah penyakit, terutama jika cairan yang keluar berbentuk nanah atau darah. Untuk bisa mengetahui penyakit apa yang menjadi penyebabnya, Anda perlu memeriksakannya ke dokter.

Dokter akan menggunakan alat bernama otoskop, sebuah mikroskop dengan lampu, untuk melihat ke dalam telinga dan mencoba untuk mengidentifikasi penyebab keluarnya cairan dari telinga. 

Terkadang dokter juga akan menggunakan otoskop pneumatik yang mengeluarkan hembusan angin untuk melihat bagaimana gendang telinga bergerak atas respons dari tekanan tersebut. Dengan cara ini dapat menunjukkan apakah ada penumpukan atau cairan di belakang gendang telinga. 

Dokter juga bisa melakukan sebuah tes bernama timpanometri yang membantu untuk melihat kondisi kesehatan dari telinga tengah. Untuk melakukan tes ini, dokter akan memasukkan semacam alat ke dalam telinga dan mengevaluasi bagaimana telinga tengah merespon sejumlah tingkat tekanan yang berbeda.

Penyebab Telinga Keluar Cairan

Setelah mengetahui jenis cairan yang keluar dari telinga, Anda baru bisa memperkirakan apa penyebabnya. Selain itu, Anda juga bisa membantu dokter untuk mempermudah diagnosis. Beberapa penyakit dan kondisi medis yang bisa menjadi penyebabnya antara lain:

1. Otitis externa

Otitis externa atau lebih dikenal dengan Swimmer’s ear, merupakan sebuah infeksi liang telinga yang bisa mengenai gendang telinga hingga ujung lubang telinga. 

Infeksi ini disebabkan oleh bakteri, jamur, atau virus yang masuk ke dalam kanal. Air yang masih terus terjebak di dalam telinga setelah berenang menjadi salah satu penyebab umum. Selain itu, menggunakan cotton bud untuk membersihkan telinga atau anting yang menyebabkan iritasi juga bisa menjadi penyebabnya. 

Anak-anak lebih rentan terhadap penyakit ini karena mereka memiliki liang telinga yang lebih sempit sehingga menyulitkan mereka untuk mengeluarkan cairan yang terjebak di dalamnya.

Gejala yang ditimbulkan antara lain telinga memerah, gatal, dan rasa tidak nyaman di dalam liang telinga, terkadang disertai dengan keluarnya cairan bening. 

Hal yang perlu diperhatikan adalah meskipun gejalanya ringan, tidak boleh diabaikan karena penyakit ini mudah sekali memburuk. Sebab infeksi bisa dengan cepat menyebar dan menguat, sehingga menyebabkan rasa sakit yang parah dengan semakin banyak cairan yang keluar, bengkak, demam, dan kehilangan pendengaran.

2. Penyumbatan kotoran telinga

Keluarnya kotoran telinga merupakan proses normal, sebab telinga memproduksi kotoran telinga berbentuk seperti lilin untuk melindungi telinga dari infeksi. 

Terkadang, kotoran telinga bisa menumpuk dan menutupi gendang telinga. Penumpukan kotoran telinga tidak ada hubungannya dengan perilaku bersih yang buruk dan tidak bisa mengatasinya hanya dengan mencucinya.

Kondisi medis ini tidak terlalu umum, dengan serangkaian gejala mulai dari pusing, batuk kering, nyeri di liang telinga, tekanan pada telinga, dan berdenging. 

3. Benda asing di liang telinga

Tidak hanya kotoran telinga yang bisa berada di dalam liang telinga, namun kemungkinan adanya benda asing juga mungkin ada. Misalnya seperti makanan, potongan mainan, kancing, ujung cotton bud, kertas, atau bahkan serangga. 

Biasanya benda asing ini terjebak di liang telinga bagian luar. Namun kondisi ini tidak sering terjadi, walaupun patut diwaspadai apabila ada nanah atau darah yang keluar dari telinga yang menunjukkan bahwa kondisinya sudah parah. 

4. Gendang telinga pecah

Gendang telinga merupakan membran tipis yang bergetar saat terkena suara, kemudian menyalurkan getaran tersebut menjadi sinyal yang dipahami oleh otak. 

Apabila gendang telinga pecah, sudah pasti pendengaranmu akan terdampak. Biasanya kondisi ini terjadi setelah adanya tekanan atau trauma ke gendang telinga, misalnya pukulan ke bagian telinga, ledakan kembang api, jatuh ke air, atau terkena objek tajam di telinga.

Kondisi ini jarang terjadi, namun membutuhkan penanganan medis segera jika mengalaminya. Gejala yang bisa terjadi adalah nyeri liang telinga, berdenging, vertigo, kehilangan pendengaran, dan juga cairan yang keluar dari telinga. Umumnya cairan yang keluar beragam, bisa berbentuk darah, nanah, atau cairan bening.

5. Cholesteatoma

Cholesteatoma adalah jenis kista kulit atau bengkak non-cancerous yang terletak di telinga tengah dan tulang mastoid di tengkorak. Penyakit ini tergolong cacat lahir, walaupun sering terjadi sebagai komplikasi dari infeksi telinga. 

Cholesteatoma merupakan kondisi yang jarang terjadi yang langsung butuh penanganan dokter. Biasanya diiringi dengan gejala tekanan di telinga, berdenging, nyeri di salah satu liang telinga, vertigo, dan kehilangan pendengaran. 

Kondisi telinga keluar cairan tidak dapat diabaikan meskipun disebabkan oleh kondisi ringan. Sebab jika dibiarkan bisa menimbulkan beberapa komplikasi yang lambat laun bisa berdampak pada pendengaran Anda. Segera atasi atau bawa ke dokter untuk penanganan lebih lanjut dan sebaiknya jangan melakukan diagnosis sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *